Jadi Tamu Deddy Corbuzier, Fadli Zon: Pemerintah Salah Diagnosa

Reporter:
Editor:

Istiqomatul Hayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon, berbicara kepada wartawan selepas rapat paripurna, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta. Selasa 28 Mei 2019. Tempo/ Fikri Arigi.

    Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon, berbicara kepada wartawan selepas rapat paripurna, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta. Selasa 28 Mei 2019. Tempo/ Fikri Arigi.

    TEMPO.CO, Jakarta - Fadli Zon meminta Presiden Jokowi mengalihkan anggaran proyek pembangunan ibu kota baru untuk menangani wabah Corona. “Proyek-proyek bisa ditunda semua anggaran untuk Covid termasuk memberikan makan orang yang terdampak, buruh, ojol, pedagang itu yang terdampak,” kata dia saat menjadi tamu podcast di kanal Youtube Deddy Corbuzier yang tayang pada Ahad, 5 April 2020. ‘

    Fadli menuturkan, pemerintah tak ada pilihan lain selain mengambil opsi lockdown. “Ujungnya mau apapun, ekonomi akan hancur, karena semua negara kena. Kalau lockdown dulu, beberapa minggu akan terasa, tapi segera comeback,” ucapnya menanggapi pertanyaan Deddy opsi apakah yang paling tepat diambil pemerintah.

    Menurut Fadli, pemerintah itu salah mendiagnosa dari awal. Ia membenarkan pertanyaan Deddy Corbuzier yang membaca dari sebuah artikel bahwa imbauan social distancing tidak akan memecahkan masalah dan hanya akan memunculkan bom waktu saat pasien yang terinfeksi makin banyak dan dokter kewalahan menanganinya.

    Deddy Corbuzier . (YouTube - @Deddy Corbuzier)

    Ia mengklaim sudah mengingatkan Jokowi untuk mempersiapkan penanganan Corona saat wabah itu masih menerjang enam negara pada Januari lalu. “Saya hope for the best, prepare for the worst,” katanya. Fadli menilai, pemerintah telah membuang waktu begitu panjang untuk mempersiapkan diri hingga dua bulan.

     “Tapi kita masih sibuk dengan penyangkalan, banyak melakukan kebodohan, dan bercanda, jadi gak prepare pas badai datang,” tuturnya. “Akibatnya banyak tenaga medis meninggal meskipun itu sudah takdirnya.”

    Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini menuturkan, jika pemerintah lebih siap menghadapi bencana, maka penanganan wabah Corona tidak akan gagap seperti ini. "Lihat Singapura, mereka sudah punya stadium yang dibedakan dengan warna hingga terakhir merah. Kita ini gak jelas protokol mitigasi bencananya," ucapnya. 

    Ia meminta Jokowi lebih mendengarkan saran para ahli di bidangnya. "Politik sudah selesai, yang kita hadapi sekarang jauh lebih besar, ada nasib 270 juta rakyat Indonesia, jadi gak bisa main-main," katanya. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.