Selasa, 20 November 2018

Melawan Korupsi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, J: Jakarta dilanda kerusuhan. Biang kerusuhan adalah tikus-tikus berbagai ukuran. Bersama kucing, ribuan orang berusaha memburu tikus-tikus itu. Ada kucing yang berhasil menangkap delapan tikus kecil, ada pula yang terseret oleh tenaga tikus besar. Itulah imaji yang tersaji dalam lukisan karya Suraji berjudul Jakarta Berburu Tikus. Lukisan berukuran 153 x 193 sentimeter itu menjadi spesial karena dinobatkan sebagai pemenang utama ajang Jakarta Art Award 2008. Lukisan itu dipilih oleh sembilan juri yang diketuai Srihadi Soedarsono. "Pemilihannya melalui diskusi dan debat yang panjang," kata Srihadi kepada Tempo seusai acara pemberian penghargaan di Pasar Seni Ancol, Jakarta, Jumat lalu. Anggota dewan juri lainnya adalah Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, pengusaha Ciputra Miranda Goeltom, Nyoman Gunarsa, Efix Mulyadi, Suwarno Wisetrotomo, dan S. Malela Mahargasarie. Srihadi menambahkan, lukisan itu dipilih karena mengangkat tema korupsi yang tengah melanda negeri ini. "Supaya yang melihat bisa lebih aware," ujarnya. Selain tema, kata dia, aspek estetika, imaji, pesan, dan filosofi lukisan menjadi alasan juri memilih lukisan itu. Ajang Jakarta Art Award tahun ini adalah yang kedua, setelah yang pertama digelar pada 2006. Menurut ketua panitia, Aurora Tambunan, telah dijaring 3.456 karya 941 pelukis. Jumlah itu diciutkan menjadi 82 nominasi kemudian dipilih 11 pemenang, yang terdiri atas satu pemenang utama, lima pemenang terbaik, dan lima pemenang penghargaan khusus. Predikat karya terbaik jatuh pada Dinamika Masyarakat Urban (karya Cubung Wasono Putro), Undangan yang Tiada Henti dari Tanah Impian (Melodia), Nyanyian Bisu Sebuah Pintu Jakartaku (Edi Sunaryo), The Chandy Persuasion (Sigit Tamtomo), dan H-7/Mudik Lebaran (Noer Dhami). Sementara itu, yang mendapatkan penghargaan khusus adalah karya Agung Suryanto, Khono Sun, Yun Suroso, I Ketut Sadia, dan Undang Sudrajat.Lukisan Jakarta Berburu Tikus kini dipamerkan bersama 81 lukisan nominator lainnya di Galeri Pasar Seni Ancol sejak 25 Juli hingga 15 Agustus mendatang. Pengunjung galeri bisa menikmati karya-karya seniman yang berasal dari seantero Nusantara dengan berbagai gaya lukis, dari pop art hingga realis. Berbagai tema kritik sosial menjadi sajian utama para seniman tersebut. Sebut saja, misalnya, lukisan Undangan yang Tiada Henti dari Tanah Impian karya Melodia yang mengangkat tema urbanisasi, H-7/Mudik Lebaran karya Noer Dhami tentang sumpeknya stasiun, rel, dan kereta api oleh para penumpang yang membludak hingga di atas gerbong, atau tentang pencemaran laut dalam lukisan Teluk Jakarta karya Undang Sudrajat. Kepada Tempo, Suraji mengatakan lukisan bertema antikorupsi itu dibuat karena tema tersebut adalah masalah utama saat ini. "Hanya (melukis) itu yang saya bisa. Itu merupakan salah satu suara seniman," ujar pria kelahiran Bantul yang pernah meraih honorable mention di Hyogo Competition Painting (2005), Jepang, ini. TITO SIANIPAR

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Sisi Gelap Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman

    Kasus pembunuhan Jamal Khasoggi yang diduga dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi membuat dunia menyorot empat sisi gelap Mohammed bin Salman.