Film NKCTHI, Trauma, dan Stereotip Keluarga Ideal

Reporter:
Editor:

Nunuy Nurhayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Poster film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) yang mulai tayang di bioskop pada Kamis 2 Januari 2020. Instagram.com/@auroramanda95

    Poster film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) yang mulai tayang di bioskop pada Kamis 2 Januari 2020. Instagram.com/@auroramanda95

    TEMPO.CO, Jakarta -Sinema kita pelan-pelan mulai berbicara tentang trauma dan ini adalah hal yang patut dirayakan. Sudah terlalu lama kita melabeli trauma dan dampaknya pada kesehatan mental sebagai, "Ah, begitu saja dibesar-besarkan," sehingga kehadiran tema ini dalam film-film populer adalah kabar baik agar kita semakin terbuka membicarakan luka pada tempatnya.

    Pada skala kecil, wacana tentang berhadapan dengan trauma baik untuk kesejahteraan individu. Dalam skala yang besar, mudah-mudahan, kita jadi semakin terbiasa membicarakan trauma sebagai bangsa yang puluhan tahun selalu ditutup-tutupi padahal menggores kita begitu rupa.

    Kita sudah punya film 27 Steps of May oleh Ravi L. Bharwani yang mengangkat trauma korban kekerasan seksual. Lalu, Kucumbu Tubuh Indahku dan The Science of Fiction yang membicarakan trauma tubuh juga tragedi 1965 dengan cara khas masing-masing sutradaranya, Garin Nugroho dan Yosep Anggi Noen.

    Kali ini, Angga Dwimas Sasongko menghadirkan tema trauma yang lebih dekat dengan keseharian dan boleh jadi dialami jauh lebih banyak orang lewat Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini (NKCTHI). Angga membalut tema luka masa lalu dalam konteks keluarga masa kini, masa saat Jakarta sudah punya MRT dan anak muda membicarakan Blackpink dan Bude Sumiyati.

    Film NKCTHI unik karena dibuat berdasarkan sebuah buku laris oleh Marchella FP yang sebenarnya tak berupa cerita, melainkan kumpulan kutipan berima yang indah untuk dijadikan kalimat motivasi atau keterangan foto Instagram. Maka, skenario yang ditulis bersama oleh Angga, Jenny Jusuf, dan Melarissa Sjarif sebetulnya adalah cerita baru. Hanya saja sesekali mereka perlu memasukkan kutipan Marchella untuk punchline karakter dalam film ini. Drama keluarga memang bentuk yang paling tepat agar formula ini dapat bekerja.Poster film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) yang mulai tayang di bioskop pada Kamis 2 Januari 2020. Instagram.com/@auroramanda95

    Keluarga yang menjadi sentral cerita NKCTHI adalah tipikal keluarga nuklir yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak laki-laki dan perempuan. Diawali dengan visual pesawat kertas terbang di langit yang biru dan suara empuk Awan (Rachel Amanda) sebagai narator, penonton yang pengetahuannya masih nol tentang buku maupun film ini bisa saja salah menyangka NKCTHI adalah cerita tentang Awan, tokoh lain hanya pendukung. Ternyata tidak. NKCTHI adalah film keluarga yang tiap anggotanya dipastikan punya porsi untuk muncul ke permukaan.

    Ada tiga latar waktu dengan tiga set aktor berbeda untuk karakter Angkasa, Aurora, dan Awan --anak-anak dalam keluarga ini. Lalu, dua set aktor untuk ayah Narendra dan ibu Ajeng. Karakter keluarga NKCTHI sangat bertolak belakang dengan karakter keluarga Angga sebelumnya, semisal dalam Bukaan 8 yang menggambarkan keberlangsungan sebuah keluarga kecil dapat dipengaruhi faktor-faktor luar seperti tradisi, mertua, atau keterbatasan ekonomi.

    Keluarga dalam NKCTHI dibuat seolah bergerak di dalam ruang vakum. Kita tidak melihat kehadiran orang lain mewarnai keluarga inti itu. Tak ada kakek-nenek, tetangga, atau bahkan sekadar pengasuh atau asisten rumah tangga. Keluarga ini tak tergambar latar belakang sukunya, tak punya masalah ekonomi, semua berpendidikan tinggi dan bercita rasa seni.

    Kondisi vakum ini dapat diduga dihadirkan dengan sengaja untuk mengarahkan bahwa satu-satunya yang dapat mengguncang keutuhan keluarga sempurna ini tak lain adalah luka besar yang dirahasiakan selama dua dekade lebih. Diceritakan, trauma itu mempengaruh tiap anggota keluarga dengan cara berbeda.

    Bangun karakter dalam NKCTHI tertib sekali pada stereotip tentang peran anggota keluarga. Narendra (Donny Damara), si ayah, membuat keputusan dan menentukan ke arah mana keluarga itu berlayar. Ajeng (Susan Bachtiar), si ibu, tersenyum lembut dan siap menenangkan saat percik konflik terlihat.

    Kepribadian yang diproyeksikan pada tiap anak juga tak diniatkan untuk sedikit saja lari dari stereotip karakter anak berdasarkan urutan kelahiran. Angkasa (Rio Dewanto), yang tertua, harus kuat dan menjaga. Aurora (Sheila Dara), yang tengah, harus merasa serba tak menentu karena nyaris tak dianggap ada. Awan, yang termuda, (tak sadar dirinya) manja dan keras kepala. Tiga-tiganya sudah masuk usia dewasa dan tiga-tiganya masih bertahan saja tinggal di rumah ayah dan ibu mereka.
    Poster film NKCTHI atau Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

    Karakter Angkasa, Aurora, dan Awan sebetulnya disiapkan dengan baik lewat segala properti detail untuk menunjang kepribadian masing-masing. Angkasa sebagai penyelenggara acara musik, Aurora sebagai seniman muda yang punya studio pribadi dan mampu berpameran tunggal di usia dini, lalu Awan yang menjadi lulusan terbaik kampusnya lalu magang di biro arsitek ternama.

    Tapi, profesi mentereng itu ternyata tempelan saja. Motif tindakan dan strategi penyelesaian masalah yang dipilih Angkasa, Aurora, dan Awan sangat mengacu pada konsepsi lazim tentang anak pertama, tengah, dan bungsu sehingga dialog mereka tak akan banyak berubah sekalipun profesi mereka diganti menjadi hakim, akuntan, atau wartawan, misalnya.

    NKCTHI sedikit sekali menyentuh bagaimana trauma bersama dapat mempengaruhi keberlangsungan tiap anggota keluarga sebagai individu. Setiap masalah yang dihadapi Angkasa, Aurora, dan Awan berakar dan bermuara kembali pada keluarga.

    Perbandingan yang cukup dekat barangkali dengan film Rumah dan Musim Hujan (Ifa Isfansyah, 2012) yang juga bercerita tentang rahasia keluarga. Film ini memulai dari adegan makan bersama sebuah keluarga besar untuk menunjukkan bahwa akar masalahnya ada pada keluarga itu sendiri. Tapi kemudian kamera mengikuti masing-masing anak untuk menunjukkan bagaimana masalah keluarga itu mengguncang dan menghantui mereka.

    NKCTHI seolah enggan untuk menghadirkan sedikit saja cela dalam salah satu karakter untuk melanggengkan imaji bahwa keluarga ideal adalah yang tetap bersama, tetap saling menyayangi dan menerima, tetap utuh setelah luka.

    Karakter yang paling menarik justru berada di luar keluarga Narendra, dalam rupa Kale (Ardhito Pramono) yang tak kita tahu latar belakangnya tapi menawarkan pandangan individu yang merdeka. "Bahagia itu tanggung jawab masing-masing," kata Kale santai dan tak dapat dipahami oleh Awan yang definisi bahagianya selalu ditentukan oleh keutuhan keluarga.

    Adegan Kale bersama Awan menjadi salah satu bagian paling menyenangkan dalam film ini. Dalam semua filmnya, Angga menunjukkan dia punya indra yang peka pada keindahan sehingga kita bisa memastikan akan mendapat pengalaman visual yang menyamankan mata dan musik yang menenteramkan hati saat menonton.

    Keahlian ini dimanfaatkan dengan maksimal pada adegan-adegan Kale dan Awan. Lihat saja, salah satunya, pada adegan yang paling banyak dibicarakan warganet, yaitu saat di tengah ingar-bingar konser musik, Awan dan Kale menemukan momen intim berdua. Angga mampu membekukan banyak momen dalam satu bingkai adegan yang cantik.

    Namun, untuk urusan klimaks cerita, eksekusinya terasa lemah. Dengan slogan 'Semua keluarga punya rahasia', tergambar bahwa masalah utama yang ingin diselesaikan dalam film ini adalah rahasia yang menggerogoti sebuah keluarga dari dalam. Rahasia yang membuat tokoh ayah begitu keras, tokoh ibu tak begitu terlihat, dan anak-anak kena getahnya. Sutradara Angga Sasongko, Aktris Rachel Amanda, dan Produser Michael Chow dalam konfrensi pers Film NKCTHI di Kantor Visinema, Jakarta. TEMPO/Chitra Paramaesti.

    Rahasia yang selama dua dekade disembunyikan dengan menganggap ia tidak pernah ada tapi terbukti sebenarnya hanya menjadi bom waktu yang daya ledaknya semakin besar seiring waktu berjalan. Namun, saat ledakan itu benar-benar terjadi, terasa canggung lalu surut begitu saja.

    Karena lemahnya ledakan di bagian klimaks ini, muncul pertanyaan, benarkah trauma itu yang membuat keluarga ini digambarkan terbelit masalah-masalah mereka selama dua puluh tahun? Jangan-jangan trauma itu cuma jadi kambing hitam yang mengalihkan kita dari fakta bahwa persoalan utama di keluarga Awan, ya, tak lain tradisi patriarki yang melekat dengan tebal dalam setiap elemen keluarga ini.

    Ayah yang dominan dan ibu yang diam-diam menyelesaikan permasalahan akibat monopoli kepala keluarga adalah praktik yang masih umum terjadi tanpa perlu menunjuk trauma sebagai alasan pemicunya. Anak yang dikondisikan harus berlaku sesuai urutan kelahiran mereka juga sebuah konsepsi yang selayaknya didobrak, bukan dicarikan alasan untuk mewajarkannya. Benarkah trauma yang merusak mereka jika resolusi yang disampaikan di akhir cerita sebagaimana diutarakan tokoh ibu adalah, "Ayah bermaksud baik"? Lagi-lagi kesimpulan ini hanya memaklumi bahwa laki-laki kepala keluarga sudah sewajarnya menjadi pembuat keputusan atas dasar maksud baik.

    Hal yang penting diceritakan tentang hari ini dan sebaiknya tak perlu menunggu nanti adalah bagaimana kita masih menganggukkan kepala pada stereotip keluarga ideal sebagaimana digambarkan dalam NKCTHI. Tak lama setelah tayang, tagar #NCTHIcanrelate yang berisi kesan penonton bahwa setidaknya ada satu tokoh cerita dalam NKCTHI yang merepresentasikan mereka sempat menjadi topik yang trendi.

    Film ini demikian laris karena banyak orang merasa diwakilkan suaranya lewat Angkasa, Aurora, maupun Awan. Namun, semakin banyak yang merasa karakter dalam NKCTHI mewakili persoalan mereka, sesungguhnya kita patut makin gelisah karena itu artinya begitu banyak keluarga yang masih terjebak dalam konstruksi stereotip ideal tentang peran dan fungsi keluarga.

    MOYANG KASIH DEWIMERDEKA

    Judul film: Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini
    Sutradara: Angga Dwimas Sasongko
    Skenario: Angga Dwimas Sasongko, Jenny Jusuf, Melarissa Sjarif (berdasarkan buku Marcella FP)
    Pemain: Rachel Amanda, Sheila Dara, Rio Dewanto, Donny Damara, Susan Bachtiar, Oka Antara, Ardhito Pramono


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.