Buzzer Sebut Nussa Promosi Taliban, Ernest Prakasa: Belum Dapat Jatah Komisaris

Reporter:
Editor:

Istiqomatul Hayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Film Nussa tayang perdana di 25th Bucheon International Fantastic Film Festival atau BIFAN 2021. (Instagram/@visinemaid).

    Film Nussa tayang perdana di 25th Bucheon International Fantastic Film Festival atau BIFAN 2021. (Instagram/@visinemaid).

    TEMPO.CO, Jakarta - Film kartun anak-anak Nussa dua hari kemarin mendapat sorotan setelah penggiat media sosial, Eko Kuntadhi melabeli telah mengkampanyekan taliban dan ajaran radikalisme. Label itu disematkan hanya berdasarkan busana yang dikenakan Nussa dan Rara yakni gamis dan hijab dan tidak mencerminkan baju adat Nusantara. 

    Para pesohor yang sudah menonton film itu, tidak seperti Eko yang menolak menontonnya, ramai-ramai memberikan pembelaan terhadap film animasi panjang pertama garapan Visinema dan The Little Giantz itu. Salah satunya, sutradara Ernest Prakasa yang mencemooh balik pria yang kerap disebut buzzer itu. 

    "Belum kebagian jatah komisaris ya Mas? Semoga segera, amin!" cuit Ernest di akun Twitternya, Ahad, 20 Juni 2021 untuk membalas cuitan Eko sehari sebelumnya. Dalam cuitan Eko pada Sabtu, 19 Juni 2021 itu, ia mengunggah foto karakter Nussa dan Rara, yang sebenarnya tampak lucu dan menggemaskan. 

    Ilustrasi poster film "Nussa"/ANTARA/HO

    ADVERTISEMENT

    "Apakah ini foto anak Indonesia? Bukan. Pakaian lelaki sangat khas Taliban. Anak Afganistan. Tapi film Nussa mau dipromosikan ke seluruh dunia. Agar dunia mengira, Indonesia adalah cabang khilafah. Atau bagian dari kekuasaan Taliban. Promosi yang merusak!" cuit Eko. 

    Mantan juru bicara KPK, Febri Diansyah juga meluruskan opini yang terus digiring Eko. Ia mengkritik cara Eko menyerang film anak-anak hanya berdasarkan pakaian yang dikenakan, dan disebut Taliban.

    "Saya nonton sejumlah film-film tersebut bersama anak-anak dan saya menemukan banyak sekali pesan dan nilai-nilai positif. Isu murahan Taliban ini juga yang dulu digunakan menyerang KPK," cuitnya, kemarin. 

    Tokoh NU, Nadirsyah Hosen, atau yang biasa disebut Gus Nadirsyah pun meledek cara berpikir melabeli radikal hanya dari caranya berpakaian. "Radikal-radikul itu bukan soal pakaian. Yang pakai cadar, gamis atau celana cingkrang atau jilbab syar'i tidak lantas membuat mereka otomatis jadi radikal, Taliban, kadrun atau apapun labelnya," cuitnya kemarin.

    Sebelumnya, sutradara dan produser Visinema, Angga Sasongko mengumumkan film Nussa mendapatkan apreasi dari dunia perfilman internasional. "Puji Tuhan sudah mulai diapresiasi. Dipilih kurator untuk World Premier di Bucheon Internasional Film Festival bulan depan. Salah satu festival terbaik di Asia. Terima kasih," tulisnya sambil menunjukkan poster film Nussa dipromosikan di festival film itu. 

    Baca juga: Film Nussa Disebut Kampanyekan Taliban, Ini Balasan Keren Angga Sasongko


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti Istilah Kebijakan Pemerintah Atasi Covid-19, dari PSBB sampai PPKM

    Simak sejumlah istilah kebijakan penanganan pandemi Covid-19, mulai dari PSBB hingga PPKM, yang diciptakan pemerintah sejak 20 April 2020.