Hari Ini Kelahiran Wiji Thukul ke-59, Hilang Tak Tentu Rimba, Penulis Puisi Para Jenderal Marah-marah

Wiji Thukul. Dok TEMPO/ Rully Kesuma

TEMPO.CO, Jakarta - Pada 26 Agustus diperingati sebagai hari kelahiran ke-59 Wiji Thukul. Pria bernama asli Widji Widodo ini merupakan salah satu tokoh aktivis sekaligus sastrawan yang ikut melawan penindasan rezim Orde Baru. Namun sejak tahun 1998 sampai sekarang, dirinya tak muncul lagi karena dinyatakan hilang.

Siapa Wiji Thukul?

Melansir ensiklopedia.kemdikbud.go.id, Wiji berasal dari kampung Buruh Sorogenen, Solo. Setelah tamat SMP pada 1971, ia sempat melanjutkan pendidikannya di Jurusan Tari Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI), namun terputus sampai kelas 11 karena drop out di tahun 1982. Alasannya hanya satu, yaitu ingin bekerja demi menafkahi adik-adiknya yang masih kecil untuk lanjut sekolah.

Pasalnya, Thukul yang merupakan anak pertama dari tiga bersaudara memang lahir di dari keluarga Katolik dengan keadaan ekonomi sederhana. Di Solo, ayahnya memiliki pekerjaan sebagai tukang becak, sedangkan ibunya terkadang menjual ayam bumbu untuk membantu perekonomian keluarga.

Oleh karenanya, Thukul perlu membantu mereka dengan pekerjaannya yang terbilang serabutan. Pekerjaan utamanya ialah sebagai loper koran. Lalu pernah juga menjadi tukang calo karcis bioskop, sampai menjadi tukang pelitur furnitur di perusahaan mebel. Ketika bekerja sebagai tukang pelitur itu, sesekali ia sering mendeklamasikan puisinya untuk teman kerjanya.

Bakat menulis dan puisinya sudah lahir sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar, meskipun dikenal cadel. Hubungannya dengan puisi diperkuat ketika ia ikut dalam sebuah kelompok teater, yaitu Teater Jagalan Tengah (Jagat). Bersama dengan rekan-rekannya ia mulai mengamen puisi dengan diriingasi alat musik rebana, gong, suling, kentongan, gitar, dan sebagainya.

Kemudian di tahun 1988, Thukul sempat bekerja menjadi wartawan Masa Kini. Meskipun hanya tiga bulan merasakan pekerjaan tersebut, namun ia telah melahirkan banyak sajak baik dalam maupun luar negeri.

Beberapa sajak terkenalnya dipublikasi dalam media cetak, di antaranya dalam Suara Pembaharuan, Bernas, Surabaya Post, Merdeka, Inside Indonesia (Australia), Tanah Air (Belanda). Selain itu ada pun sajaknya bertebaran di pers mahasiswa, seperti Pijar (Universitas Gadjah Mada) dan Keadilan (Universitas Islam Indonesia).

Lalu ada dua kumpulan sajaknya berjudul Puisi Pelo dan Darman dan Lain-Lain, diterbitkan di Taman Budaya Surakarta. Karir berpuisinya semakin cerah, ia sampai diundang membaca puisi oleh Goethe Institut di aula Kedutaan Besar Jerman di Jakarta pada rahun 1989.

Pada tahun 1991, ia membawakan puisi di Pasar Malam Puisi yang diselenggarakan Erasmus Huis, Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta. Di tahun yang sama, Thukul bersama dengan W.S. Rendra menerima Wertheim Encourage Award yang diberikan oleh Wertheim Stichting di Belanda.

Suara Thukul kian lebih lantang dan membuatnya ikut bersama masyarakat sekampungnya, di sekitar pabrik tekstil PT Sariwarna Asli, untuk memprotes pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh pabrik tekstil itu.

Adapun puisinya berjudul Aku Ingin Jadi Peluru. Dalam puisi ini, ia sukses menemukan kata yang tepat untuk mewakili symbol perlawan terhadap rezim otoritarianisme. Tepatnya pada bait terakhir yang terdapat kalimat pendek berbunyi; "Hanya ada satu kata, 'Lawan!'"

Karena suaranya yang lantang, pejuang revolusioner ini dikambing hitamkan sebagai provokator negara. Terutama di masa 1996 hingga 1998, banyak aktivis yang ditangkap atau diculik.

Akibatnya, sejak 1996, ia mulai hidup nomaden dari satu daerah ke daerah lainnya. Namun hal tersebut tak melunturkan semangatnya untuk menulis. Salah satu puisi pro-demokrasi yang dibuatnya saat masa genting ialah berjudul Para Jenderal Marah-Marah.

Sayangnya, hingga saat ini tubuhnya entah ke mana. Ia dinyatakan hilang semenjak istrinya melaporkan Thukul pada Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan atau KontraS. Wiji Thukul pergi meninggalkan istrinya yang saat itu berprofesi sebagai buruh, serta anaknya bernama Fitri Nganthi Wani dan anak kedua mereka bernama Fajar Merah.

FATHUR RACHMAN 

Baca: Hari ini Kelahiran Wiji Thukul, Tonton Film Biopiknya: Istirahatlah Kata-kata

Ikuti berita terkini dari Tempo di Google News, klik di sini.






Tok! Gibran Tetapkan Upah Minimum Kota Solo 2023 Naik 6,8 Persen

34 menit lalu

Tok! Gibran Tetapkan Upah Minimum Kota Solo 2023 Naik 6,8 Persen

Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka menetapkan upah minimum kota (UMK) Solo tahun 2023 senilai Rp 2.174.000.


Sindir Pemerintah, Aliansi Nasional Reformasi KUHP Luncurkan 'RKUHP: Panduan Mudah #TibaTibaDiPENJARA'

19 jam lalu

Sindir Pemerintah, Aliansi Nasional Reformasi KUHP Luncurkan 'RKUHP: Panduan Mudah #TibaTibaDiPENJARA'

Aliansi Nasional Reformasi KUHP kecewa terhadap pemerintah dan DPR, mereka menolak 48 pasal di RKUHP yang dinilai bermasalah.


Aktivis Valencia Mieke Randa Pilih Air Minum dengan Kemasan Galon yang Aman

1 hari lalu

Aktivis Valencia Mieke Randa Pilih Air Minum dengan Kemasan Galon yang Aman

Demi kesehatan keluarga, para ibu pasti sangat berharap air mineral galon yang dikonsumsi terjamin sterilitasnya


PT KAI Promosikan KA Batara Kresna: Solusi Transportasi Murah dan Anti Macet

2 hari lalu

PT KAI Promosikan KA Batara Kresna: Solusi Transportasi Murah dan Anti Macet

PT KAI Daop 6 Yogyakarta menyosialisasikan kembali pengoperasian Kereta Api (KA) Batara Kresna yang melayani rute khusus Solo ke Wonogiri.


Gibran Dapat Laporan di Solo Ada Aksi Klitih, Polisi: Aduan Itu Hanya Repost

2 hari lalu

Gibran Dapat Laporan di Solo Ada Aksi Klitih, Polisi: Aduan Itu Hanya Repost

Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka menjawab cuitan warganet yang menyebut soal aksi klitih. Polisi sudah mencari tapi tidak ada aksi tersebut.


Akui Sudah Kantongi Angka Usulan UMK Solo 2023, Gibran: Kita Ingin Win-Win Solution

3 hari lalu

Akui Sudah Kantongi Angka Usulan UMK Solo 2023, Gibran: Kita Ingin Win-Win Solution

Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka mengatakan angka-angka UMK Solo mengacu pada regulasi yang ada.


Beri Bonus Rp 309 Miliar, Ini Pesan Presiden Jokowi untuk Atlet ASEAN Para Games 2022

4 hari lalu

Beri Bonus Rp 309 Miliar, Ini Pesan Presiden Jokowi untuk Atlet ASEAN Para Games 2022

Presiden Jokowi memberikan total bonus Rp 309 miliar kepada atlet ASEAN Para Games 2022 yang meraih medali.


Penyair dan Pelopor Puisi Sonian, Soni Farid Maulana Wafat

4 hari lalu

Penyair dan Pelopor Puisi Sonian, Soni Farid Maulana Wafat

Pada 14 November 2022, Soni Farid Maulana menerima penghargaan Anugerah Budaya dari Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.


Baznas Solo Himpun Dana Bantuan untuk Korban Terdampak Gempa di Cianjur

6 hari lalu

Baznas Solo Himpun Dana Bantuan untuk Korban Terdampak Gempa di Cianjur

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Solo mengumpulkan dan menyalurkan sejumlah bantuan untuk korban terdampak gempa Cianjur.


Imbauan Mendagri Soal Bantuan Dana untuk Korban Gempa Cianjur, Gibran: Solo Siap

8 hari lalu

Imbauan Mendagri Soal Bantuan Dana untuk Korban Gempa Cianjur, Gibran: Solo Siap

Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, menyatakan besaran dana bantuan dimungkinkan bisa lebih besar dari imbauan Mendagri.