Goenawan Mohamad Buka-bukaan Catatan Pinggir di Majalah Tempo

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Goenawan Mohamad sesaat sebelum acara CERAMAH UMUM, Memahami Pertarungan Politik Kebudayaan Seputar '65 di Teater Utan Kayu, Jakarta Timur. 28 September 2017. Maria Fransisca.

    Goenawan Mohamad sesaat sebelum acara CERAMAH UMUM, Memahami Pertarungan Politik Kebudayaan Seputar '65 di Teater Utan Kayu, Jakarta Timur. 28 September 2017. Maria Fransisca.

    TEMPO.CO, Jakarta - Majalah Tempo mengadakan siaran langsung melalui akun Instagram @majalah.tempo bersama wartawan senior Goenawan Mohamad. Acara bertajuk “Malam Mingguan Goenawan Mohamad, Buka-Bukaan Catatan Pinggir” ini dipandu Redaktur Eksekutif Majalah Tempo Bagja Hidayat pada Sabtu malam, 7 Agustus 2021.

    Catatan Pinggir atau Caping merupakan salah satu rubrik di Majalah Tempo yang ditulis GM, begitu Goenawan Mohamad kerap disebut. Caping hadir di ruang baca pelanggan Majalah Tempo sejak awal terbitnya majalah ini pada 1970 dan terus bertahan hingga saat ini. “Kalau dihitung-hitung usia Catatan Pinggir itu sudah hampir 50 tahun, karena usia Tempo sekarang sudah 50 tahun,” kata Bagja mengawali siaran langsung.

    Selama menulis Caping, GM pernah mengirim reportase lewat pesan singkat ketika liputan di suatu wilayah di Eropa yang belum ada Internetnya. “SMS paling panjang, 120 karakter,” kata Bagja menceritakan pengalamannya meneima pesan dari GM. Hal tersebut, menurut Bagja, sebagai bukti bahwa di mana dan kapan pun pendiri Tempo ini tetap menulis untuk rubrik Caping. “Bahkan kemarin waktu Mas Goenawan Mohamad masuk RSCM, waktu saya tanya kabar, jawabnya lagi nulis Caping,” katanya lagi.

    Dalam sesi tanya jawab yang disiarkan secara langsung tersebut, Goenawan Mohamad mengungkapkan keresahannya terkait gaya penulisan berita yang wartawan maupun media gunakan saat ini. Menurutnya, diksi yang digunakan dalam menulis berita terkesan membekukan dan masih terpengaruh dengan bahasa birokrasi.

    Kesan yang membekukan itu, Goenawan Mohamad mencontohkan seperti kalimat yang bertele-tele dan klise. “Misalnya, kata penurunan dan kenaikan, itu kata yang membekukan, kan bisa cukup turun atau naik,” kata sastrawan yang baru berulang tahun ke-80 pada 29 Juli lalu ini.

    Menurutnya, hal tersebut menjadikan kata kerja diubah kata benda sehingga kalimat yang disampaikan terkesan beku. Goenawan Mohamad juga mengkritik penulis yang yang bertele-tele, seperti menambahkan kata “melakukan” pada kata kerja. “Kata kerja ditambah kata melakukan, itu bertele-tele dan klise,” katanya.

    GM mengatakan, dulu ia melarang wartawan Tempo menulis berita dengan kalimat “dalam rangka”, karena menurutnya kalimat tersebut merupakan kata-kata klise yang sering digunakan oleh pejabat. Kalimat tersebut merupakan bahasa birokrasi yang sudah distandarkan sehingga mematikan ide-ide atau inovasi dalam menulis.

    “Kata pejabat banget itu, dan umumnya kata pejabat itu klise. Hindarilah kalau mau menulis bagus, jangan jadi pejabat kalau mau menulis bagus,” kata Gunawan Mohamad.

    Bagja pun menanggapi sentilan Goenawan Mohamad dengan mempertanyakan apakah kalimat birokrasi tersebut merupakan pengaruh dari politik bahasa di era Orde Baru. “Apakah ini pengaruh politik bahasa Orde Baru selama 30 tahun?” kata Bagja.

    Goenawan Mohamad membenarkan pertanyaan Bagja, ia berpendapat bahwa Orde Baru merupakan orde birokratif otoriter atau otoriter melalui birokrasi. Di masa birokrasi Orde Baru, penggunaan subjek dalam kalimat tidak boleh aktif dan harus pasif. “Contoh, dulu kalimat ‘Saya pergi ke Surabaya’, itu dulu gaya bahasanya jadi ‘Saya akan melakukan kepergian ke Surabaya',” ujar GM, menekankan kata kepergian sebagai subjek aktif yang dipasifkan.

    ia juga menyebutkan gaya penulisan dengan menyelipkan akronim pada kalimat merupakan warisan birokrasi rezim orde baru. Di zaman pers belum sebebas sekarang, wartawan berhati-hati sekali menggunakan kalimat. Akronim dalam berita, menurut Goenawan Mohamad, menyontek dari militer. “Tentara kan kalau mengirim telegraf harus singkat, jadi untuk nama-nama tertentu dibuat akronim, contohnya Polsek (kepanjangan dari Kepolisian Sektor),” katanya.

    Daripada membuat akronim yang belum tentu baku, Goenawan Mohamad sebagai lebih memilih menggunakan singkatan, seperti Depdikbud atau Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Tempo akan menyingkatnya menjadi DPB saja. “Menulis nama dengan akronim tujuannya untuk mempersingkat tapi itu membekukan kalimat. Dulu ada wartawan yang menyingkat kata eyes catching menjadi taicing, tapi wartawan itu lupa menjelaskan, sehingga pembaca mengira itu diambil dari Bahasa Cina,” ujarnya.

    Bagja berpendapat bahwa penulisan Caping saat ini lebih banyak menuangkan pemikiran namun reportasenya tidak sekaya dulu. Bagja pun menanyakan, antara Caping yang sekarang dengan dahulu, Goenawan Mohamad pilih yang mana. “Saya setuju, kalau Catatan Pinggir dulu itu kaya reportase. Saya lebih suka yang dulu,” katanya.

    GM pun berharap akan ada penggantinya untuk melanjutkan rubrik Caping. Kendati begitu, ia tidak memaksakan rubrik tersebut tetap dilanjutkan atau tidak. Menurutnya, semua tergantung pada keredaksian Majalah Tempo. “Mau dilanjutkan atau diganti itu sudah wewenang keredaksian,” kata Gunawan Mohamad.

    Di akhir sesi, Bagja mengusulkan agar Goenawan Mohamad lebih sering melakukan siaran langsung via Instagram bersama Tempo. “Mungkin nanti temanya, bagaimana seorang Goenawan Mohamad membaca buku,” kata Bagja. GM pun tidak keberatan, ia berseloroh bahwa caranya membaca buku tidak jauh berbeda dengan orang lain. “Cara saya membaca ya sama, dari kiri ke kanan,” katanya sembari tertawa.

    HENDRIK KHOIRUL MUHID 

    Baca: Buku-buku Karya Goenawan Mohamad tentang Politik, Filosofi dan Sastra


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kereta Cepat Jakarta - Bandung: Sembilan Tahun Perjalanan hingga Bengkak Biaya

    Proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung jadi pembicaraan publik karena muncul cost overrun. Jokowi lantas meneken Perpres untuk mendukung proyek itu.