Adon Keluar Dari Base Jam, Setelah 25 Tahun Bersama

Reporter:
Editor:

Istiqomatul Hayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Adon Saptowo. Instagram/@adonsaptowo

    Adon Saptowo. Instagram/@adonsaptowo

    TEMPO.CO, Jakarta - Adon Saptowo atau yang lebih dikenal dengan Adon Base Jam, menyatakan keluar dari Base Jam, kelompok musik yang telah membesarkan namanya selama 25 tahun ini. Lewat unggahan di Instagram, Adon mengumumkan hal tersebut.

    "Terima kasih Base Jam yang kusayangi, untuk semua cinta dan kebahagiaan, untuk semua senyuman, tawa, lara, dan tangisan, untuk masa indah, kenangan dan persahabatan yang tak pernah lekang," tulis Adon, Minggu, 29 September 2019.

    Adon tidak mengungkapkan alasan ia hengkang dari band yang begitu populer di era 90-an ini. Namun, Adon mengatakan ini merupakan waktu yang tepat untuk mengukir jalan masing-masing.

    Selama 25 tahun bersama, tentunya Adon memiliki banyak kenangan bersama para personel Base Jam. Ia mengatakan tidak terasa ketika berdiskusi untuk memilih nama Base Jam sebagai kelompok musiknya sudah puluhan tahun yang lalu.

    Ia juga teringat pertama kali masuk dapur rekaman bersama kawan-kawannya. "Berteriak ketika radio melantunkan lagu Bermimpi, seolah kita sudah sampai di unjung mimpi," tutur dia.

    Base Jam pertama kali teken kontrak dengan PT. Musica Studios, dan merilis album pertama, Bermimpi (1996) dan album kedua 2 (1997) dan ke tiga Ti3a (1998). Pada tahun 2015, Base Jam merayakan 21 tahun berkaryanya Base Jam. Dan ini ditandai dengan munculnya album baru mereka yaitu Base Jam Reunion 21 Tahun.

    Semula personel Base Jam terdiri dari Adon Saptowo (Vokal), Sigit Wardana (Vokal), Adnil Faisal (Gitar), Ardi "Aris" Isnandar (Gitar), Bambang "BS" Sutanto (Drum), Intan "Anya" Putri Werdiniadi (Keyboard) dan Ardhini "Sita" Citrasari (Bass).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.