Kho Ping Hoo Maestro Cerita Silat Karyanya Dibaca 3 Presiden RI

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kho Ping Hoo. wikipedia.org

    Kho Ping Hoo. wikipedia.org

    TEMPO.CO, Jakarta - Asmaraman Sukowati atau populer Kho Ping Hoo merupakan salah satu legenda dalam penulisan cerita silat atau cersil di Indonesia. Kho Ping Hoo dilahirkan di Sragen pada 17 Agustus 1726.

    Selama 30 tahun aktif dalam penulisan cersil, ia berhasil menerbitkan sekitar 148 judul cerita silat. Ia menulis cerita-cerita tersebut berlatar belakang Tiongkok. Namun, uniknya ia tidak bisa membaca dan menulis Mandarin, bahkan belum penah berkunjung ke Cina. Kho Ping Hoo mendapatkan inspirasi ceritanya dari film-film silat Hong Kong dan Taiwan.

    Setidaknya tiga Presiden RI pernah mengakui turut membaca karya-karyanya, yaitu B.J. Habibie, Gus Dur, dan Joko Widodo atau Jokowi. "Dulu yang saya baca kalau komik ya Gundala Putra Petir. Kemudian Kho Ping Hoo," kata Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada 17 Mei 2017.

    Kho Ping Hoo sempat bekerja sebagai juru tulis di sebuah perusahaan angkutan bernama TSH di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada zaman pendudukan Jepang. Dia menjalani pekerjaannya di perusahaan angkutan tersebut selama 12 tahun sambil sesekali menulis cerita pendek. 

    Di Solo, Kho Ping Hoo mendirikan CV Gema yang kemudian menerbitkan karya-karyanya. Beberapa cerita silat karangannya yang populer antara lain Bu Kek Siansu, Pedang Kayu Harum, Pendekar Super Sakti, Badai Laut Selatan, Iblis dan Bidadari, Darah Mengalir di Borobudur, Keris Pusaka Nogopasung, Alap-alap Laut Kidul dan Bagus Sujiwo.

    Dalam perkembangan karya fiksi Indonesia, cerita-cerita silat yang ditulis  Kho Ping Hoo mempunyai arti penting dan menunjukkan eksistensi masyarakat Tionghoa. Sepanjang hayatnya, Kho Ping Hoo berhasil menerbitkan 13 serial novel dan menciptakan banyak tokoh fiksi yang bagi sebagian masyarakat masih membekas dalam ingatan, karena telah membaca berjilid-jiliod karyanya. Kho Ping Hoo meninggal di Surakarta pada 22 Juli 1994 karena serangan jantung.

    EIBEN HEIZIER I SDA

    Baca: Saat Ma'ruf Amin Ungkap Hobinya Baca Cerita Silat Kho Ping Hoo


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kereta Cepat Jakarta - Bandung: Sembilan Tahun Perjalanan hingga Bengkak Biaya

    Proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung jadi pembicaraan publik karena muncul cost overrun. Jokowi lantas meneken Perpres untuk mendukung proyek itu.