Aktor Teater Mohamad Sunjaya Dimakamkan di Sirnaraga Bandung

Reporter:
Editor:

Istiqomatul Hayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktor senior Mohamad Soendjaja dalam pementasan Nyanyian Angsa di Bale Rumawat, Universitas Padjadjaran, Bandung. TEMPO/Prima Mulia

    Aktor senior Mohamad Soendjaja dalam pementasan Nyanyian Angsa di Bale Rumawat, Universitas Padjadjaran, Bandung. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Bandung - Aktor gaek teater Mohamad Sunjaya dimakamkan Jumat pagi ini, 14 Februari 2020 di pemakaman umum Sirnaraga Kota Bandung. Jenazah diberangkatkan dari rumah duka pukul 09.00 WIB. Sunjaya wafat Kamis sore kemarin di usia 82 tahun di kediamannya Jalan Terusan Sukamulya nomor 1 Bandung.

    Menurut penjaga rumah itu Romlah, sebelumnya Sunjaya merasa tidak enak makan. Ketika diajak mandi oleh perawat pun menolak. “Karena katanya badannya kedinginan,” ujarnya kepada Tempo Kamis 13 Februari 2020. Sore harinya sekitar pukul 15.30 Sunjaya berpulang di tempat tidurnya. Sebulan terakhir ini kata Romlah lelaki kelahiran Cikalong Wetan Kabupaten Bandung 28 Agustus 1937 itu sudah tidak bisa berjalan.

    Kepada Tempo yang menemuinya 24 Desember 2019 Sunjaya mengaku sakit pembengkakan jantung. Setiap bulan ia rutin periksa ke dokter rumah sakit dan berobat. Nafasnya harus dibantu tabung oksigen pun ketika masih sempat berpentas.

    Yoyon panggilannya mulai berteater sejak SMA. Kiprahnya dalam pementasan berjudul Di Langit Ada Bintang karya Utuy Tatang Sontani pada 1955. Keterlibatannya di dunia teater berlanjut ke Studi Klub Teater Bandung yang didirikan 1958 oleh Jim Lim, Suyatna Airun, dan kawan-kawan.

    Selain menjadi sekretaris umum beberapa periode, Sunjaya ikut main di beberapa produksi Studi Klub Teater Bandung. Diantaranya seperti pementasan lakon JB (Ayub) karya Archibald McLeish pada 1959, Paman Vanya karya Anton Chechov (1961), Melalui Secangkir Teh karya Ralph Watherspoon dan L.N. Jackson (1962).

    Aktor teater Mohamad Sunjaya, 82 tahun, di kediamannya Jalan Terusan Sukamulya nomor 1 Bandung, Selasa, 24 Desember 2019. Sejak bengkak jantung lima tahun lalu, ia harus dibantu tabung oksigen. TEMPO | Anwar Siswadi

    Kemudian Sunjaya pernah berperan di lakon Karto Luwak karya Ben Johnson (1973), Karina Adinda karya Victor Ido (1993), Julius Caesar karya William Shakespeare (1997), Art karya Yasmina Reza (1999. Selain itu juga Nafsu di Bawah Pohon Elm karya Eugene O’Neill (1996), serta Buku Harian Bajingan Tengik karya Alexander Ostrovsky (1996).

    Pada 28 Agustus 1995 Sunjaya mendirikan kelompok teater Actors Unlimited (AUL). Pada 2012 saat berusia 75 tahun Sunjaya menampilkan lakon Nyanyian Angsa dan memerankan tokoh aktor tua bernama Svietlovidoff. Lakon karya Anton Pavlovich Chekov yang diterjemahkan Teguh Karya itu mengisahkan kilas balik kehidupan aktor gaek.

    Selain berteater, Sunjaya berkarya puisi dan menjadi penyiar radio di Radio Mara sejak 1970. Pernah menjadi Pemimpin Redaksi Pusat Pemberitaan PRRSNI Jawa Barat pada 1979, ia dipecat pada 1991. Gara-garanya dia pernah mengirimkan reporter untuk meliput dan menyiarkan demonstrasi mahasiswa dan pemuda di Bandung yang menolak Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB).

    Dia juga dilarang siaran di Radio Mara selama dua tahun oleh penguasa karena kasus itu. Sunjaya termasuk penentang pembredelan majalah Tempo, Editor dan tabloid DeTik pada 1994. Dia ikut mendirikan Institut Studi Arus Informasi yang kini bernama Komunitas Utan Kayu.

    ANWAR SISWADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Misteri Paparan Radiasi Cesium 137 di Serpong

    Bapeten melakukan investigasi untuk mengetahui asal muasal Cesium 137 yang ditemukan di Serpong. Ini berbagai fakta soal bahan dengan radioaktif itu.