Seniman Suprapto Suryodarmo Wafat dan Disemayamkan di TBJT

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jenazah seniman asal Solo, Suprapto Suryodarmo disemayamkan di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo , Senin 30 Desember 2019. Seniman dari Padepokan Lemah Putih Karanganyar itu meninggal karena serangan jantung pada Ahad dinihari kemarin. TEMPO | Ahmad Rafiq

    Jenazah seniman asal Solo, Suprapto Suryodarmo disemayamkan di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo , Senin 30 Desember 2019. Seniman dari Padepokan Lemah Putih Karanganyar itu meninggal karena serangan jantung pada Ahad dinihari kemarin. TEMPO | Ahmad Rafiq

    TEMPO.CO, Solo - Seniman Suprapto Suryodarmo meninggal pada Minggu, 29 Desember 2019 karena serangan jantung. Saat ini, jenazah seniman asal Solo itu disemayamkan di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo sebelum diperabukan di Delingan, Senin 30 Desember 2019.

    Iring-iringan pengantar jenazah dari Rumah Duka Thiongting tiba di TBJT tepat pada tengah hari. Mereka disambut oleh Wali Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo serta sejumlah seniman yang telah menunggu.

    Sebelum dibawa ke Delingan, beberapa seniman menarikan 'Umbul Donga', sebuah tarian pengantar doa. Keluarga juga menggelar upacara pelepasan jenazah dengan tata cara agama Buddha. Seorang seniman asal Solo, Sardono W Kusumo mengatakan Suprapto adalah seniman yang telah mengembangkan seni gerak. "Dia banyak diundang untuk mengajar seni gerak ke luar negeri," katanya.

    Kecintaan Suprapto Suryodarmo terhadap seni dan Budaya Jawa, menurut Sardono, sangat terpengaruh lingkungan saat kecil. "Kami berdua tinggal di Kampung Kemlayan," katanya. Pada masa lampau, kampung tersebut merupakan tempat tinggal para seniman dari Keraton Kasunanan Surakarta.

    Jenazah seniman asal Solo, Suprapto Suryodarmo disemayamkan di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo , Senin 30 Desember 2019. Seniman dari Padepokan Lemah Putih Karanganyar itu meninggal karena serangan jantung pada Ahad dinihari kemarin. TEMPO | Ahmad Rafiq

    Saat berbincang dengan Tempo, lima tahun silam, Suprapto Suryodarmo mengaku terlahir dari sebuah keluarga pembatik di Kampung Kemlayan. Dia kemudian tertarik dengan tarian Jawa. Dia lantas banyak berlatih gerak bebas.

    Sekitar tahun 1975, Suprapto Suryodarmo menggagas sebuah pertunjukan yang menggabungkan tari, wayang, suluk, gamelan, mantra, hingga seni rupa. Dari situ lahir karya kolaborasi dengan beberapa seniman lain berupa Wayang Buddha.

    Menariknya, Wayang Buddha lahir melalui kolaborasi sejumlah seniman dari berbagai kultur dan agama. Ada banyak seniman yang terlibat, seperti Hajar Satoto, Rustopo, Blacius Subono, Rahayu Supanggah, dan sejumlah seniman lain.

    Jenazah seniman asal Solo, Suprapto Suryodarmo disemayamkan di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo , Senin 30 Desember 2019. Seniman dari Padepokan Lemah Putih Karanganyar itu meninggal karena serangan jantung pada Ahad dinihari kemarin. TEMPO | Ahmad Rafiq

    Suprapto Suryodarmo juga menggagas acara Srawung Seni Candi, sebuah acara seni untuk penyambutan tahun baru di Kompleks Candi Sukuh. Acara tersebut digelar secara rutin selama 15 tahun terakhir.

    Pada akhir Desember besok, acara tersebut akan digelar untuk ke-16 kalinya. Sejumlah seniman dari dalam dan luar negeri akan tampil. "Acara akan tetap berlangsung meski Mbah Prapto meninggal," kata Retno Sayekti, seniman dari Padepokan Lemah Putih.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.