Kesan Pemeran Sukarno, Soeharto dan DN Aidit di Film Pengkhianatan G30S/PKI

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah warga menonton film penumpasan pengkhianatan G30S/PKI di markas Kodim 1304 Gorontalo, Gorontalo (20/9). Pemutaran film itu bertujuan untuk memberikan informasi dan pembelajaran kepada masyarakat agar mengenal sejarah bangsa. ANTARA FOTO

    Sejumlah warga menonton film penumpasan pengkhianatan G30S/PKI di markas Kodim 1304 Gorontalo, Gorontalo (20/9). Pemutaran film itu bertujuan untuk memberikan informasi dan pembelajaran kepada masyarakat agar mengenal sejarah bangsa. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Memasuki pengujung September, masyarakat selalu diingatkan dengan tragedi Gerakan 30 September atau G30S. Kejadian yang membekas itu dibuat dalam bentuk film pada 1984

    Pada masa pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto, pemutaran film Pengkhianatan G30S/PKI selalu ditayangkan di Televisi Republik Indonesia atau TVRI. Bahkan sejak pertama kali dirilis 1984, film ini saat itu wajib ditonton oleh seluruh lapisan masyarakat.

    Film Pengkhianatan G30S/PKI ini digarap sutradara Arifin C Noer. Film ini diproduksi oleh Produksi Film Nasional (PFN) dan dipimpin oleh Brigadir Jenderal Gufron Dwipayana, yang memiliki kedekatan langsung dengan Presiden Soeharto. Film ini diperankan oleh beberapa aktor hingga sastrawan seperti Umar Kayam hingga Amoroso Katamsi.

    Umar Kayam.
    Pria kelahiran Ngawi, 30 April 1932 ini mendapatkan peran sebagai Presiden Sukarno. Ia terpilih setelah proses seleksi gagal menemukan Soekarno di antara sekian banyak orang. Ketika didatangi sutradara Arifin C. Noer, Kayam tak bisa mengelak.

    Umar yang juga menjadi dosen Sosiolog di Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mengaku tidak sempat mempelajari karakteristik Bung Karno. Hal ini dikarenakan ia tidak pernah melihat film dokumenter Sukarno dan tidak pernah membaca tulisannya. Dari para pelayan di Istana Bogor, Kayam meriset sosok Bung Karno. Cara Bung Karno berjalan dan berbicara.

    Amoroso Katamsi.
    Pria kelahiran Jakarta, 21 oktober 1940 ini mendapatkan jatah untuk memerankan Mayor Jenderal Soharto. Untuk memerankan Soeharto, Amoroso mempelajari tulisan maupun mengamatinya. Ia bangga bisa memerankan tokoh sentral di film ini. Namun, ia mengalami kesulitan. “Gejolak emosional Pak Harto hampir-hampir tidak tampak,” ujar Amoroso dalam artikel Pengkhianatan Bersejarah dan Berdarah di Majalah Tempo edisi 7 April 1984.

    Amoroso juga terganggu dengan pergumulan pertanyaan-pertanyaan di dirinya sendiri. "Apakah permainan saya sudah tepat?" Toh, pada akhirnya, Amoroso yang terimpit ragu dapat juga berkata, "Ketika berhadapan dengan kamera, saya merasa sebagai Pak Harto, bukan imitasi Pak Harto," ujarnya.

    Syu’bah Asa bin Sanusi.
    Sosok DN Aidit yang kerap merokok dan tampak selalu terlihat tegang ini diperankan wartawan Tempo, Syu’bah Asa. Untuk memerankan Aidit, Syu’bah mengobrol semalam suntuk dengan seseorang yang dirahasiakan identitasnya. Ia asyik menggali dan meniru kelakuan sang Ketua PKI semalaman. Kendati demikian, Syu’bah merasa aktingnya sebagai DN Aidit kurang meyakinkan.

    Wawan Wanisar.
    Film Pengkhianatan G30S/PKI merupakan debut awal Wawan Wanisar menjadi seorang aktor. Ketika itu ia memerankan seorang ajudan A.H Nasution, Pierre Tandean. Ia memerankan tokoh tersebut karena memiliki perawakan dan paras yang mirip dengan Pierre Tandean. Sebelumnya untuk peran Pierre Tandean pernah dicoba oleh Rano Karno. Namun, ia tidak terpilih lantaran memiliki tahi lalat di wajahnya.

    GERIN RIO PRANATA 

    Baca: Film Pengkhianatan G30S/PKI Adu Akting Amoroso Katamsi, Umar Kayam, Syu'bah Asa

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kereta Cepat Jakarta - Bandung: Sembilan Tahun Perjalanan hingga Bengkak Biaya

    Proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung jadi pembicaraan publik karena muncul cost overrun. Jokowi lantas meneken Perpres untuk mendukung proyek itu.