Karya W.S. Rendra Diterjemahkan dalam Banyak Bahasa Termasuk Jepang dan India

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/ Cheppy A. Muchlis

    TEMPO/ Cheppy A. Muchlis

    TEMPO.CO, Jakarta - Budayawan Willibordus Surendra Broto atau W.S. Rendra lahir di Surakarta pada 7 November 1935, dan mengembuskan napas terakhirnya 6 Agustus 2009. Rendra sudah piawai menulis cerita pendek, puisi, dan drama ketika masih duduk di bangku SMP. Ia juga sudah piawai di atas panggung drama. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung.

    Ia mementaskan beberapa dramanya. Sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat, W.S. Rendra sangat berbakat. Rendra yang juga terkenal dengan puisi-puisinya, mulai memplubikasikannya di media-media massa pada 1952 di Majalah Siasat.

    Menukil kanal badanbahasa.kemdikbud.go.id, Pada 1954 ia memperdalam pengetahuannya dalam bidang drama dan tari di Amerika. Ia mendapat beasiswa dari American Academy of Dramatical Art (AADA). Ia juga mengikuti seminar kesusastraan di Universitas Harvard atas undangan pemerintah setempat

    Sepulangnya dari Amerika, Rendra juga membentuk Bengkel Teater pada 1967 di Yogyakarta dan melahirkan banyak seniman-seniman hebat di dalamnya. Bengkel Teater sempat kocar-kacir akibat tekanan politik di Indonesia, dan akhirnya ia memindahkannya di Depok, Oktober 1985.

    Prof A. Teeuw, dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern W.S. Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an.

    Dari karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan berkarya. Karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Bahkan karya si Burung Merak ini sudah diterjemahkan kedalam berbaga bahasa seperti, Bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, dan India.

    Berdasarkan ensiklopedia.kemdikbud.go.id, Umar Kayam dalam Edi Haryono (2000) mengisahkan perkenalannya pertama kali dengan Rendra ketika mementaskan drama satu babak karangan Robert Middelmans yang disadur Sitor Situmorang dengan judul "Hanya Satu Kali" dan Rendra bermain cemerlang sebagai pemeran utama drama itu.

    Umar Kayam menutup kesannya tentang Rendra: Rendra tumbuh sebagai aktor dan sutradara di Yogya. Kemudian ke Yale Actor Studio, dan melakukan pengamatan-pengamatan yang intens di Broadway dan off Broadway. Waktu ia pulang dan mulai tampil dengan "Bib-Bob" yang menggemparkan itu, ternyata Rendra sudah jadi.

    Adapun beberapa karya hebat Rendra yaitu, Balada Orang-Orang Tercinta (1957), 4 Kumpulan Sajak (1961), Blues untuk Bonie (1971), Sajak-Sajak Sepatu Tua (1972), Nyanyian Orang Urakan (1985), Potret Pembangunan dalam Puisi (1983), Disebabkan oleh Angin (1993), dan Orang-Orang Rangkas Bitung (1993).

    Karya-karya W.S. Rendra dalam bentuk drama adalah Mastodon dan Burung Kondor, Selamatan Anak Cucu Sulaiman, Orang-Orang di Tikungan Jalan, Lingkaran Kapur Putih, Penambahan Reso, dan beberapa kali menerjamhkan karya-karya dari William Shakespeare.

    GERIN RIO PRANATA

    Baca: 12 Tahun Kepergian Si Burung Merak W.S. Rendra, Belajar Hidup Bukan Akting


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.