Panembahan Reso dan Kisah Satu Permintaan Ciputra ke WS Rendra

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Poster pertunjukan Panembahan Reso di Ciputra Artpreneur pada Sabtu , 25 Januari 2020.

    Poster pertunjukan Panembahan Reso di Ciputra Artpreneur pada Sabtu , 25 Januari 2020.

    TEMPO.CO, Jakarta - Pertunjukan Panembahan Reso berlangsung di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan, pada Sabtu malam, 25 Januari 2020. Panembahan Reso adalah sebuah karya sastrawan WS Rendra yang pernah dipentaskan pada tahun 1986.

    Saat itu pertunjukan tersebut digelar selama enam jam non-stop di Istora Senayan, sekarang Stadion Gelora Bung Karno. Kali ini, Panembahan Reso dipentaskan selama tiga jam. Panembahan Reso disutradarai oleh Hanidawan dan diproduseri oleh Auri Jaya, Seno Joko Suyono, dan Imran Hasibuan.

    Adapun seniman teater yang tampil berasal dari Jakarta, Yogyakarta dan Lampung. Mereka di antaranya Whani Darmawan, Sha Ine Febriyanti, Jamaludin Latif, Ruth Marini, Rudolf Puspa, dan Maryam Supraba yang merupakan putri Rendra.

    Putri Almarhum Ciputra, Rina Ciputra Sastrawinata mengatakan keluarga Ciputra turut mendukung pertunjukan Panembahan Reso karena WS Rendra adalah seorang penyair besar. "Ayah saya memandang WS Rendra sebagai sebuah nama besar di dunia sastra. Saya melihat WS Rendra sebagai penyair yang hebat, diakui dunia," kata Rina Ciputra kepada Tempo, Rabu 15 Januari 2020.

    Rina mengatakan memang tidak ditemukan jejak komunikasi langsung antara Ciputra dengan WS Rendra. Meski begitu, nama dan karya WS Rendra yang begitu populer membuat Ciputra meminta dia membuatkan puisi untuk disematkan di sebuah patung yang kini berdiri di Jakarta.

    Patung Pangeran Diponegoro di depan Taman Suropati. Foto: Google Street View

    "Ayah saya tahu dia (WS Rendra) hebat membuat puisi, makanya ayah saya minta dia buatkan puisi," kata Rina Ciputra. Puisi WS Rendra tersebut kini terpatri di bawah patung Pangeran Diponegoro yang tengah menunggang kuda di depan Taman Suropati, Jakarta Pusat.

    Patung Pangeran Diponegoro diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso pada 6 Desember 2005. Patung hibah dari Ciputra itu menempati lahan seluas 3.000 meter persegi, beserta air mancur di bawah patung seluas 110 meter persegi.

    Proses pembuatan sampai penempatan patung yang terbuat dari perunggu itu membutuhkan waktu hampir setahun. Rancangannya diambil dari lukisan Hendra Gunawan, berjudul Pangeran Diponegoro. Lukisan itu diterjemahkan oleh pematung Moenir Pamoentjak menjadi model tiga dimensi, kemudian oleh pematung A. Sunaryo diwujudkan menjadi patung.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cesium 137 dan Bahaya Radiasi Pada Tubuh Manusia

    Cesium 137 adalah bahan radioaktif yang digunakan berbagai industri dan pengobatan. Bila salah dikelola, bahan itu akan menimbulkan sejumlah penyakit.