Akui Berkawan dengan Gibran, Dokter Tirta Nyatakan Tak Segan Kritik Kalau Salah

Reporter:
Editor:

Istiqomatul Hayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dokter Tirta memberikan keterangan saat memperkenalkan kolaborasinya bersama Holywings, di Jakarta, Selasa, 21 Juli 2020. Dalam kolaborasi Holywings X dokter Tirta, mereka memproduksi merchandise seperti masker, sandal, kaos, hingga jaket. TEMPO/Nurdiansah

    Dokter Tirta memberikan keterangan saat memperkenalkan kolaborasinya bersama Holywings, di Jakarta, Selasa, 21 Juli 2020. Dalam kolaborasi Holywings X dokter Tirta, mereka memproduksi merchandise seperti masker, sandal, kaos, hingga jaket. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Dokter Tirta tengah disorot lantaran kritikannya yang tajam terhadap Gubernur Anies Baswedan dan Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden Jokowi. Keduanya dianggapnya bertanggung jawab atas timbulnya kerumunan puluhan ribu yang melanggar protokol kesehatan saat Indonesia tengah berjuang menghadapi Pandemi Covid-19. 

    Ia mengaku tak segan untuk mengkritik. "Saya gak takut kok kritik anak presiden kalau buat kerumunan. Lha emang salah. Saya dicopot dari Satgas Juni 2020 karena rangkulan, walau maskeran, saya terima lapang dada! Sejak 2013 saya mualaf, guru ngaji saya Kiai Zum, ngajari saya banyak hal, salah satunya lapang dada," cuitnya di akun Twitternya, Selasa malam, 17 November 2020. 

    Dokter Tirta secara terang-terangan mengkritik pemerintah pusat yang dianggap tebang pilih. Saat Gubernur Anies Baswedan diperiksa polisi lantaran dianggap membiarkan kerumunan puluhan ribu di pesta kawinan anak Rizieq Shihab, di lain pihak, polisi tidak bertindak tegas terhadap Gibran saat mendaftarkan diri sebagai calon wali kota di KPU Solo pada 4 September 2020, yang juga dihadiri ribuan orang. 

    Calon Wali Kota Solo nomor urut satu Gibran Rakabuming Raka (temgah) menyampaikan visi misi saat Debat Terbuka Pilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo di Solo, Jawa Tengah, Jumat 6 November 2020. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Solo dalam debat pertama mengangkat tema "Mengembangkan Surakarta Sebagai Kota Budaya Dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan Yang Adil dan Merata di Era Digital'. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha

    "Kalau mau bijak, tegas, ayo tegas semua. Jangan anak Presiden di Solo (dibiarkan). Habib Rizieq ditegur, semua ditegur," kata Tirta saat menjadi narasumber di Indonesia Lawyers Club yang tayang di TV One, Selasa, 17 November 2020. Karena beda perlakuan itu, terjadi perang Twitter antara pendukung Anies Baswedan, juga Rizieq Shihab dan Gibran Jokowi. 

    Menurut Tirta, ia tak ragu mengkritik meski mengaku berteman dengan Gibran. "Kalau pemerintah bagus, kita apresiasi. Kalau gak tegas kita kritisi, kasih saran solusi. Saya gigi netral. Gak bawa-bawa cebong kadrun. Musuh kita: pandemi. Mas Gibran kawan saya, beliau sempat kolaborasi ama saya soal jaket buat Bapak. Tapi seorang kawan akan terus saling mengingatkan," cuitnya pada Rabu, 18 November 2020. 

    Ia juga membalas cuitan pengguna Twitter yang menuliskan Anies Baswedan dikritisi lantaran kerumunan itu terjadi pada saat Jakarta masih diberlakukan PSBB. "PSBB transisi jadi masalah Jakarta makanya kegoreng. Saat Gibran arak-arakan itu Solo setahu saya gak ada PSBB. Tapi kerumunan ya tetap aja kerumunan. Hehehehe. Salam sehat sir. Tetap semangat," cuitnya lagi. 


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.