Keluarga Minta Jenazah Komedian Park Ji Sun Tidak Diautopsi

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Komedian, Park Ji Sun ditemukan tewas di rumahnya bersama ibunya. Foto: Twitter.

    Komedian, Park Ji Sun ditemukan tewas di rumahnya bersama ibunya. Foto: Twitter.

    TEMPO.CO, Jakarta - Polisi di Seoul Mapo mengatakan tidak akan melakukan autopsi untuk menentukan penyebab kematian komedian Park Ji Sun (35), sebagaimana permintaan dari pihak keluarga. "Tidak ada tanda-tanda kekerasan dan apa yang dianggap sebagai catatan bunuh diri yang ditemukan," kata polisi seperti dilansir Yonhap, Selasa 3 November 2020.

    Walau begitu, mereka akan terus menyelidiki penyebab pasti kematian perempuan yang juga berprofesi sebagai presenter acara showcase dan variety show itu.

    Sebelumnya, pada Senin 2 November 2020, polisi menemukan Ji-sun dan ibunya terbaring dalam kondisi tak bernyawa sekitar pukul 13:44 waktu Korea Selatan di kediaman Ji-sun, distrik Mapo Seoul. Mereka datang ke rumah Ji-sun setelah menerima laporan dari ayah sang komedian bahwa dia tidak dapat menghubungi anaknya itu dan juga istrinya.

    Sebuah tulisan yang ditulis sang ibunda mengungkapkan, semasa hidup, Ji-sun sedang dalam perawatan untuk penyakit kulit. Atas alasan ini dia tinggal bersama ibunya. Setelah kabar meninggalnya Ji-sun terkuak, sebuah altar peringatan untuk dia dan ibunya disiapkan di Ewha Womans University Mokdong Hospital, Seoul.

    Semasa hidup, Ji-sun yang berasal dari Incheon, kota pelabuhan di barat Seoul, dianggap sebagai komedian serba bisa. Dia bahkan dikenal cekatan menjadi pembawa acara K-pop, jumpa pers dan program televisi.

    Lulusan Universitas Korea itu memulai debutnya sebagai komedian pada tahun 2007 setelah lulus audisi di penyiar KBS dan sempat menyabet sejumlah penghargaan sejak masih di awal kariernya.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.