Bela Kalista Iskandar, Sarah Sechan: Pancasila itu Diterapkan

Reporter:
Editor:

Nunuy Nurhayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kalista Iskandar, finalis Puteri Indonesia 2020 asal dari Sumatera Barat. Foto/Instagram/kalistaiskandar

    Kalista Iskandar, finalis Puteri Indonesia 2020 asal dari Sumatera Barat. Foto/Instagram/kalistaiskandar

    TEMPO.CO, Jakarta -Kalista Iskandar, finalis 6 besar Puteri Indonesia 2020 mendapat komentar negatif dari netizen setelah salah dalam menyebutkan sila ke-4 dan ke-5 Pancasila di malam Grand Final Pemilihan Puteri Indonesia 2020 di Jakarta, Jumat, 6 Maret 2020.

    Saat itu perempuan dengan nama lengkap Louise Kalista Wilson Iskandar ini menjawab pertanyaan dari Ketua MPR RI Bambang Soesatyo yang menjadi salah satu juri. Setelah kejadian tersebut banyak yang menghujat perempuan keturunan Tionghoa dan Amerika Serikat ini melalui cuitan di Twitter.

    Menanggapi hal tersebut, presenter Sarah Sechan juga ikut memberikan suara melalui instagram pribadinya. Menurutnya dalam kasus ini masyarakat harus melihat terkait poin inti dari Pancasila. Ia pun membandingkan antara menghafal dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

    Ia juga menuturkan bahwa metode pembelajaran di sekolah dulu dan sekarang itu sudah berbeda. Jika dulu masih lekat dengan menghafal, maka sekarang sekolah lebih menuntut para siswanya untuk praktik di lapangan untuk belajar secara langsung.

    "Kalau sekarang saya tanya Rajata tentang Pancasila, bisa jadi dia juga gak hafal. tapi apakah dia paham betul Tuhan hanya satu dan Tuhan mengajarkan semua agama tentang kebaikan? I hope so. diskusi kami di rumah tentang kepercayaan tidak pernah mengenai bahwa agama yg kami peluk lebih baik dari yang lain," tulis Sarah pada keterangan foto yang ia unggah di instagram pada Sabtu, 7 Maret 2020.Sarah Sechan dan suaminya, Neil G. Furuno. Twitter.com

    Ibu satu orang anak ini juga menceritakan perihal kisah sang anak, Rajata, yang memilih untuk bermain dengan siswa berkebutuhan khusus saat jam istirahat. Menurut cerita Sarah, Rajata memilih bermain dengan anak tersebut karena anak itu hanya ditemani oleh suster dan Rajata sudah menganggap anak tersebut sebagai adiknya sendiri. "Kids with autism are close to genius, ibu," ucap Rajata kepada ibunya saat itu.

    Sarah juga menceritakan tentang rasa menghormati orang tua yang selalu dipraktekan anaknya. Tidak hanya kepada orang tua, Rajata juga selalu mengucapkan terima kasih kepada asisten rumah tangga dan sopir mereka. Ia juga terbiasa memeluk mereka saat keduanya akan pulang di sore hari.

    Selain itu Rajata juga memiliki rasa empati terhadap orang-orang disekitarnya. "Waktu kecil setiap Rajata dapat uang lebaran atau angpao, dia akan berbisik ke saya 'aku boleh kasih ke bibi? dia lebih perlu, aku kan masih kecil, gak perlu uang karena ada ibu'," tulis Sarah menambahkan.

    Oleh karena itu perempuan kelahiran Bandung 45 tahun silam ini mengaku tidak perlu memaksa anaknya untuk menghafal Pancasila selama ia bisa menjadi manusia yang baik untuk sekitara. "Saya tidak membutuhkan anak saya untuk menghafal Pancasila ketika dia mengerti bagaimana menjadi manusia yang baik dan berfungsi dengan baik di masyarakat," tulisnya.

    "Sekarang banyak yg hafal Pancasila. tapi penerapannya gimana? dan coba tebak? ditanyai dan dihakimi di depan jutaan orang itu tidak pernah mudah," tulis Sarah menegaskan pernyataannya.

    M RYAN H


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.