Konsep Cerita Band Metal Bandung Forgotten di Album Baru Silalatu

Reporter:
Editor:

Istiqomatul Hayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Band underground Bandung, Forgotten, merilis album baru berjudul Silalatu pada18 Desember 2020. (ANWAR SISWADI)

    Band underground Bandung, Forgotten, merilis album baru berjudul Silalatu pada18 Desember 2020. (ANWAR SISWADI)

    TEMPO.CO, Jakarta - Band underground asal Bandung, Forgotten, merilis album anyar berjudul Silalatu. Penggarapan albumnya kali ini memakai konsep bercerita dari mulai lagu pertama sampai akhir selama 33 menit. Kolaborasi dengan musisi dan penyanyi lain membuat album ini tak jenuh oleh kegarangan musik death metal.

    Tembang pembuka yang berjudul Rapalan Kala hadir mengejutkan. Tiupan suling musik Sunda yang panjang dan meliuk-liuk, seketika mengantarkan suasana ke alam yang teduh nan damai, sambil diiringi rekaman paduan suara tonggeret di ujung lagu. Sesaat sempat muncul keraguan, apakah lagu itu tak salah album.

    Rapalan lirik dari Morgue Vanguard yang hadir kemudian menjadi jembatan ke lagu baru Forgotten dengan judul Warta Derita Padalisan 1 dan 2. Dari total sembilan judul, band bentukan 1994 di Ujungberung, Bandung itu mengusung tujuh lagu baru yang warnanya belum pudar dari ciri khasnya.

    Sarat oleh muntahan kritik khas aliran underground dari lirik tulisan vokalis Addy Gembel, gempuran musiknya disokong duo gitaris Toteng dan Gan-gan, Diki pemain bass, serta drummer Zalu. Album ini masih merekam situasi dan kondisi sosial di masyarakat, masalah agama, juga perilaku elit bersama konflik hingga kerusakan alam.

    Label rekaman Grimloc di Bandung meluncurkan album itu dalam bentuk compact disc pada 18 Desember 2020. Herry Sutresna dari Grimloc mencatat, Silalatu menjadi simbol narasi utama Forgotten sebagai lanjutan dari album Kaliyuga sebelumnya hasil rilisan 2018. “Silalatu adalah death metal yang kita kenal dari Forgotten,” katanya.

    Silalatu yang berarti percikan bunga api dalam bahasa Sunda, lagunya mereka selipkan di tengah deru setelah tembang Badai Api. Petikan gitar klasik yang mengiringi alunan vokal lirih berlanggam paduan suara dari Shifa Amelia berhasil mencuri perhatian telinga. Alih-alih menghaluskan gedoran, lagu Silalatu ikut menguatkan tema dan konsep album Forgotten kali ini.

    Menurut Herry alias Ucok Homicide, album Silalatu menyatukan fragmen dari babak panjang cerita tentang awal proses penghancuran dan upaya perlawanannya. Setelah merangkai tembang-tembang cadas lainnya berjudul Fantasmagoria: Padalisan 1 dan 2, kemudian Titik Api, Forgotten menutupnya dengan komposisi instrumentalia berjudul Layung Mamala.

    ANWAR SISWADI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.