Pandemi, Seniman Astronomical Art Yogya Ini Pameran Maraton ke Mancanegara

Reporter:
Editor:

Nunuy Nurhayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karya Venzha Christ berjudul Evolution of The Unknown #07 yang dipamerkan di ajang Yokohama Triennale 2020 Jepang (Foto: dokumen pribadi)

    Karya Venzha Christ berjudul Evolution of The Unknown #07 yang dipamerkan di ajang Yokohama Triennale 2020 Jepang (Foto: dokumen pribadi)

    TEMPO.CO, Jakarta - Di saat pandemi Covid-19 belum mereda, Venzha Christ, seniman Yogya yang juga pelopor astronomical art atau seni yang obyeknya mengangkat berbagai hal tentang antariksa, malah kebanjiran undangan untuk menggelar pameran seni di sejumlah negara. Dalam dua bulan ke depan September-Oktober 2020, Venzha setidaknya mendapat undangan menggelar pameran seni level dunia di dua negara. Pertama di Yokohama Triennale 2020 di Jepang, dan kedua di Bangkok Art Biennale 2020 di Thailand.

    Venzha menjadi satu-satunya seniman Indonesia yang diundang di kedua pameran seni tersebut secara bersamaan. "Saya tidak tahu, kenapa di masa pandemi seperti ini dua event berskala besar itu tetap digelar. Yang pasti saya tetap ikut," ujar Venzha di Yogyakarta Senin 31 Agustus 2020.

    Venzha yang juga direktur lembaga pengkaji pengetahuan dunia luar angkasa, Indonesia Space Science Society atau ISSS itu mengaku sudah mempersiapkan sejumlah karya sesuai latar belakang minatnya, yakni antariksa. Untuk Yokohama Triennale 2020 misalnya, yang menggandeng artistic director Raqs Media Collective, Venzha membuat karya atau alat simulasi penangkap frekwensi dari luar angkasa yang berupa antena dengan tinggi 3,5 meter dan berbentuk trapesium ganda. Karya itu berjudul Evolution of The Unknown #07. "Antena di karya ini mampu menyaring berbagai frekuensi yang ada ditempat di mana instalasi interaktif ini terpasang," kata dia.

    Karya Venzha itu memungkinkan frekuensi yang sudah sampai ke bumi akan diubah sehingga menghasilkan suara yang dapat terdengar telinga manusia. Unsur seni dalam karya itu muncul melalui visualisasi berupa gambar grafik dari modulasi frekuensi yang dikeluarkan alat tersebu. Audiens juga bisa menyaksikan langsung kemampuan alat ini untuk membuktikan bahwa apa yang dihasilkan alat Venzha itu bersifat real time alias tak ada proses rekaman atau manipulasi.

    Sedangkan untuk Bangkok Art Biennale, Venzha berkolaborasi langsung dengan Apinan Poshyananda yang merupakan kurator kenamaan Bangkok Art Biennale sebagai artistic director-nya. Dalam pameran Bangkok Art Biennale, Venzha membuat tiga konstruksi metal berbentuk globe dan disusun bersama dengan dimensi ukuran empat meter, yang diberi judul "Mars Is (NOT) a Simulation - a terraforming paradox after the mission".

    Karya untuk pameran di Bangkok ini hasil riset Venzha setelah mengikuti simulasi hidup di planet Mars bersama MDRS (Mars Desert Research Station) pada tahun 2018 silam dan simulasi pesawat ruang angkasa pada SHIRASE (Simulation of Human Isolation Research for Antarctica-based Space Engineering) tahun 2019 silam.

    Dari karya itu, Venzha menuangkan pemikiran kritisnya tentang kondisi alam di planet Mars bagi rencana ekspansi manusia untuk membuat koloni di planet itu di masa depan. "Dari karya itu saya ingin mengajak audiens membayangkan masa depan Mars melalui perkembangan teknologi terkini," ujarnya.

    Venzha mengaku, dengan pameran seni di masa pandemi ini, ada tantangan sendiri baginya yang tak bisa hadir langsung untuk merakit karyanya. Ia harus berpikir keras bagaimana mengirim karya instalasi interaktif yang berukuran besar untuk bisa dipasang dan diinstal tanpa kehadirannya langsung di dua negara tersebut karena masih pandemi. Padahal karya-karyanya yang mengusung tema DIY Radio Astronomy itu terhitung sangat komplek dan rumit.

    Venzha mengungkap untuk membuat karya karya itu ia memakai banyak komponen elektronik beserta ratusan kabel yang harus disusun satu persatu itu. Tentu akan menjadi hal yang tidak mudah bagi para teknisi yang belum pernah melihat atau merakitnya.

    Venzha bukan orang baru khususnya dalam dunia astronomical art yang masih cukup asing itu.
    Bersama komunitas ISSS dan v.u.f.o.c Lab, Venzha mewujudkan kolaborasi konkrit antara seni dan luar angkasa. Sudah lebih dari 60 project kolaborasi yang telah dilakukannya dengan space agency, universitas, observatorium, laboratorium luar angkasa, serta institusi yang bergerak di ranah space science dan space exploration lebih dari 40 negara di dunia.

    Beberapa di antaranya adalah proyek pameran bersama NASA - A Human Adventure (2016), Resident Researcher di IMeRA - Institute for Advance Study (2017), Simulasi hidup di Planet MARS oleh MARS Desert Research Station - MDRS (2018), dan Simulasi pesawat ruang angkasa pada Simulation of Human Isolation Research for Antarctica-based Space Engineering - SHIRASE (2019).

    Venzha tak menampik astronomical art memang terdengar masih cukup asing di jagad seni tanah air. Astronomical art menurutnya
    menjadi bidang space science atau sains antariksa yang mempelajari obyek luar angkasa dari kacamata seni. Dengan kata lain astronomical art merupakan seni yang memberikan penalaran logis tetang kosmologi dan sains antariksa. "Astronomical art atau space art merupakan penggabungan antara space science atau sains antariksa atau pengetahuan tentang luar angkasa dengan seni," ujar Venzha.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapolri Keluarkan 11 Langkah dalam Pedoman Penerapan UU ITE

    Kepala Kepolisian RI Jenderal atau Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengeluarkan pertimbangan atas perkembangan situasi nasional terkait penerapan UU ITE.