Pesan Perdamaian

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Suara lolongan anjing, angin menderu, dan layar kain putih yang bergoyang menampilkan imaji tengkorak menciptakan suasana mencekam. Siluet tubuh muncul oleh cahaya merah menunjukkan kemarahan. Bersama tengkorak, amarah dan lambang maut itu bermain-main di luasnya putih kain yang terus bergoyang. Tak berapa lama berselang, suara tembak-menembak senapan ditampilkan bersama siluet bayangan manusia bersenjata. Suasana perang semakin nyata dengan hadirnya suara pesawat, bom, dan teriakan histeris korban. Berbagai warna yang disorotkan ke kain putih lebar itu menambah dramatis suasana dengan musik yang mencekam. Sesosok tubuh telanjang tersuruk keluar dari layar dengan napas terengah-engah. Itulah cuplikan awal penampilan Teater Mandiri dalam lakon yang berjudul Zero di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu malam lalu. Selama sekitar satu jam, kelompok teater pimpinan Putu Wijaya ini menyajikan lakon yang mengetengahkan tema konflik dan perdamaian tersebut. "Dengan dalih mencari perdamaian, (sebagian) orang melakukannya dengan cara berperang," kata sutradara Putu Wijaya kepada Tempo. Lakon ini, kata Putu, berangkat dari kondisi sosial Indonesia dan dunia yang dihantui oleh berbagai konflik. Perang yang hanya membawa kesengsaraan bagi semua pihak tetap berlangsung dengan berbagai alasan. Zero, kata Putu, hadir untuk mengajak manusia kembali ke titik nol tanpa keinginan tertentu, kecuali saling menghormati dan mencintai sesama. "Kita harus menghapuskan sekat-sekat untuk berada pada titik nol," ujarnya. Pesan tersebut disampaikan Teater Mandiri, yang terdiri atas Yanto Kribo, Alung Seroja, Ucok Hutagaol, Wendy Nasution, Kardi, Agung Wibisana, Umbu, Taksu, dan lainnya, melalui penampilan yang apik. Visualisasi indah dengan permainan imaji dan tata cahaya yang menyala indah menghasilkan penampilan jempolan. Dua pemegang lampu yang bergerak bebas di depan panggung pun ikut menjadi bagian dari permainan teater yang berdiri sejak 1991 ini. Hal itu masih didukung oleh tata suara yang ditukangi Wahyu Sulasmoro. Berbagai jenis suara, seperti auman harimau, musik tribal, dan gelembung air, memperindah lakon yang tengah dimainkan. Penyatuan tata cahaya dan suara memberi kehidupan pada cerita tanpa dialog yang dimainkan. "Kami memang menghindari komunikasi verbal. Semuanya hanya simbol agar bisa diterima secara universal," kata pria yang bernama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya ini. Lakon Zero sebenarnya sudah pernah dimainkan Teater Mandiri pada 2003 di berbagai negara, seperti Jepang, Taipei, Hong Kong, Mesir, dan Singapura. Penampilan kali ini, kata Putu, telah mengalami sejumlah perubahan dan penambahan. Setelah tampil di GKJ, Teater Mandiri bertolak menuju Republik Ceko untuk tampil di Praha dan Bratislava dalam rangka 50 tahun kerja sama kebudayaan Indonesia-Ceko. "Kami berencana berkolaborasi dengan pemain teater lokal di sana," ujar seniman kelahiran 11 April 1944 ini.Persentuhan dengan berbagai budaya semacam itulah yang memperkaya Teater Mandiri. Setidaknya, pesan perdamaian dari Indonesia mampu disampaikan lewat karya seni, seperti pesan yang terkandung dalam lagu Harry Roesli yang menjadi penutup lakon Zero tersebut, Jangan Menangis Indonesia. ... Janganlah menangis, Indonesia Janganlah bersedih, Indonesia Kami berdiri membelamu Pertiwi... TITO SIANIAR

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    7 Tips Agar Lebih Mudah Bangun Sahur Selama Ramadan

    Salah satu tantangan selama puasa Ramadan adalah bangun dini hari untuk makan sahur.