Raya and The Last Dragon, Kisah Tangguh Raya Selamatkan Kumandra

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Raya and the Last Dragon/Disney

    Raya and the Last Dragon/Disney

    TEMPO.CO, Jakarta - Walt Disney Animation Studios merilis film animasi pertama yang terinspirasi dari budaya Asia Tenggara berjudul Raya and the Last Dragon. Para penonton akan diajak untuk berpetualang bersama seorang gadis pendekar tangguh bernama Raya untuk menyatukan kembali negeri Kumandra, tempat tinggalnya.

    Awalnya, Kumandra merupakan wilayah tempat tinggal yang damai bagi manusia dan naga untuk hidup berdampingan. Namun ketika kekuatan jahat yang digambarkan dalam bentuk gumpalan hitam pekat dengan cahaya ungu datang, para naga mengorbankan hidupnya demi menyelamatkan manusia. Hanya ada satu naga yang berhasil menggunakan kekuatan sihirnya melalui batu bercahaya untuk bisa menyelamatkan manusia. Kumandra pun terbelah menjadi lima bagian karena para penduduk ingin memiliki batu dari roh naga terakhir itu.

    Kini, 500 tahun kemudian, kekuatan jahat itu kembali mengusik kedamaian Kumandra dan nasib mereka bergantung pada Raya. Raya berpetualang bersama sahabat setianya, Tuk Tuk yang merupakan setengah serangga dan armadillo yang memiliki kemampuan berguling menjadi bola sebagai alat transportasi. Meski sudah berhasil menemukan naga terakhir bernama Sisu, petualangan Raya baru saja dimulai. Selama perjalanannya ia bertemu dengan teman-teman barunya untuk bersama-sama berjuang demi mempersatukan kembali tanah Kumandra.

    Baca: Pengalaman Spesial, Via Vallen Nyanyikan Soundtrack Raya and the Last Dragon

    Tidak hanya menampilkan keseruan dan ketegangan, film ini juga menampilkan beberapa adegan kocak yang ditunjukkan oleh Sisu yang ceria, humoris, dan kocak. Meski begitu, Raya belajar tentang rasa kepercayaan dari Sisu sebagai kunci mempersatukan kembali Kumandra. Berbagai dialog tentang kepercayaan antar makhluk hidup termasuk dengan orang yang pernah berkhianat berusaha ditampilkan terus menerus dalam film ini.

    Raya and The Last Dragon juga menyuguhkan banyak budaya Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Keragaman ini tercermin dalam motif, warna, arsitektur, makanan, hingga nilai, kebiasaan dan adat istiadat yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Asia Tenggara. Rasa percaya akan satu sama lain dan gotong royong menjadi inti cerita dari film berdurasi hampir 2 jam ini.

    Untuk mendapatkan elemen budaya, adat, dan alam yang sesuai, para kru film melakukan perjalanan ke seluruh Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Laos, Thailand, Vietnam, Kamboja, Malaysia dan Singapura. Selain itu, proses produksi film ini juga melibatkan sekelompok ahli yang membantu memberikan wawasan budaya dan adat dari tiap negara, terdiri dari antropolog, arsitek, linguis, penari, dan pemain musik tradisional.

    Disutradarai oleh Don Hall dan Carlos Lopez Estrada bersama Paul Briggs dan John Ripa, serta diproduseri oleh Osnat Shurer dan Peter Del Vecho, Raya and the Last Dragon' dibintangi oleh Kelly Marie Tran sebagai pengisi suara Raya dan Awkwafina sebagai Sisu. Petualangan seru Raya and the Last Dragon hadir di seluruh bioskop di Indonesia mulai Rabu, 3 Maret 2021.

    MARVELA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi dan Tantangan Jozeph Paul Zhang, Pria yang Mengaku Nabi Ke-26

    Seorang pria mengaku sebagai nabi ke-26 melalui media sosial. Selain mengaku sebagai nabi, dia juga melontarkan tantangan. Dialah Jozeph Paul Zhang.