Enggan Menyerah karena Pandemi Covid-19, Cokelat Rilis Single Anak Garuda

Reporter:
Editor:

Istiqomatul Hayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Band Cokelat formasi terbaru. Foto: Manajemen Cokelat

    Band Cokelat formasi terbaru. Foto: Manajemen Cokelat

    TEMPO.CO, Jakarta - Band Cokelat enggan menyerah meski pandemi Covid-19 telah melumpuhkan perekonomian di banyak negara. Mereka ingin membuktikan pandemi ini menjadi cambuk agar Indonesia tak gampang menyerah. Hal ini dibuktikan Cokelat dengan merilis kembalisingle lawas mereka, Anak Garuda pada Rabu, 12 Agustus 2020. 

    "Single Anak Garuda adalah anthem, yang dirilis sebagai ungkapan rasa salut terhadap semangat orang-orang Indonesia yang pantang menyerah di kala pandemi," demikian bunya siaran pers yang diterima Tempo pada Kamis, 13 Agustus 2020.

    Band Cokelat kini berawakkan Edwin Marshal Sjarif (gitar), Ronny Febry Nugroho (bass), Ernest Fardiyan Syarif (gitar), Axel Andaviar (drum), dan vokalis Aiu Ratna. Single ini dirilis secara independen dan sudah bisa didengarkan di berbagai platform jasa dengar musik secara digital (streaming).

    Bagi Cokelat, semangat pantang menyerah yang ditunjukkan masyarakat Indonesia menghadapi pandemi Covid-19 itu amat membanggakan. Satu sama lain saling menyemangati dan mencari jalan keluar. Di saat harga masker kesehatan meninggi, orang-orang Indonesia berinisiatif memproduksi sendiri, meramu hand sanitizer sendiri, bahkan ada yang tergerak membagi-bagikannya secara gratis. Sementara di sisi lain, di saat banyak perusahaan ritel raksasa yang goyah, justru banyak juga usaha kecil dan menengah (UKM) yang tetap berjalan. Kehadiran mereka sangat membantu menyokong perekonomian negara kita.

    Band Cokelat formasi baru. Foto: Manajemen Cokelat

    “Terlihat bahwa orang Indonesia itu pantang menyerah, dalam keadaan apa pun bisa tetap kuat, bisa survive. Di era pandemi ini terlihat sekali orang-orang Indonesia punya kekuatan untuk menjadi pemenang," kata Ronny. 

    Menurut Ronny, orang Indonesia selalu punya cara untuk mengatasi masalahnya. "Anak Garuda adalah simbol spirit seluruh manusia Indonesia, jati diri kita yang benar-benar pantang menyerah. Seperti yang ada di liriknya, ‘… kami bukan pecundang, Merah Putih tetap di dada kita .…' Itu menunjukkan bahwa lagu ini sangat mewakili orang Indonesia yang bisa survive di era pandemi seperti sekarang,” tuturnya menambahkan. 

    Aiu Ratna mengatakan, pengalaman pertamanya rekaman bersama Cokelat ini amat seru. Karakter lagunya yang memicu semangat membuat dirinya terbawa dan bisa mengeksekusi lini vokalnya secara maksimal. Diakuinya, baru kali ini ia menyanyikan lagu  berkarakter enerjik seperti itu.

    “Biasanya kan yang sedih atau marah. Waktu menyanyikannya aku juga harus menyemangati diri sendiri, mengeluarkan suara yang lantang, dan sebenarnya itu bukan hal mudah," ujarnya.

    Lagu Anak Garuda diciptakan Julianto Eka Putra, pendiri Yayasan Selamat Pagi Indonesia (YSPI) yang berlokasi di Kota Batu, Jawa Timur. Pada akhir 2019 lalu, Cokelat pernah merekamnya untuk kebutuhan theme song film layar lebar berjudul sama, Anak Garuda. Pada versi terbaru ini, terdapat penyesuaian aransemen serta sound yang lebih menonjolkan karakter Cokelat.  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa saja Tanda-tanda Perekonomian Indonesia di Ambang Resesi

    Perekonomian Indonesia semakin dekat dengan kondisi resesi teknikal. Kapan suatu negara dianggap masuk ke dalam kondisi resesi?