Angga Dwimas Sasongko Berbagi Tips Bikin Film Pendek Pakai Ponsel

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sutradara Angga Dwimas Sasongko. Foto: Samsung

    Sutradara Angga Dwimas Sasongko. Foto: Samsung

    TEMPO.CO, Jakarta - Sutradara Angga Dwimas Sasongko berbagi tips bikin film dengan menggunakan ponsel pintar. Ini adalah kali pertama bos rumah produksi Visinema Pictures itu syuting film memakai telepon selular.

    "Menjalani proses shooting berbekal sebuah smartphone merupakan tantangan baru yang membuat saya bersemangat," kata Angga dalam acara Samsung Galaxy Movie Studio 2021 - Peluncuran Film Pendek Konfabulasi lewat daring pada Selasa, 4 Mei 2021. Angga memproduksi film pendek berjudul Konfabulasi itu dengan menggunakan ponsel Samsung Galaxy S21 Ultra 5G.

    Selama proses pengambilan gambar, Angga Dwimas Sasongko harus memastikan setiap adegan, gambar, serta penyampaian karakter dalam film pendek memberikan hasil yang epik dan tidak kalah dari kamera profesional. Berikut tips dari Angga bagi pembuat film yang ingin berkarya dengan menggunakan ponsel pintar:

    1. Kenali fitur ponsel
    Angga Dwimas Sasongko syuting dengan menggunakan ponsel pintar sebagaimana pengambilan gambar dengan kamera ukuran besar. "Kami syuting beneran dengan adegan-adegan low angle, low light, yang sebelumnya enggak bisa dibayangkan bisa diambil dengan ponsel," katanya. Angga membidik adegan dengan menggunaakan berbagai fitur yang tersedia di kamera, misalkan zoom, bantuan pencahayaan, dan sebagainya.

    Poster film Konfabulasi. Dok. Samsung

    2. Daya baterai ponsel
    Angga Dwimas Sasongko mengingatkan pentingnya kekuatan baterai ponsel. Dengan begitu, proses syuting tidak terhenti untuk sekadar mengisi daya baterai.

    3. Siapkan beberapa ponsel jika perlu
    Angga menggunakan empat unit ponsel selama proses syuting film Konfabulasi  bersama Reza Rahadian dan Dian Sastro, ini. Ada beberapa adegan di mana dia hanya menggunakan satu ponsel, dua ponsel, sampai empat unit ponsel sekaligus.

    Contoh, dalam adegan mobil terbalik di film Konfabulasi, Angga memakai empat ponsel dalam satu waktu. Terlebih mobil yang tersedia untuk dihancurkan karena terjungkal berulang kali hanya satu unit.

    Dengan begitu, Angga harus mempersiapkan banyak angle gambar, sehingga membutuhkan beberapa ponsel. "Untuk adegan itu, saya syuting dengan empat angle polos saja," ucapnya.

    Saat itu Angga sempat khawatir karena pencahayaan begitu minimum dan sama sekali tidak menggunakan lampu syuting. "Karena aku maunya praktis," ucapnya. "Enggak ada waktu untuk menerangi semua jalan."

    Adegan film Konfabulasi. Foto: Samsung

    4. Perhatikan kestabilan
    Kunci dalam mengambil gambar bergerak, menurut Angga Dwimas Sasongko, adalah kestabilan dalam memegang kamera. "Ponsel yang saya gunakan sudah dilengkapi stabilizer. Saya bisa mengmbil gambar berputar dengan kamera yang dipegang dalam telapak tangan," katanya.

    5. Perangkat pendukung
    Angga Dwimas Sasongko menambahkan lensa pada ponsel untuk beberapa adegan supaya lebih fokus dan mendapatkan angle gambar tertentu. Begitu juga dalam proses pasca-produksi, Angga menggunakan Samsung Neo QLED 8K TV yang menunjang tampilan setiap warna dan detail dalam film.

    Angga Dwimas Sasongko mengatakan syuting film Konfabulasi memakan waktu selama tiga hari. Sementara jika menggunakan kamera besar, dia memperkirakan waktu yang diperlukan sekitar empat hari.

    Pada beberapa momentun, Angga merasakan pengambilan gambar dengan ponsel menjadi lebih praktis. Misalkan ketika harus mengambil angle gambar di dekat ban mobil. "Kalau pakai kamera film yang besar, itu harus menyiapkan peralatannya selama sekitar satu jam, pakai ponsel cukup sepuluh menit," ucapnya.

    Baca juga:
    Saksi Sidang Pembajakan Film, Angga Dwimas Sasongko: Potensi Pajak Hilang


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.