Arief Muhammad dan Fiersa Besari Semangati Youtuber yang Dikomplain Eiger

Reporter:
Editor:

Istiqomatul Hayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Berbagai dukungan pun datang dari para sahabatnya. Mereka menyatakan siap mendukung Arief.

    Berbagai dukungan pun datang dari para sahabatnya. Mereka menyatakan siap mendukung Arief. "Sultan Bintaro siap dukung," tulis Andre Taulany. "Gue sebagai orang Bintaro akan mendukung 101% jika bapaknya Baim ini maju," tulis akun @sipiqi. "Apapun keputusanmu, gw dukung," tulis akun @aanstory. Foto/Instagram/ariefmuhammad

    TEMPO.CO, Jakarta - Influencer, Arief Muhammad dan musisi juga penyair, Fiersa Besari ikut mengomentari konflik yang terjadi antara Youtuber dan Eiger. Mereka mengingatkan komplain yang dilakukan Eiger terhadap isi konten Youtuber bernama Dian Widiyanarko dan menjadi trending topic di Twitter itu bisa mengubur imej Eiger sendiri.

    "Ini nightmare banget untuk sebuah brand. Penasaran sekali move yang akan dilakukan oleh Eiger. Kalau salah eksekusi, potensi kerugian jangka pendek dan jangka panjangnya besar sekali. Kebayang nggak berapa banyak orang yang akan ilfeel dengan kejadian ini dan memutuskan untuk berhenti membeli produk dari brand Eiger? Bisa jadi pelajaran untuk kita semua sebagai pelaku usaha," tulisnya di akun Instagaramnya, Kamis malam, 28 Januari 2021.

    Arief juga memberikan semangat untuk Dian, yang justru membuat review positif atas produk Eiger. "Untuk mas @duniadian, semangat mas. Konten yang baik tidak melulu diukur dari teknis dan peralatan yang mewah," tulisnya.'

    Capture video ulasan kacamata yang sempat dipermasalahkan perusahaan Eiger. Sumber: youtube @duniadian

    Adapun Fiersa Besari menuliskan cuitannya membalas cuitan Dian. "Sebetulnya bukan ranah saya, karena saya bukan staf yang bekerja di Eiger. Tapi sebagai rekan, barusan saya forward tweet ini ke tim Eiger dan bilang, 'Kok kayak mengekang kebebasan berpendapat? Padahal modalin videonya juga enggak'. Alias surat yang sangat konyol," cuitnya, enam jam lalu. 

    Baca juga: Ikut Tren FaceApp, Anya Geraldine Jadi Ganteng, Arief Muhammad Frustrasi

    Kasus ini bermula dari konten review yang dibuat Dian dan dinggah di kanal Youtubenya, Duniadian. Ia memberikan penilaian positif terhadap salah satu produk kacamata Eiger yang cocok jadi kacamata sepeda, dengan peralatan seadanya, miliknya. Tak disangka, konten itu sampai di manajemen Eiger. Bukan terima kasih yang ia terima, tapi justru komplain dialamatkan Eiger kepadanya.

    Dian menunjukkan surat keberatan yang dikirimkan Eiger. Di situ tertulis ada tiga hal yang disampaikan Eiger. Mereka menyebut kualitas video review produk kurang bagus dari segi pengambilan sehingga menyebabkan produk mereka terlihat berbeda. Eiger juga mengatakan, suara di luar video utama amat mengganggu, dan setting lokasi disebut kurang proper. 

    "Dari poin keberatan tersebut, kami berharap Saudara dapat memperbaiki dan atau menghapus konten review yang sudah Saudara unggah di channel Youtube," tulis manajemen Eiger yang ditandatangani Hendra, HCGA dan Legal General Manager. 

    Mendapat komplain seperti ini, Dian kesal. "Saya kan review produk gak ada endorse. Kalau Anda endorse atau ngiklan bolehlah komplain begitu. Lha ini beli, gak gratis, lalu review pake alat sendiri," cuitnya di Twitter, Kamis sore, 28 Januari 2021. 

    Setelah membuat keriuhan, CEO Eiger Ronny Lukito meminta maaf. Surat itu diunggah sekitar satu jam lalu di Twitter. "Dear Eigerian, menanggapi tweet @duniadian dengan kerendahan hati kami sampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya. Kami menyadari apa yang kami lakukan tidak tepat dan salah," cuit mereka. 

    Unggahan Arief Muhammad sendiri juga mendapatkan tanggapan dari para pengikutnya. "Kalau Bang Arip sudah ngepost begini, berarti serius banget ya," kata @anugerahale. "Blunder besar buat Eiger, peluang besar buat brand kompetitor," tulis @galenhosea. 


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.