Butet Kartaredjasa: Jika Enggak Ada Pak Ajip Rosidi, Saya Enggak Baca Sastra

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sastrawan Ajip Rosidi saat menghadiri peresmian Perpustakaan Ajip Rosidi yang dikelola Yayasan Pusat Studi Sunda di Bandung, Jawa Barat, 15 Agustus 2015. Perpustakaan tersebut memiliki sekitar 60.000 koleksi buku dimana sebagian merupakan koleksi sastra Sunda. Selain perpustakaan, yayasan juga mengadakan pusat pendidikan dan pelatihan terkait perkembangan kesusasteraan Sunda. TEMPO/Prima Mulia

    Sastrawan Ajip Rosidi saat menghadiri peresmian Perpustakaan Ajip Rosidi yang dikelola Yayasan Pusat Studi Sunda di Bandung, Jawa Barat, 15 Agustus 2015. Perpustakaan tersebut memiliki sekitar 60.000 koleksi buku dimana sebagian merupakan koleksi sastra Sunda. Selain perpustakaan, yayasan juga mengadakan pusat pendidikan dan pelatihan terkait perkembangan kesusasteraan Sunda. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Seniman Butet Kartaredjasa mengenang sastrawan dan budayawan almarhum Ajip Rosidi sebagai sosok yang mengenalkannya dengan dunia sastra. Butet bercerita saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, dia membaca buku-buku puisi dan novel terbitan Pustaka Jaya yang didirikan Ajip tahun 1971 lalu.

    “Saya membaca sastra pertama kali, novel-novel itu, terbitan Pustaka Jaya. Enggak ada Pak Ajip, ya, saya enggak membaca sastra,” ujar Butet kepada Tempo lewat sambungan telepon pada Rabu malam, 29 Juli 2020. 

    Ajip Rosidi, kata Butet, memiliki pengaruh yang besar dalam perkembangan dunia seni di Indonesia. Ia menggambarkan Ajip sebagai seorang sastrawan hebat yang mampu mengelaborasikan idealisme seninya sebagai basis ekonomi.

    Ajip juga merupakan salah satu tokoh awal yang mengawal berdirinya Taman Ismail Marzuki. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1972-1981.

    Menurut Butet, pada medio 1970-an, Ajip Rosidi menjadi muara bagi seniman yang datang ke Ibu Kota. Setelah mendirikan Pustaka Jaya, saat ini menjadi Dunia Pustaka Jaya, Ajip menampung para pelukis untuk membuat halaman depan dari buku-buku yang hendak ia terbitkan

    “Tokoh-tokoh Rendra semua itu datangnya ke Pak Ajip. Kalau butuh duit, ya, ke Pak Ajip karena dia relatif secara ekonomi mapan. Pelukis-pelukis Jakarta itu bermuaranya ke Pak Ajip,” ujar Butet. 

    Ajip Rosidi meninggal pada Rabu malam, 29 Juli 2020, sekitar pukul 22.30 WIB, pada usia 82 tahun. Ia meninggal dalam perawatan pascaoperasi di Rumah Sakit Umum Daerah Tidar Kota Magelang, Jawa Tengah. Sebelumnya, Ajip menjalani perawatan selama sepekan terkahir akibat terjatuh di rumah anaknya di Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. Dalam keterangan salah seorang anak kandungnya Nundang Rundagi, Ajip harus menjalani operasi karena perdarahan di otak setelah terjatuh. 

    Semasa hidupnya, Ajip menaruh minat besar terhadap perkembangan bahasa dan sastra Sunda. Dia telah menghasilkan ratusan karya dalam bentuk buku maupun publikasi tulisan. Ajip meraih gelar doktor kehormatan, honoris causa, bidang ilmu budaya dari Universitas Padjadjaran pada 2011.

    ADAM PRIREZA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proses Pembuatan Vaksin Virus Corona Dibanding Klaim Obat Hadi Pranoto

    Hadi Pranoto mengklaim obat herbal Antibodi Covid-19 berbeda dengan vaksin virus corona. Proses pembuatan vaksin memakan waktu setidaknya 12 bulan.