Melawak Pakai Kasus Kerusuhan Mei, Pandji Pragiwaksono Ditegur

Reporter:
Editor:

Istiqomatul Hayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pandji Pragiwaksono saat konferensi pers 'Pragiwaksono Stand Up Comedy World Tour 2018' di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Jumat, 16 Maret 2018. (TEMPO/Thea Fathanah Arbar)

    Pandji Pragiwaksono saat konferensi pers 'Pragiwaksono Stand Up Comedy World Tour 2018' di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Jumat, 16 Maret 2018. (TEMPO/Thea Fathanah Arbar)

    TEMPO.CO, Jakarta - Komika Pandji Pragiwaksono mendapatkan kritikan dari salah satu warganet lantaran menjadikan kerusuhan Mei 1998 sebagai bahan lawakannya yang ditayangkan di YouTube. Menurut warganet tersebut, kerusuhan 98 tidak seharusnya dijadikan sebagai bahan tertawaan karena trauma yang dirasakannya sebagai korban belum pulih hingga saat ini.

    "Kepada @pandji. Stand up comedy anda yang baru dirilis di youtube 'Kerusuhan Mei 1998' sangatlah tidak layak untuk dipertontonkan, bahkan untuk dijadikan sebagai 'lelucon'. Trauma yang kami alami masih ada dan belum disembuhkan. Dan dapat dikatakan 'lelucon' anda tidak pantas," tulis akun @elpueblo1998 di Twitter pada Kamis, 26 Maret 2020.

    Dia mengatakan bahwa sampai saat ini kasus Kerusuhan Mei 98 yang memakan banyak korban itu masih belum menemukan titik cerah. Bahkan beberapa pelakunya belum diadili hingga saat ini. "Masih banyak korban yang menyimpan luka. Kami belum sepenuhnya pulih," tulisnya. Menurutnya apa yang dilakukan Pandji membuatnya dan korban lain tambah terluka.

    Maka untuk membuat suasana lebih kondusif, warganet tersebut mengajak Pandji untuk berbincang-bincang membahas hal tersebut sehingga tidak ada pihak yang merasa tersakiti dan dirugikan. Sebagai korban warganet tersebut tidak ingin membuat gaduh namun dia memikirkan korban yang masih trauma atas kejadian Kerusuhan Mei tersebut.

    "Semoga anda membaca tweet ini dan mudah-mudahan kita bisa berdiskusi lebih lanjut. Saya yakin anda paham bagaimana situasi yang terjadi pada tahun 1998, terutama tragedi Mei 1998. Bukan maksud saya untuk marah-marah, tapi sekali lagi, kami masih menyimpan trauma yang dalam," tulisnya.

    Pandji Pragiwaksono dan ibunya (Twitter)

    Adapun salah satu penonton yang hadir saat pertunjukan tersebut secara langsung menjelaskan bahwa Pandji tidak menjadikan korban sebagai bahan lawakan melainkan para pelaku atau penjarah ketika kerusuhan 98.

    "Di mana Pandji memposisikan dirinya sebagi 'mayoritas' yang saat itu represif dan sewenang-wenang terhadap minoritas. Jika dilihat, jokes disampaikan dalam bentuk satire dengan objek pelaku (bukan korban). Untuk memahami apa yang bisa dibercandai atau tidak, silahkan ditonton," tulis akun @kamalbukankemal.

    Namun hal tersebut tidak langsung diterima begitu saja dengan netizen lainnya. "Boleh baca 'trauma yang kami alami masih ada dan belum disembuhkan'. Apapun rumusan komedinya, gak bisa kesampingin sisi trauma orang yang mengalami. Kalian bisa ketawa karena gak ada pengalaman jadi minoritas saat itu," tulis akun @alvinbolang_.

    Kemudian akun @kamalbukankemal tersebut kembali menginformasikan bahwa penonton dalam acara stand up comedy Pandji saat itu tidak ada yang merasa keberatan termasuk lembaga-lembaga yang berorientasi pada pemenuhan hak-hak manusia.

    "Siap. Tapi sepengetahuan saya sih pas show lalu banyak yang nonton dan tidak ada satu orang pun yang protes. Bahkan ada orang LBH, Komnas HAM, dan 'kaum minoritas yang disinggung' (dengan jumlah banyak) ikut nonton langsung. Ambil interpretasi sendiri dari video yang sepotong, ya gapapa," tulis akun @kamalbukankemal.

    MARVELA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.