Kala Jember Berpesta Jalanan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fully Syafii

    Fully Syafii

    KORAN TEMPO Interaktif, Jember:Jalan Sudirman di sisi selatan alun-alun Kota Jember, Jawa Timur, yang biasa lengang mendadak berubah sesak dan riuh-rendah. Pekan lalu, masyarakat berbaur dalam kemeriahan di dua sisi jalan sepanjang satu kilometer di siang terik itu. Mereka tumpah ke jalan untuk menyaksikan karnaval fashion berskala internasional yang unik dan memukau.

    Aksi 550 peserta Jember Fashion Carnaval (JFC) ke-7 ini memang sukses mencuri perhatian ribuan pasang mata. Mereka antusias menyaksikan peragaan dalam keriuhan karnaval di panggung terpanjang yang diperagakan para model untuk masing-masing defile (parade). Para model tetap bersemangat, tidak menghiraukan peluh bercucuran, riasan yang mulai luntur di sana-sini akibat sengatan panasnya matahari.

    Inilah karnaval budaya yang diusung anak muda daerah Jember, sebuah agenda tahunan yang memikat mata dunia. JFC tahun ini mengusung tema besar “World Evolution” atau evolusi dunia. Sedikit berbeda dengan karnaval-karnaval yang digelar sebelumnya, kini JFC tidak hanya menampilkan parade fashion, tapi juga kelompok marching band. Sementara itu, konsep acaranya tetap sama, yakni memadukan peragaan busana, musik, dan tari. Hanya saja, kelompok marching band-nya mengenakan jas warna cokelat muda berhiaskan bulu warna-warni yang dipadu tata rias dan body painting.

    Dynand Fariz, Presiden JFC, menjelaskan kehadiran kelompok marching band sebagai penyempurna konsep acara ini. "Kami memang sengaja ingin tampil beda. Para penonton tidak hanya disuguhi musik, tapi juga penampilan anggota marching band yang enak dilihat dan didengar," ujarnya.

    Aksi marching band menjadi pembuka penampilan delapan defile JFC tahun ini. Sesuai dengan temanya, kostum para peserta karnaval menggambarkan alam dan lingkungan. Ada Papua, kehidupan bawah laut, dan kostum robot.

    "Kami menyesuaikan tren isu dunia, tahun ini sengaja mengangkat tema evolusi dunia sebagai reaksi dan dampak dari perubahan situasi kondisi serta pemanasan global," ungkap Dynand. Menurut dia, isu kerusakan lingkungan, perubahan perilaku manusia, serta kecanggihan teknologi bukan hanya menjadi milik para ilmuwan, tapi juga milik pencinta fashion.

    Defile Archipelago Papua menyuguhkan kekayaan seni-budaya Papua. Hanya saja di parade ini pesertanya tidak menampilkan koteka. Beragam busana indah dari bumi Cendrawasih itu dikemas dengan konsep inovasi, penuh gaya neo-heritage yang atraktif dan dinamis. Semua busana ditampilkan menggambarkan eksotika alam Papua berhiaskan bulu burung dan aksesori dari bahan alami seperti kulit kayu dan dedaunan. "Kami ingin menyampaikan pesan seni-budaya dari Papua yang harus dilestarikan dan bisa dikembangkan ke dunia internasional," ungkap Dynand.

    Pada tema Barricade disajikan busana dan atraksi yang menggambarkan pasukan polisi dan pengamanan. Aneka busana yang diperagakan menyiratkan upaya membentengi diri dari berbagai ancaman demi menciptakan rasa aman dan damai. Para model mendandani diri dengan berpakaian ala polisi, senjata, police-line, tabung gas, hingga tameng yang dirancang penuh warna.

    Kondisi masyarakat dan bumi yang hidup di dunia serba plastik disajikan pada parade Off-earth. Dengan dominasi warna putih mengkilap yang semuanya menggunakan bahan plastik, menggambarkan manusia metropolitan yang hidup di hutan beton, tanpa pepohonan atau dedaunan hijau nan segar. Trai Okta, 15 tahun, model parade ini, menyajikan penampilan memukau berupa gaun pengantin putih. Dia merancangnya dengan paduan aneka plastik bening, kantong kresek, dan kawat. "Saya ingin tampil dengan gaun bentuk balon, makanya tas kreseknya sengaja disusun dengan bertumpuk," kata siswi kelas III, SMPN II, Jember, yang bercita-cita menjadi model dan ingin karyanya dilihat banyak orang.

    Okta mengungkapkan, ide pembuatan gaun berbahan tas plastik kresek berbentuk balon ini didapatnya dari mengikuti pelatihan yang diselenggarakan tim JFC. Dia menjelaskan karena defilenya menggambarkan kehidupan alami yang sudah mati diganti kehidupan serba plastik, ia menampilkan kreasinya dengan memotong tas kresek warna putih berbentuk diagonal yang dirangkai menjadi satu dengan benang jahit. Selanjutnya, masing-masing untaian disatukan dengan karet gelang sehingga membentuk pakaian berumbai-rumbai.

    Parade Gate-11 menyajikan suasana ruang tunggu sebuah bandara internasional yang dipadati penumpang dari berbagai bangsa. Para model dengan anggun mengenakan busana berbagai negara seperti Indonesia, Cina, India, dan Jepang. Sementara root merupakan peragaan busana yang terinspirasi dari filosofi akar pohon yang memiliki kekuatan luar biasa. Mahbub Djunaidy (Jember)


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.