Dewi Uma pun Selingkuh

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, : Sebuah lakon dimulai dari tengah-tengah penonton. Seorang perempuan bertubuh langsing membungkuk menyapu dengan ijuk di sela-sela kaki penonton yang duduk rapi hingga ke panggung. Tak lama berselang, cerita utama diambil alih seorang dalang bertubuh tambun yang berdendang mengisahkan ceritanya dari panggung. Sang dalang itu adalah Slamet Gundono. Ahad malam lalu, ia membawakan wayang lindur bertajuk "Ruwatan Sadewa Sudamala" tentang si perempuan itu, Dewi Uma, di Selasar Budaya Tirto Utomo, Graha Tirtadi, Jakarta. Pertunjukan selama sekitar satu jam yang rata-rata dihadiri pasangan yang berusia lanjut itu diselenggarakan oleh Yayasan Tirto Utomo.Dalam Kidung Sudamala dikisahkan, Dewi Uma kecewa dengan kehidupan rumah tangga bersama suaminya, Manik Maya. Uma kemudian berselingkuh dan ketahuan oleh Batara Guru. Akibatnya, bidadari Uma dikutuk menjadi sosok raksasa betina bernama Bathari Durga. Belakangan, Sadewa berhasil mengubah Durga kembali menjadi wujud asli Dewi Uma yang cantik bak bidadari melalui proses ruwatan. Slamet mengangkat persoalan domestik berupa ketidakpuasan istri terhadap suami yang berakibat perselingkuhan ke panggung wayangnya. Tema sosial itu dikaitkan dengan kisah pewayangan yang menjadi ciri khas Slamet, yang dikenal sebagai dalang eksentrik. Ia juga menyinggung berbagai persoalan mutakhir negeri ini, seperti korupsi dan perubahan rezim.Dalam pertunjukan itu, Slamet memboyong sejumlah benda di luar pakem wayang tradisional ke panggung: travel bag, topi, kaleng, goni, hingga pakaian penari Indah Panca Priantiningrum yang mengenakan "you can see" hitam. Dekorasi panggung didominasi ijuk. Kulit batang pisang digantung bersama ijuk. Selendang merah turut menjadi hiasan bersama belasan tokoh wayang yang disusun berderet di layar tak terpakai.Keunikan karya seni Slamet bukan hanya itu. Unsur humor selalu menjadi hiasan di setiap penggalan kisahnya. Belum lagi kepiawaiannya menembang dan memainkan ukulele yang serasi dengan nada gamelan yang dihasilkan kelompok Kendang Kukuh Widyasmoro. Suaranya yang merdu membuat pertunjukan itu menjadi "lezat" dinikmati bersama narasi yang didendangkan.Kelebihan lain dalang kelahiran 1966 ini adalah menggabungkan kisah wayang dan kisah nyata yang dialaminya, misalnya ketika ia bertemu dengan seorang berkebangsaan Tibet di Berlin, Jerman, yang tengah mengamen dengan alat musik tradisional. Ia pun berkomentar sembari menirukan suara alat musik yang dimaksud: "Kayak tahlilan." Sesaat kemudian, ia mengkolaborasikan tembang Jawa dengan gumaman si Tibet bernama Monha itu. Slamet juga menghadirkan teater wayang, yakni penggabungan permainan wayang dengan aksi teatrikal pemusiknya. Aksi komunikatif dengan penonton juga salah satu ciri khas pada setiap penampilan Slamet. Lihatlah, misalnya, penari yang memerankan Dewi Uma, Wangi Indira, menghampiri dan melibatkan penonton dalam pertunjukan itu. Slamet mampu menghadirkan lakon wayang kontemporer yang segar dan sarat dengan kondisi kekinian. Eksplorasi kreatif Slamet telah menelurkan berbagai jenis wayang lainnya, misalnya wayang air dan wayang suket. "Saya selalu bereksperimen dan terus mencari (yang baru)," ujarnya kepada Tempo seusai pementasan. Menurut dia, setiap pertunjukan wayangnya selalu berangkat dari tradisi yang ditafsir ulang dengan gagasan sekarang. "Gagasan masa lalu juga banyak yang kuat dan bisa diadopsi." TITO SIANIPAR

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.