Cinta di Antara Segala yang Pahit  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Tidak ada yang pernah paham tentang cinta antara seorang lelaki berusia 60 tahun dan seorang gadis jelita berusia 20-an. Dan mungkin kita tak perlu memahami, tapi mencoba membiarkan mereka mengarungi segala kesulitan apa pun yang akan dihadapi.

    Syahdan, sang lelaki, David Kepesh (Ben Kingsley), adalah seorang penulis dan kritikus sastra terkemuka. Consuela Castillo (Penélope Cruz) adalah muridnya. Melalui narasi Kepesh, yang mengaku selalu merayu mahasiswinya yang termuda dan tercantik ”sesuai aturan main”, yakni setelah mereka lulus dari kelasnya dan tidak berstatus sebagai mahasiswanya lagi, kita tahu Kepesh adalah tipe lelaki yang tak mampu terikat. Dia meninggalkan istri dan anaknya, untuk meloncat dari satu perempuan ke perempuan lain.

    Tapi Consuela Castillo adalah sebuah bangunan tubuh yang sempurna, seperti pahatan patung Yunani yang mulus tanpa cacat. Sepasang matanya membuat Kepesh tenggelam ke dasar laut yang membahayakan: cinta dan ingin memiliki. ”Jangan gunakan perasaan, nikmati saja hubungan badan,” demikian George O’Hearn (Dennis Hopper), sahabatnya, seorang penulis yang sama seniornya, yang masih terikat dalam perkawinan, tapi gemar gonta-ganti kekasih.

    David Kepesh tak mampu berhenti pada petualangan fisik. Dengan ”patung Yunani” berkulit indah dengan mata yang bisa berkata-kata itu, Kepesh tak bernapas. Kecemburuan kepada para lelaki muda pengagum Consuela, keinginannya untuk memiliki sepenuhnya, akhirnya membawa dia pada sebuah area yang tak dikenalnya: cinta? Atau sekadar serakah dan teritorial?

    Film yang diangkat dari novel pendek karya Philip Roth dengan judul asli The Dying Animal ini memberikan tafsir yang jauh lebih romantis dan elegan. Sosok Kepesh, konon alter ego sang penulis, di dalam film ini lebih keras kepala, terkadang menjengkelkan dan penuh gairah, dan lebih menunjukkan kekerasannya dalam tubuh yang anggun dan sunyi. Kita bahkan sesekali bersimpati kepada Kepesh yang merana karena cinta. Kita tahu dia mulai mengenal dirinya sendiri, dia mulai masuk ke wilayah yang belum pernah disentuh oleh siapa pun, termasuk dirinya sendiri.

    Tapi Kepesh, seperti halnya lelaki pada usia matang dan liat, ternyata tak bisa bergerak lebih dari membangun dunia untuk berdua saja. Dia tak bersedia (atau tak berani) tampil di muka keluarga dan kawan-kawan Consuela; dia juga merasa tak siap untuk melepas pacar lainnya, diperankan Patricia Clarkson, yang datang dan pergi hanya untuk tidur dengannya. Dengan kata lain, Kepesh siap memiliki Consuela, tapi tak siap untuk memberikan dirinya sepenuhnya.

    Tema percintaan antara lelaki tua dan gadis muda—seperti halnya film The Human Stain karya Robert Benton, yang juga diangkat dari novel Philip Roth—adalah sebuah tema kompleks yang memaksa hati berkeping-keping. Keistimewaan tafsir sutradara Spanyol, Isabel Coixet, adalah tikungan dan kejutan plot diletakkan pada momen yang tepat. Pada saat kita semua mengira sang lelaki tua sudah akan maju melangkah ke perempuan muda berikutnya, perkembangan nasib Consuela sungguh perputaran yang mengejutkan.

    Di luar pilihan musik Gnossiennes No. 3 dari Erik Satie, yang sudah ratusan kali digunakan dalam film-film Hollywood dan Eropa—meski pesonanya memang tak akan pernah pupus—film ini adalah sebuah film tentang segala pahit dalam cinta. Dalam kepahitan itu, mereka menemukan keinginan masing-masing. Menentang kematian dan meneruskan hidup yang begitu sempit.

    Leila S. Chudori

    Elegy

    Sutradara: Isabel Coixet

    Skenario: Nicholas Meyer, berdasarkan novel The Dying Animal karya Philip Roth

    Pemain: Ben Kingsley, Penélope Cruz, Dennis Hopper, Peter Sarsgaard, Patricia Clarkson


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.