Dibintangi Tissa Biani, Film Anak Garuda Terinspirasi Kisah Nyata

Reporter:
Editor:

Nunuy Nurhayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Artis Tissa Biani saat ditemui saat pemutaran perdana film Bumi Itu Bulat di XXI Epicentrum Cinema, Jakarta, 02 April 2019. Film Bumi Itu Bulat diperankan oleh Rayn Wijaya, Rania Putrisari, Tissa Biani, Febby Rastanti. TEMPO/Nurdiansah

    Artis Tissa Biani saat ditemui saat pemutaran perdana film Bumi Itu Bulat di XXI Epicentrum Cinema, Jakarta, 02 April 2019. Film Bumi Itu Bulat diperankan oleh Rayn Wijaya, Rania Putrisari, Tissa Biani, Febby Rastanti. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta -Kisah inspiratif selalu datang dari penjuru negeri, salah satunya kisah perjuangan yang ada di Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI). Sekolah ini  mengajak dan mengajar seluruh siswanya untuk memutus rantai kemiskinan secara sistematis dengan menjadikan mereka entrepreneur muda yang sukses di berbagai bidang. Kini, kisah siswa-siswi tersebut diangkat ke layar perak lewat film berjudul Anak Garuda.

    Anak Garuda yang akan tayang di bioskop mulai 16 Januari 2020, terinspirasi dari kisah nyata di Sekolah SPI. Film ini ditulis oleh Alim Sudio dan disutradarai Faozan Rizal dan Verdi Solaiman. Verdi selaku co-sutradara mengaku sangat terkesan dengan kisan inspiratif dari siswa-siswi SPI.

    “Saya ini memang sangat terkesan dengan siswa-siswi SPI ini. Tak cuma sanggup mengatasi hambatan pribadi yang rumit, seperti self-esteem dan percaya diri, mereka semua serius mengasah skill agar bisa jadi usahawan muda yang sukses, lalu mereka juga mampu membentuk tim kerja yang efisien dan valuable," tutur Verdi, seperti tertuang dalam siaran pers yang diterima Tempo, Selasa, 14 Januari 2020.

    Tempaan yang diterima siswa-siswi menjadikan mereka pribadi yang berintegritas walaupun masih berusia sangat muda, kisah tersebut dinilai layak untuk dibagikan dan dijadikan teladan “Saya rasa, ini perlu disampaikan kepada masyarakat, karena ini kisah nyata dan kisah sukses” tambahnya.Aktor Verdi Solaiman. TEMPO/Nurdiansah

    Cerita bermula saat Julianto Eka Putra sang inisiator (biasa dipanggil Koh Jul) mengajak 7 anak dengan latar belakang (suku, agama dan ras) berbeda – Sheren, Olfa, Wayan, Dila, Sayidah, Yohana, dan Robet menjadi satu tim yang membantunya mengelola operasional sekolah dan unit-unit bisnis.

    Namun untuk menyatukan mereka bukan persoalan sederhana. Pertengkaran dan keributan silih berganti, mulai dari salah paham hingga rasa iri dan cemburu. Tambah lagi, bibit-bibit cinta terpendam di antara mereka, menambah munculnya potensi perpecahan.

    Inginkan mereka semua bisa mandiri, Koh Jul melepas ketujuh anak tersebut berangkat ke Eropa tanpa didampingi. Di Eropa, semua yang ditakutkan, menjadi kenyataan. Pertengkaran dan keributan meledak, perpecahan di depan mata. Di Eropa, ketujuh anak muda ini, harus bersama-sama membangun kembali fondasi kebersamaan yang sebelumnya dibangun Koh Jul, sambil menjalankan tugas belajar mereka di Eropa.

    Sederet nama bintang muda yang tengah bersinar pun diminta memerankan tujuh tokoh nyata ini. Diantaranya Tissa Biani akan berperan sebagai Sayidah, Violla Georgie sebagai Yohana, Ajil Ditto sebagai Robet, Clairine Clay sebagai Olfa, Geraldy Kreckhoff sebagai Wayan, Rania Putrisari sebagai Sheren, Rebecca Klopper sebagai Dila dan Kiki Narendra yang berperan sebagai Koh Jul.

    Rizky Mocil, Fatih Unru, Jenny Zhang dan Krisjiana Baharudin juga akan ikut ambil bagian dalam film perdana produksi Butterfly Pictures ini.

    Film yang mengambil lokasi syuting di Kota Batu Malang dan beberapa kota di Eropa ini tidak akan hanya bercerita tentang anak-anak muda remaja yang sedang mengejar cita-cita. Film ini juga memberi gambaran bahwa peran orang tua sebagai pemberi arahan tak kalah penting. Dari hal tersebut film ini dinilai cocok untuk semua khalangan.

    M RYAN HIDAYATULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).