Tangkal Hoaks COVID-19, Yosi Project Pop: Saring Sebelum Sharing

Reporter:
Editor:

Nunuy Nurhayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Yosi Project Pop ditemui usai konferensi pers Konser Gue 2 di Gang Potlot, Duren Tiga, Jakarta Selatan, 3 Februari 2017. Konser ini akan digelar pada 4 Februari besok. TEMPO/Dini Teja

    Yosi Project Pop ditemui usai konferensi pers Konser Gue 2 di Gang Potlot, Duren Tiga, Jakarta Selatan, 3 Februari 2017. Konser ini akan digelar pada 4 Februari besok. TEMPO/Dini Teja

    TEMPO.CO, Jakarta - Artis sekaligus influencer Hermann Josis Mokalu atau lebih dikenal dengan nama Yosi Project Pop khawatir dengan maraknya infodemik yang berisi berita tidak benar atau hoaks dan rumor mengenai COVID-19 di tengah masyarakat. Pasalnya, hal itu dapat memperburuk situasi pandemi itu sendiri.

    Yosi, yang juga Ketua Umum Siberkreasi mengatakan laju penyebaran berita hoaks itu sering terjadi karena seseorang tidak memeriksa kembali saat membagikan ke orang lain dan tidak memahami tentang dampak dari informasi itu sendiri ke depannya. Yosi pun mengajak agar masyarakat lebih bijak saat menerima dan menggandakan informasi.

    Menurut Yosi, kendati sudah diedukasi untuk mendeteksi suatu berita hoaks atau tidak, namun terkadang karena terburu-buru, seseorang bisa saja tanpa sengaja menyebarkan berita hoaks.

    "Kadang-kadang kita terlalu terburu-buru. Saya aja pernah sharing sesuatu karena terlalu terburu-buru, untung diingatkan sama teman, langsung saya hapus. Kalau di grup WA dalam waktu satu menit itu bisa kita tarik atau delete kan. Mudah-mudahan dalam waktu satu menit itu belum ada yang menyebarkan," ujar Yosi di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, seperti tertuang dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Sabtu, 18 April 2020.

    Selain itu, kata yosi, ada juga orang membaca berita lalu di bawahnya ada judul hoaksnya. "Ini bener nih karena dari berita. Tapi begitu kita mulai memperhatikan ternyata ini tempelan, ini contoh gimana kita gampang tertipu," kata Yosi.

    Yosi mengatakan, apabila kabar hoaks sudah terlanjut tersebar, maka peluang untuk dapat ditarik kembali sangat kecil dan sulit sekali. Oleh karena itu Yosi juga berharap agar masyarakat dapat menyaring terlebih dahulu informasi yang diterima sebelum kemudian meneruskan ke orang lain.

    "Ketika hoaks sudah tersebar diluar sana, akan sulit untuk ditarik kembali. Lebih mudah untuk mencegah dan mencegah dimulai dari diri sendiri dengan menyaring sebelum sharing,” kata Yosi Project Pop.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.