Miea Kusuma Makan dengan Nyali

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Miea Kusuma, Foto: Tempo/Tony Hartawan

    Miea Kusuma, Foto: Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO Interaktif, Jakarta:    "Eh, suka makanan normal juga, ya?" Sapaan sadistis begini biasa diterima Miea Kusuma ketika antre di restoran. Buat Miea, sapaan seperti itu bukan ledekan, melainkan berkah bahwa orang mengenali acara Extreme Kuliner di Global TV yang dipandunya.

    Miea pantas bangga karena perlu nyali besar untuk memandu acara ini. Dia tak hanya jual kecap memberitakan ragam sajian kuliner yang tergolong aneh dan ekstrem. Ia juga harus mencicipinya. "Ekstrem bisa dari bahannya, cara mendapatkannya, atau pengolahannya," kata Miea.

    Sudah hampir satu tahun Miea jadi pembawa acara adaptasi dari stasiun televisi Travel and Living itu. Awalnya, ketika ditawari casting hingga menandatangani kontrak, istri penyiar Radio OZ, Jakarta, ini tak berpikir panjang. "Baru terpikir di pesawat menuju Semarang untuk makan daging kuda," kata Miea terbahak.

    Selewat episode pertama, semua jadi mudah buat Miea. Segala jenis hewan, mulai dari cacing, jangkrik, sampai mata sapi, pernah dijajalnya. Ada ritual khusus yang dilakukan Miea saat memandu acara ini. Demi mendapatkan ekspresi nyata, Miea wajib ikut semua proses mencari bahan hingga pengolahan makanan.

    Miea punya pantangan saat memandu acara ini. Ia tak ingin melihat kru acara mencoba lebih dulu makanan yang tersaji. "Karena enak atau nggak enak akan terbaca di wajah mereka. Itu akan merusak ekspresi natural saya di depan kamera. Namanya juga reality show," katanya.

    Toh, syarat ini tak mengurangi kejailan Miea menyorongkan makanan yang tersaji kepada kru acara. "Enak aja, masak gue doang yang nyicipin. Semua juga harus coba, dong," katanya terbahak.

    Nah, lucunya, di depan kamera, Miea yang oleh penonton dijuluki si omnivora seksi ini boleh terlihat tegar menelan apa saja yang disajikan. Kenyataannya, Miea juga punya rasa jijik. Reptil, seperti buaya dan cicak, sejauh mungkin dihindarinya.

    Dia perlu konsentrasi penuh untuk menantang dirinya saat disuguhi cicak goreng dan buaya bakar. Meski telah berbekal air mineral dua botol besar, makanan itu terpaksa dimuntahkan kembali. "Teringat cicak di rumah gue," katanya, terbahak, tentang hewan yang konon jadi obat asma itu.

    Miea bersyukur tak punya alergi terhadap jenis makanan tertentu. Inilah salah satu bekal alaminya untuk jadi petualang. Tapi Miea mengelak jika dikatakan watak tahan bantingnya dalam bertualang adalah akibat karakter tomboinya. "Saya tuh tomboi nggak terlalu, girly juga nggak terlalu," kata perempuan yang masa kecilnya lebih banyak dilewatkan dengan jadi gadis rumahan ini. Sebagai anak bungsu, ia sangat dilindungi keluarganya. 

    Miea merasa beruntung, lewat acara yang dipandunya ini, ia lebih mengenal cakrawala budaya manusia Indonesia dengan makanannya. "Makanan itu tergantung mindset kita, kok. Kita bilang jijik, tapi kalau di daerah setempat memang dimakan, mau bilang apa?" katanya.

    Berkat acara ini pula ia pernah tersesat di pedalaman hutan Jambi karena mobilnya terperosok setelah berkunjung ke tempat suku Anak Dalam. "Gue tinggal bisa pasrah, deh, malam itu," ujarnya mengenang saat bermalam di hutan yang masih dihuni beberapa jenis hewan liar, seperti babi hutan dan harimau, itu.

    Yang paling seru, katanya, adalah ketika ia ikut mengendap-endap bersama warga suku Marorimenge di Taman Nasional Wasu, Merauke, Papua. Marorimenge adalah salah satu suku yang masih hidup dengan cara hidup seperti manusia zaman baheula, yakni berburu dan meramu.

    Setelah berburu dengan panah dan tombak selama beberapa hari, Miea pun bisa mencicipi daging kanguru. Rasanya? "Ueeenak banget!" ujarnya sambil membelalakkan mata.

    Dari perburuan itu, Miea juga baru tahu kanguru bukan hewan asli Australia. Di Merauke banyak sekali sebelum pemburu liar menembaki dan memaksa mereka menyeberang ke Papua Nugini.

    Buat Miea, kanguru tak terlalu membuat iba untuk dimakan. Ia hampir tak pernah merasa sedih atau kasihan melihat hewan-hewan yang diburu dan dimakan, kecuali seekor hewan saja. "Tanpa sadar gue sampai menangis," katanya. Beruntung, aksi di daerah Sulawesi Utara itu disepakati untuk tak ditayangkan. "Terlalu sadis, tidak layaklah," ujarnya sambil merahasiakan jenis hewannya.

    Yophiandi

    Fakta tentang Miea:
       1. Paranoid terhadap reptil, seperti cicak dan buaya.
       2. Suka warna abu-abu. "Hitam-putih di dunia nyata itu tidak ada."
       3. Punya obsesi makan kecoa dan kalajengking.
       4. Sedang menyelesaikan buku di balik layar Extreme Kuliner.
       5. Gemar membuat skrip dan ingin membuat film.
       6. Sejak kecil kepincut pada Indiana Jones, membuatnya bermimpi ingin melakukan penggalian dan menemukan budaya peradaban manusia yang hilang.
       7. Ingin mencicipi makanan ekstrem di luar negeri.
       

       Biodata:
       Nama: Raden Ajeng Mira Hendriastuti Kusuma
       Lahir: Bandung, 6 Juni 1979
       Tinggi/berat: 167 cm/48 kilogram
       Anak ke: bungsu dari banyak bersaudara
       Pendidikan: sarjana antropologi Universitas Padjadjaran
       Suami: Angga Suryana Patah
       Profesi: presenter/MC freelance
       Karier: presenter, bintang film pendek dan beberapa klip video, serta bintang iklan (termasuk Koran Tempo)



     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi dan Tantangan Jozeph Paul Zhang, Pria yang Mengaku Nabi Ke-26

    Seorang pria mengaku sebagai nabi ke-26 melalui media sosial. Selain mengaku sebagai nabi, dia juga melontarkan tantangan. Dialah Jozeph Paul Zhang.