Magnet Tujuh Bintang Art Space Yogya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Yogyakarta: Tiga perupa yang tergabung dalam Kelompok Seni Rupa Magnet, menggelar pameran bersama bertajuk Too Much Painting Will Kill You  di Tujuh Bintang Art Space, Yogya, 14 September-12 Oktober 2008. Materi pameran adalah buah diskusi bertiga, meski hasil akhirnya tetap mengedepankan gaya masing-masing perupa.

    Deddy Sufriadi, 32 tahun, menampilkan lukisan abstrak yang didominasi  susunan teks. Deddy memenuhi kanvas dengan teks berhuruf latin. Terkadang ia menorehkan teks dengan guruf kapital ke atas kanvas. Teks-teks berhuruf latin itu kemudian ditumpangi lagi dengan teks-teks berhuruf Arab. Deddy menyebut teknik melukisnya itu sebagai ’sastra rupa’.

    ”Teks bisa mengambil peran lebih sebagai penerjemah semua pikiran, obsesi dan opini saya tentang segala hal, yang tidak bisa diterjemahkan dengan bahasa gambar,” kata alumnus Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini.

    Perupa Yusron Mudhakir, 31 tahun, menampilkan lukisan yang didominasi bidang-bidang geometris seperti kubus dan empat persegi panjang. Di dalam bidang geometris yang tersusun secara ritmis di atas kanvas itu, muncul tekstur, aik yang disengaja maupun yang tidak disengaja akibat sapuan kuas.

    Pada lukisan Coexist, How to Disapear Obtrusion Series, misalnya, Yusron  menghadirkan tekstur  bulan sabit, bintang Daud dan salib, di dalam bidang-bidang geometrisnya. Bulan sabit, bintang Daud dan salib adalah lambang-lambang agama monomtheis di dunia.

    ”Saya membayangkan, suatu saat dunia menganut apa yang dianjurkan oleh Ibnu Arabi sebagai agama cinta, ketika umat muslim berjamaah di Vatikan, para Paus mengadakan liturgi di kuil Sulaiman dan rabi-rabi Yahudi membenturkan keningnya dengan lembut di dinding Kabah. Saya rasa itu akan menjadi pemandangan yang menarik,” kata Yusron.

    Karya ini dilhami oleh penampilan Bono, vokalis band U2, yang menutup matanya dengan kain bertuliskan ”Coexist” dan gambar bulan sabit, bintang Daud dan salib. Penampilan nyleneh Bono ini sering menjadi bahan perbincangan dalam diskusi-diskusi Kelompok Seni Rupa Magnet.

    Terkadang, Yusron juga menorehkan teks di dalam bidang-didang geometrisnya. Namun, teks ini berbeda dengan teks yang dibuat Deddy dalam lukisan-lukisannya. ”Deddy menemukan estetika dalam huruf dan teks-teks yang bertebaran dan mengeksplorasinya menjadi sebuah karya seni. Teks dalam lukisan saya kadang tak mempunyai arti dan tujuan. Itu seperti menulis surat dan kita tidak mempunyai alamat untuk dituju,” jelas Yusron.

    Sementara Rocka Radipa alias Sigitblank, 32 tahun, memilih memindahkan siluet tubuhnya dalam lukisan-lukisan yang dipamerkan di Tujuh Bintang Art Space. Siluet dengan berbagai pose itu dipadu dengan garis, bulatan stau bidang-bidang geometris untuk memberi aksen gerak.

    Rocka memilih menggunakan tubuhnya sendiri, meski dalam bentuk siluet, sebagai medium untuk mengungkapkan pikiran, perasaan dan keinginan, termasuk kegelisahannya menemukan kebesaran Tuhan seperti pada lukisannya yang berjudul Mengutuk Tuhan dengan Hamdallah. Di sini Rocka menampilkan siluet dirinya yang sedang bersujud dengan kedua tangan di belakang tubuhnya.

    ”Karya dari ketiga anggota Kelompok Seni Rupa Magnet ini lahir secara individual, namun merupakan hasil saling keterpaduan aneka rupa gagasan di antara mereka. Karya-karya mereka secara tematik saling berbeda,” tulis Mikke Susanto dalam pengantar kuratorialnya.

    Heru CN

     


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Vaksin Nusantara

    Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menuai pro dan kontra.