Menikmati Nanyian Air Songs of The Sea

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Singapura:“Yeach…, yeach....” Teriakan kegirangan keluar dari mulut kami begitu menyaksikan tembakan air mancur yang berwarna-warni. Dada kian berdegup kala musik berkekuatan ribuan watt berdentaman membahana di udara. Jarum jam hendak bergerak menunjuk angka 8. Langit malam sungguh cerah.

    Pancaran air mancur itu meliuk-liuk seperti menari mengikuti irama lagu. Sinar-sinar laser yang ditembakkan lampu dan dentuman kembang api menambah keindahan suasana malam di laut itu.

    Inilah sepenggal atraksi pertunjukan Songs of the Sea yang dapat dinikmati di Pulau Sentosa, Singapura. Panggung pertunjukan Song of the Sea ini berdiri di atas laut dangkal di perairan Pulau Sentosa.

    Teater ini berlatar belakang laut dan gubuk nelayan. Air mancur, api, dan laser diletakkan tertata di atas panggung-panggung yang berdiri di atas laut dangkal itu. Ratusan penonton yang menyaksikan pertunjukan ini duduk di bibir pantai menghadap ke laut.

    Minggu malam pertengahan September lalu, kami, tujuh orang jurnalis dari Jakarta, berkesempatan menyaksikan atraksi tersebut. Namun, kami tidak menyaksikan langsung dari Pulau Sentosa. Kami menikmati pertunjukan eksotis itu gratis dari atas kapal pesiar yang melaju pelan di perairan Pulau Sentosa, tepat di belakang gubuk teater pertunjukan Songs of the Sea.

    Kapal memang harus melaju pelan. Pasalnya, menurut pemilik kapal pesiar, Mr Ronald, pemerintah setempat tidak mengizinkan kapal pesiar berhenti di perairan tersebut. Apalagi pertunjukan ekstravaganza ini adalah paket wisata unggulan di Pulau Sentosa.

    "Mungkin agar tidak menyaksikan pertunjukan ini secara gratis," ujar Pak Ronald, tergelak. Walaupun demikian, kami masih bisa menikmati keindahan atraksi yang berlangsung lebih dari setengah jam tersebut.

    Songs of the Sea berkisah tentang Lee, salah satu anak muda yang ada di pantai, yang suatu hari mulai melantunkan nyanyian-nyanyian laut yang merdu. Tiba-tiba laut bergemuruh dan tampaklah wajah Princess Amy yang sedih dan terikat. Wajah sedih Amy terlihat di udara berkat lukisan lampu laser dan air mancur sebagai kanvasnya.

    Teknik serupa juga digunakan untuk memunculkan tokoh-tokoh lainnya dalam cerita ini. Amy ditawan oleh Master of Fire, raksasa api yang jahat, dan hanya dapat dibebaskan dengan nyanyian yang murni ke arah laut.

    Cerita berkembang dengan kemarahan Master of Fire yang diikuti dengan berbagai semburan lidah api dengan tata suara yang mengentak penonton. Akhirnya Princess Amy dapat dibebaskan. Pembebasan itu dihiasi berbagai pertunjukan laser dengan air mancur yang berliuk-liuk dan muncul bergantian, mengikuti irama lagu.

    Bila dilihat sejenak, pertunjukan Songs of the Sea ini mirip pertunjukan air mancur menari yang ada di pelataran Monumen Nasional, Jakarta, saban Sabtu dan Minggu malam.

    Mungkin karena dikemas dengan teknologi yang canggih, pertunjukan di negeri pulau ini jauh lebih menarik ketimbang di Monas. Di sini kita bisa melihat dengan jelas visualisasi gambar tokoh cerita dan tata suara yang benar-benar jernih sehingga semua penonton tidak kesulitan mengikuti alur cerita yang ditampilkan. Sebuah atraksi hiburan yang memikat mata.

      MARLINA MARIANNA SIAHAAN (SINGAPURA)

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sel Dendritik dan Vaksin Nusantara Bisa Disuntik Berulang-ulang Seumur Hidup

    Ahli Patologi Klinik Universitas Sebelas Maret menjelaskan proses pembuatan vaksin dari sel dendritik. Namun, vaksin bisa diulang seumur hidup.