70 Tahun Orhan Pamuk, Sastrawan Turki Peraih Nobel Sastra dan Kontroversinya

Reporter

Tempo.co

Selasa, 7 Juni 2022 20:20 WIB

Orhan Pamuk. REUTERS

TEMPO.CO, Jakarta - Hari ini, 7 Juni 1952 merupakan hari kelahiran Orhan Pamuk , penulis dari Turki. Pamuk terkenal karena karya-karyanya yang menyelidiki identitas dan sejarah Turki. Dia dianugerahi Hadiah Nobel untuk Sastra pada 2006.

Orhan Pamuk dibesarkan dalam keluarga kaya dan berorientasi Barat. Dia kuliah di Robert College, sebuah sekolah Amerika di Istanbul, dan melanjutkan studi arsitektur di Universitas Teknik Istanbul. Setelah tiga tahun, pada 1977 ia lulus dari Universitas Istanbul dengan gelar di bidang jurnalisme. Pamuk kemudian mengabdikan dirinya penuh waktu untuk menulis. Dari 1985 hingga 1988 ia tinggal di Amerika Serikat dan menjadi sarjana tamu di Universitas Columbia di New York dan Universitas Iowa, seperti dikutip dari laman Britannica.

Pamuk mulai menulis dengan serius pada 1974. Delapan tahun kemudian, pada 1982 ia menerbitkan novel pertamanya, Cevdet Bey ve oÄŸulları (“Cevdet Bey and His Sons”. Buku ini bercerita tentang sebuah sejarah besar keluarga Istanbul selama dan setelah berdirinya republik Turki. Pamut kembali menerbitkan buku lanjutannya pada 1983. Buku itu berjudul Sessiz ev atau Silent House, berkisah tentang pertemuan keluarga pada malam kudeta militer Turki pada 1980.

Orhan Pamuk dikenal secara internasional lewat bukunya Beyaz kale atau The White Castle pada 1985. Novel ketiganya itu mengeksplorasi sifat identitas melalui kisah seorang pemuda Italia terpelajar yang ditangkap dan dijadikan budak oleh seorang sarjana di Istanbul abad ke-17. Novel-novel berikutnya, yang diterjemahkan secara luas, termasuk Kara kitap atau The Black Book (1990), buku tentang penggambaran Istanbul yang padat, dan misteri Yeni Hayat dalam The New Life (1996) dan My Name Is Red (1998).

Karya Sastra Orhan Pamuk

Pada 2002, Pamuk menelurkan buku berjudul Kar atau Snow, mengisahkan seorang penyair Turki yang tinggal di pengasingan di Jerman. Penyair itu menghadapi ketegangan antara Timur dan Barat ketika ia melakukan perjalanan ke sebuah kota miskin di daerah terpencil di Turki. Snow menerima Le Prix Médicis étranger, penghargaan untuk novel asing terbaik di Prancis pada 2005, tahun di mana Pamuk juga menerima The Peace Prize. Pada September 2006, Snow kembali memenangkan Le Prix Méditerranée étranger.

Pada 2004 dia melahirkan karya tentang memoar fiksi berjudul Istanbul: hatıralar ve ehir atau Istanbul: Memories and the City. Pada 2006, Pamuk menerima Hadiah Nobel Sastra, menjadi orang termuda kedua yang menerima penghargaan dalam sejarahnya. Kemudian pada 2008, Pamuk juga menerbitkan buku berjudul Masumiyet müzesi atau The Museum of Innocence. Novel ini mengisahkan penyelidikan hubungan antara pria yang lebih tua dan sepupu keduanya.

Pria itu digagalkan dalam usahanya untuk menikahi sepupunya, dan mulai mengumpulkan benda-benda yang telah disentuhnya. Pamuk bahkan mereplikasi museum tituler dalam kenyataan, menggunakan sebuah rumah di Istanbul untuk menampilkan berbagai barang yang dikumpulkan saat merencanakan cerita. Museum itu dibuka untuk umum pada 2012, disertai dengan katalog eylerin masumiyeti atau The Innocence of Objects. Pada 2014, tersebut menerima Penghargaan Museum Eropa Tahun Ini (EMYA) yang diberikan oleh Forum Museum Eropa di Tallinn, Estonia.

Pada 2010, Orhan Pamuk menerbitkan The Naive and Sentimental Novelist, di mana ia menjelaskan teorinya tentang novel sebagai bentuk sastra. Dia juga menulis buku tentang kisah cinta berlatar Istanbul, buku itu berjudul Strangeness in My Mind yang terbit pada 2014. Buku ini mendapatkan penghargaan AydŸan Foundation Award dan Erdal z Literary Prize pada 2015, serta Penghargaan Sastra Yasnaya Polyana (dari Museum dan Estate of Leo Tolstoy) untuk kategori “Sastra Asing” pada 2016.

Di 2014, selain mendapatkan Penghargaan Museum Eropa Tahun Ini (EMYA) untuk museum The Innocence of Objects, Pamuk juga menerima Helena Vaz Da Silva European Award, sebuah penghargaan yang “mengakui kontribusi luar biasa untuk komunikasi tentang warisan budaya dan cita-cita Eropa”. Pada 2016, ia kembali menelurkan karya berjudul Wanita Berambut Merah.

Novel itu berkisah tentang hubungan keluarga yang terbentuk antara penggali sumur dan muridnya. Pada 2019, Pamuk menerbitkan buku berjudul “Balkon”, sebuah kumpulan foto yang diambil dari balkon rumahnya. Di tahun itu, Orhan Pamuk menerima dengan novelnya A Strangeness in my Mind.

Mengutip laman orhanpamuk.net, buku-buku Orhan Pamuk telah diterjemahkan ke dalam 63 bahasa, termasuk Georgia, Malaya, Ceko, Denmark, Jepang, Catalan, serta Inggris, Jerman, dan Prancis. Pamuk telah dianugerahi The Peace Prize, yang dianggap sebagai penghargaan paling bergengsi di Jerman dalam bidang budaya, pada 2005. Selain itu, banyak penghargaan lainnya yang diperoleh Pamuk.

Pamuk dianugerahi Penghargaan Richarda Huck, yang diberikan setiap tiga tahun sejak 1978 kepada orang-orang yang “berpikir mandiri dan bertindak dengan berani”. Pada tahun yang sama, ia dinobatkan sebagai salah satu dari 100 intelektual dunia oleh majalah Prospect. Pada 2006, majalah TIME memilihnya sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia.

Banyak novel Pamuk, sering kali otobiografi dan plot yang rumit, menunjukkan pemahaman tentang budaya Islam tradisional Turki yang ditempa oleh keyakinan bahwa masa depan Turki terletak di Barat. Tapi Pamuk menuai kritik dari beberapa orang di Turki karena menganjurkan integrasi negara itu ke Eropa dan aksesinya ke Uni Eropa.

Pada 2005, enam nasionalis Turki melaporkan Pamuk atas dakwaan “merendahkan orang Turki”. Pasalnya, dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Swiss, Pamuk mengulangi klaim bahwa orang Turki telah dengan sengaja membunuh satu juta orang Armenia pada 1915 dan 30 ribu orang Kurdi. Pamuk diadili di Turki pada Desember 2005.

Tuduhan itu rupanya menghasilkan kontroversi internasional, yang kemudian dibatalkan. Namun, pada 2009 pengadilan Turki mengizinkan kasus tersebut untuk dilanjutkan, dan pada 2011 Orhan Pamuk diperintahkan untuk memberikan kompensasi kepada enam penggugat.

HENDRIK KHOIRUL MUHID 

Baca: Orhan Pamuk Peraih Nobel Sastra Asal Turki, Sastrawan yang Jurnalis

Ikuti berita terkini dari Tempo di Google News, klik di sini.






Novel Bidadari Bermata Bening akan Diproduksi Jadi Viu Original

13 jam lalu

Novel Bidadari Bermata Bening akan Diproduksi Jadi Viu Original

Viu dan Habiburrahman El Shirazy sepakat memproduksi adaptasi Bidadari Bermata Bening untuk ditambahkan ke daftar Viu Original dari Asia.


Jelang KTT NATO, Turki Cabut Hak Veto terhadap Finlandia dan Swedia

14 jam lalu

Jelang KTT NATO, Turki Cabut Hak Veto terhadap Finlandia dan Swedia

Tuntutan utama Turki, yang mengejutkan sekutu NATO pada akhir Mei, adalah agar Finlandia dan Swedia berhenti mendukung kelompok milisi Kurdi


Kick Off MUSIAD Expo 2022, Dubes Turki Kunjungi Sarinah Trading House

1 hari lalu

Kick Off MUSIAD Expo 2022, Dubes Turki Kunjungi Sarinah Trading House

MUSIAD Expo 2022 akan diselenggarakan pada 2 - 5 November 2022 di Istanbul mendatang.


Polisi Turki Menahan 200 Orang Lebih dalam Pawai LGBT di Istanbul

1 hari lalu

Polisi Turki Menahan 200 Orang Lebih dalam Pawai LGBT di Istanbul

Polisi Turki pada Minggu, 26 Juni 2022, membubarkan pawai LGBT yang dilarang di Istanbul. Ada lebih dari 200 demonstran dan fotografer AFP ditahan.


Hari Ini di Tahun 2000, Pramoedya Ananta Toer Menerima Penghargaan Fukuoka

3 hari lalu

Hari Ini di Tahun 2000, Pramoedya Ananta Toer Menerima Penghargaan Fukuoka

Pramoedya Ananta Toer menerima penghargaan utama Fukuoka yang diberikan ke tokoh-tokoh Asia yang berkontribusi bidang akademis, seni, dan budaya.


Profil Nagari Sungai Batang, Desa Wisata Tempat Kelahiran Buya Hamka

5 hari lalu

Profil Nagari Sungai Batang, Desa Wisata Tempat Kelahiran Buya Hamka

Melacong ke Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kampung halaman tokoh agama, budayawan dan politisi Buya Hamka. Ini yang didapat.


Upaya Pembunuhan Warga Israel oleh Iran Gagal, Yair Lapid Puji Turki

5 hari lalu

Upaya Pembunuhan Warga Israel oleh Iran Gagal, Yair Lapid Puji Turki

Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid berterima kasih kepada Turki karena membantu menggagalkan rencana Iran membunuh warga Israel di Istanbul.


Keanggotaan Finlandia dan Swedia Terhalang Turki, Jens Stoltenberg Inginkan Dialog

6 hari lalu

Keanggotaan Finlandia dan Swedia Terhalang Turki, Jens Stoltenberg Inginkan Dialog

Jens Stoltenberg mengaku pihaknya sedang mencari jalan agar Finlandia dan Swedia bisa segera menjadi negara anggota NATO.


Sri Mulyani Beberkan Risiko yang Menghantui Perekonomian Global

6 hari lalu

Sri Mulyani Beberkan Risiko yang Menghantui Perekonomian Global

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan telah muncul krisis keuangan yang mengancam proses pemulihan ekonomi dunia. Turki dan Argentina adalah dua negara yang termasuk dalaam krisis keuangan tersebut.


Turki Sambut Kunjungan Putra Mahkota Arab Saudi, Pertama Sejak Pembunuhan Khashoggi

6 hari lalu

Turki Sambut Kunjungan Putra Mahkota Arab Saudi, Pertama Sejak Pembunuhan Khashoggi

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman tiba di Turki untuk pertama kalinya pada Rabu lalu, pertama sejak pembunuhan Khashoggi pada 2018