Film Nyanyian Akar Rumput Bisa Ditonton Mulai Kamis Besok

Reporter:
Editor:

Istiqomatul Hayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Cuplikan adegan dalam trailer film Nyanyian Akar Rumput yang diputar di Kampus Universitas Aisyiyah, Sleman, Yogyakarta, Minggu sore, 12 Januari 2020. TEMPO | Pito Agustin  Rudiana

    Cuplikan adegan dalam trailer film Nyanyian Akar Rumput yang diputar di Kampus Universitas Aisyiyah, Sleman, Yogyakarta, Minggu sore, 12 Januari 2020. TEMPO | Pito Agustin Rudiana

    TEMPO.CO, Sleman- Film Nyanyian Akar Rumput dapat ditonton di sejumlah bioskop secara serentak di Tanah Air mulai Kamis, 16 Januari 2020. Sutradara sekaligus produser film itu, Yuda Kurniawan mengatakan film tersebut berhasil meraih Piala Citra untuk kategori Dokumenter Panjang Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2018.

    "Film ini akan diputar di Cinema XXI di Jakarta, Yogyakarta, Malang, Surakarta, dan Surabaya," kata Yuda Kurniawan dalam diskusi dan screening trailer film Nyanyian Akar Rumput di Hall Baroroh Baried Universitas Aisyiyah, Sleman, Minggu sore, 12 Januari 2020 sore.

    Selain Cinema  XXI, Yuda Kurniawan merasa beruntung karena layar sinema lain juga membuka pintu untuk film dokumenternya. Pengelola  bioskop CGV, Cinepolis, juga Platinum Cineplex yang tersebar di Medan, Palembang, Purwokerto, Bogor, Bandung, Depok, Semarang, juga bakal memutar film Nyanyian Akar Rumput.

    Yuda Kurniawan berharap pemutaran film Nyanyian Akar Rumput ini mengubah pandangan kalau film dokumenter sulit diputar di bioskop. Musababnya, publik terlanjur beranggapan kalau film dokumenter adalah film yang berat dan harus mikir. Dengan begitu, diasumsikan orang akan malas nonton film-film tersebut, kecuali di sejumlah festival film.

    Sutradara film Nyanyian Akar Rumput, Yuda Kurniawan. TEMPO | Pito Agustin Rudiana

    Film dokumenter yang dibuat selama empat tahun sejak 2014 itu mengisahkan sosok Fajar Merah dan kelompok band-nya, Merah Bercerita, juga keluarganya: Sipon ibunya dan Fitri Nganti Wani kakaknya. Fajar adalah bungsu dari penyair Wiji Thukul, salah satu korban penculikan aktivis oleh rezim Orde Baru pada 1997-1998. Nasib Wiji Thukul bersama 12 aktivis lainnya belum diketahui hingga kini, hidup atau mati.

    Fajar yang masih berusia lima tahun ketika bapaknya dihilangkan kemudian merawat ingatan akan sosok bapaknya lewat musik. Puisi-puisi karya Wiji Thukul dinyanyikan. Salah satu yang menjadi lagu wajib sejumlah penampilan di panggung-panggung adalah puisi Bunga dan Tembok. Selebihnya ada Kebenaran akaan Terus Hidup, Apa Guna, dan Derita Sudah Naik Seleher.

    “Lagu-lagu kami bercerita tentang kenyataan yang terjadi di lingkungan kami setiap hari,” kata Fajar dalam salah satu adegan. Tak hanya meraih Piala Citra di FFI 2018, film berdurasi 1 jam 52 menit produksi Rekam Docs itu juga menyabet penghargaan sejumlah festival. Antara lain Pemenang NETPAC Award 2018, Piala Maya kategori Dokumenter Terpanjang Terpilih 2019, pemenang Honorable Mention Award dari Figueira Da Foz Int’l Film festival, Portugal pada 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kobe Bryant Sang Black Mamba: Saya Tak Ingin Jadi Michael Jordan

    Pemain bola basket Kobe Bryant meninggal pada 26 Januari 2020, dalam kecelakaan helikopter di dekat Calabasas, California. Selamat jalan Black Mamba!