Tedhak Sinten Hanya Dihadiri Keluarga Inti, Nadiem Makarim : Jadi Lebih Intim

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nadiem Makarim dan istri mengadakan prosesi Tedhak Sinten/Instagram

    Nadiem Makarim dan istri mengadakan prosesi Tedhak Sinten/Instagram

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim membagikan dua foto upacara tedhak sinten untuk anak ketiganya. Ia mengatakan tedhak siten kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. "Tedhak Sinten kali ini sedikit berbeda karena dihadiri keluarga inti dan eyang saja, dan persiapan semua dikerjakan sendiri," katanya dalam Instagramnya pada 30 Januari 2021.

    Menurutnya, prosesi tedhak sinten yang sederhana membuat upacara adat itu semakin terasa intim. "Tapi jadi lebih intim malah rasanya," katanya.

    Ia pun berharap agar sang buah hati diberikan kebahagiaan dalam hidupnya. "Semoga anak kami senantiasa diberikan kekuatan dan bekal kebahagiaan di dalam hidupnya," katanya.

    Terlihat Nadiem Makarim dan istrinya Franka Franklin membantu anaknya memegang tangga bambu. Pada foto kedua pun terlihat Nadiem disuapi oleh sang istri sesendok nasi kuning. 

    ADVERTISEMENT

    Nadiem Makarim dan istri mengadakan prosesi Tedhak Sinten/Instagram

    Tedhak siten merupakan upacara adat yang digelar sebagai bentuk rasa syukur karena sang anak akan mulai belajar berjalan. Selain itu, upacara ini juga merupakan salah satu upaya memperkenalkan anak kepada alam sekitar dan juga ibu pertiwi. Ada salah satu pepatah Jawa yang berbunyi “Ibu pertiwi, bopo angkoso” (Bumi adalah ibu dan langit adalah Bapak).

    Baca: Cara Nadiem Makarim Membuat Anak Merasa Dicintai

    Budaya warisan leluhur masyarakat Jawa untuk bayi ini dikenal juga sebagai upacara turun tanah. Berasal dari kata ‘tedak’ yang berarti turun dan ‘siten’ berasal dari kata ‘siti’ yang berarti tanah. Upacara tedak siten ini dilakukan sebagai rangkaian acara yang bertujuan agar anak tumbuh menjadi anak yang mandiri.

    Hitungan satu bulan dalam pasaran Jawa berjumlah 36 hari. Jadi bulan ketujuh kalender Jawa bagi kelahiran si bayi setara dengan 8 bulan kalender masehi. Bagi para leluhur, adat budaya ini dilaksanakan sebagai penghormatan kepada bumi tempat anak mulai belajar menginjakkan kakinya ke tanah. Dalam istilah Jawa disebut tedak siten.

    Selain itu tedak siten juga diiringi doa-doa dari orangtua dan sesepuh sebagai pengharapan agar kelak anak sukses menjalani kehidupannya.

    Para pengikuti Nadiem Makarim mengapresiasi tindakan Nadiem yang melanjutkan tradisi budaya. "Upacara turun tanah yaa keren melestarikan budaya," kata akun khanzairanisa. Akun lain pun memuji Nadiem yang lulusan Harvard, dan tetap melanjutkan budaya daerah Indonesia. "Ini merupakan tradisi jawa. Lama di Harvard tapi tetap berbudaya Indonesiam," kata akun fikrinurirawan.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Makan di Warteg saat PPKM Level 4 dan 3 di Jawa - Bali

    Pemerintah membuat aturan yang terkesan lucu pada penerapan PPKM Level 4 dan 3 soal makan di warteg. Mendagri Tito Karnavian ikut memberikan pendapat.