Lola Amaria Bolak Balik Jakarta Hongkong Demi Film TKW  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lola Amaria. Foto: TEMPO/Hemdra Suhara

    Lola Amaria. Foto: TEMPO/Hemdra Suhara

    TEMPO Interaktif, Jakarta :Bicara Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri atau buruh migran wanita acapkali menyisakan kegetiran. Dari soal penyiksaan, perkosaan, hingga persoalan keabsahan ijin tinggal maupun ijin kerja seolah menjadi cerita keseharian yang menemani mereka .


    Dan sedihnya lagi, tak sedikit orang yang menganggap profesi pembantu hanyalah pekerjaan orang pinggiran. Dalam strata sosial pun, mereka hanya ditempatkan pada urutan terbawah. Sehingga, tak berharga.


    Namun siapa menyangka, di tengah sempitnya pandangan dan komentar miring seputar pekerja migran itu, ada celah yang menunjukkan bahwa ternyata kehidupan mereka jauh lebih bagus dari yang dikira orang. Cerita kehidupan mereka pun, ternyata penuh warna dan dinamis. Ya, itulah kehidupan para wanita pekerja migran di Hong Kong.


    Sisi kehidupan itu pula yang mengilhami artis cantik Lola Amaria untuk mengangkatnya dalam sebuah film yang dia beri judul 'Rhapsody Hongkong'. “Aku ingin memberikan satu gambaran yang proporsional, bahwa kehidupan para pekerja migran dan profesi mereka tak ada bedanya dan sama mulianya dengan profesi lain,” tutur artis kelahiran Jakarta, 30 Juli 1977 itu saat dihubungi, Sabtu (17/10).


    Menurut Lola, para majikan di Hong Kong menempatkan mereka tak bedanya dengan para pekerja di sektor lain. Walhasil, rasa percaya diri mereka tumbuh dengan baik. Bekerja bagi mereka tak sekadar mendapat upah. Lebih dari itu, bekerja adalah mengejar kehidupan yang lebih baik. Gaya hidup mereka pun juga mengikuti dinamika kehidupan masa kini, kendati sesuai dengan kemampuan mereka.


    Tapi, menurut pemeran utama film 'Detour to Paradise' garapan sutradara Andy Lee yang diproduksi pada 2007 itu, selain soal pekerjaan, persoalan yang tak kalah menarik untuk disimak adalah dinamika kehidupan mereka. “Romantika kehidupan mereka yang tidak pernah terekspose itulah, sesungguhnya yang menarik untuk difilmkan. Ada kisah lucu, sedih, percintaan dan lain-lain,” paparnya.


    Sehingga, film ini tak hanya membawa pesan moral tentang kehidupan, tetapi juga menjadi sebuah tontonan yang menghibur. Dengan kata lain, kata produser film “Novel Tanpa Huruf R' ini, film yang diproduseri dan sekaligus dibintanginya ini, bukanlah film dokumenter.


    “Meski mengangkat sisi kehidupan suatu komunitas, ini bukan film dokumenter. Tapi film ini merupakan film drama. Disitu ada bumbu-bumbu percintaan, komedi, dan lain-lain. Biar hidup, dinamis, dan tentu saja menarik,” paparnya.


    Film yang proses syutingnya baru dimulai Desember mendatang itu, saat ini tengah dalam proses finalisasi naskahnya. “Aku pingin penggarapan ini serius, sehingga hasilnya serius. Insya Allah, akhir bulan ini naskah sudah selesai, dan bulan Desember kita mulai. Tahun depan sudah siap tayang,” kata bintang yang mulai bermain sinetron pada sinetron "Penari" garapan Sutradara Nan Triveni Achnas itu.


    Dan soal peran dalam film ini, Lola mengaku tak akan sulit melakoni peran sebagai pembantu. Pasalnya selain pernah menjalani peran itu melalui film "Detour to Paradise" pada 2007 lalu, serangkaian penelitian tentang kehidupan para pekerja wanita di Hong Kong pun telah ia lakukan.


    Dalam film garapan sutradara Taiwan Lee Ti-Tsai alias Andy Lee itu, Lola berperan sebagai seorang pembantu rumah tangga. “Jadi sudah biasa jadi pembantu,” ujarnya sembari tertawa.


    Dan yang pasti, berbulan-bulan Lola mengamati dan bergaul langsung dengan mereka. Tentu ini menyita waktu mantan juara lomba model Wajah Femina 1997 itu. Malah, dalam sebulan terakhir ia harus tiga kali bolak-balik Jakarta Hongkong untuk mematangkan persiapan. “Ya aku harus bolak-balik Jakarta Hong Kong, tapi nggak apa-apa, ini kan demi TKW,” imbuhnya.



    Arif Arianto


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sel Dendritik dan Vaksin Nusantara Bisa Disuntik Berulang-ulang Seumur Hidup

    Ahli Patologi Klinik Universitas Sebelas Maret menjelaskan proses pembuatan vaksin dari sel dendritik. Namun, vaksin bisa diulang seumur hidup.