Herjunot Ali, Gagal Menjadi Pemain Bola Profesional

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dok/Pribadi

    Dok/Pribadi

    TEMPO Interaktif, Jakarta :Siapa tak kenal Maradona, David Beckham, atau Ronaldo? Mereka dikenal sebagai pesohor di dunia sepak bola yang mengilhami anak-anak muda.

    Minimal, mereka menjadi gandrung dengan olah raga asal Inggris itu. Bagi anak-anak muda olah raga ini bukan sekadar permainan, tetapi telah menjadi sebuah gaya hidup.


    Tak terkecuali, bagi Herjunot Ali. Aktor kelahiran Jakarta 8 Oktober 1985 itu, mengaku sangat kesengsem dengan olah raga yang satu ini. Bukan hanya ingin sebagai penonton saja, tetapi Junot - begitu ia akrab disapa - juga ingin menjadi pemain sepak bola profesional.


    Dan tak tanggung-tanggung, Junot belajar sepak bola langsung ke negeri asalnya, Inggris. Di negara David Beckham itu, ia tinggal selama enam bulan. Itu terjadi pada 2006 silam. "Aku belajar di sekolah sepakbola Westham United. Aku benar-benar ingin menjadi pemain sepak bola," ungkapnya saat ditemui di sela-sela acara peluncuran Film 'Gara-Gara Bola', di Jakarta.


    Kenekadan pemilik nama asli Mahbub Herjunot Ali itu, ditentang oleh keluarganya. Namun, meski tak mendapat restu, artis yang memulai karirnya setelah menjadi finalis MTV VJ 2004 yang diselenggarakn MTV Indonesia itu, tetap belajar bola.


    Ternyata, keinginan Junot untuk belajar memainkan si kulit bundar di Inggris harus berhenti. Sebab, ia tak memperoleh status permanent residence alias penduduk tetap. Sehingga ketika ijin tinggalnya habis, ia pun harus meninggalkan negeri itu. "Apalagi sebenarnya, aku sudah ketuaan untuk belajar sepakbola di negeri itu," akunya.


    Usia Junot kala itu, sudah 21 tahun. Terlebih, jelas Junot, belajar sepak bola di negara itu benar-benar sangat serius. "Kalau kita lihat sekilas, seolah-olah mereka menganggap sepak bola itu kayak agama. Hidup mereka untuk bola," ujar pemeran Nugi dalam film 'Realita, Cinta, dan Rock'n Roll' itu.


    Begitu pun untuk menjadi peserta pendidikan di sekolah sepak bola, juga tak segampang yang dibayangkan. Menurutnya, pihak sekolah selain menyeleksi secara ketat baik fisik maupun mental, juga mempertimbangkan asal usul keturunan. Disinilah Junot serasa mendapat satu pengalaman sekaligus pengetahuan baru tentang dunia pendidikan persepakbolaan di luar negeri.


    Setelah tak mendapat izin tinggal itu, Junot pun bertetapan untuk melanjutkan karirnya di dunia hiburan kendati, meski ada rasa kecewa yang terus menggelayuti benaknya karena cita-cita menjadi pemain sepak bola harus kandas. Tapi bungsu dari tiga bersaudara ini, tak ingin tenggelam dalam kekecewaan, ia pun berusaha untuk menerima kenyataan apa adanya.


    Dan untuk mengobati kekecewaan itu selain kerap bermain bola bila ada waktu senggang, ia juga tak pernah absen nonton pertandingan sepak bola. Tak hanya pertandingan kesebelasan manca negara saja yang ia suka, tapi juga kesebelasan dari negeri. "Rasanya aku pingin sekali main bola beneran, malah pernah membayangkan kapan bisa main film bertema sepak bola," paparnya.


    Bak gayung bersambut. Ternyata keinginan Junot itu kesampaian pada 2008. Sejak Maret lalu, ia diajak ikut membintangi Film Gara-Gara Bola garapan Nia Dinata. Di film itu, ia bersama Winky Wiryawan menjadi pemeran utama sebagai Ahmad. "Jadi penantianku selama dua tahun kesampaian sudah," tandasnya.


    Tapi bukan lantaran perannya saja yang membuat ia lega dan semangat membintangi film itu. Keinginan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang segala aspek tentang pengaruh sepak bola dalam kehidupan masyarakat lah yang menjadi tantangan tersendiri. Apalagi film itu dikemas dalam sebuah drama komedi. "Sepak bola telah menjadi sebua gaya hidup di masyarakat, beragam pengaruh bisa ditimbulkan bila tak bijak mengambil makna. Di film itulah ada satu pelajaran yang bermakna. Disitulah ada kepuasan," tuturnya.


    Tak hanya itu, Junot telah merasa terobati, bisa bermain film tentang sepak bola. Tak masalah cita-citanya untuk menjadi pemain sepak bola profesional kandas di tengah jalan. Yang pasti, ia bisa memberi sesuatu yang bermakna bagi masyarakat tentang sepak bola.

    Arif Arianto


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu European Super League?

    Pada 19 April 2021, sebanyak 12 mega klub sepakbola Eropa mengumumkan bahwa mereka akan membuat turnamen baru yang bernama European Super League.