Perempuan Ini Suarakan Perdamaian dari Ahmadiyah di Galeri Seni

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rahma, penganut Ahmadiyah bersama poster kampanye perdamaian yang dibuatnya dipamerkan saat peringatan Hari Perdamaian Dunia di Gedung Societed Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu, 21 September 2019. TEMPO | Pito Agustin Rudiana

    Rahma, penganut Ahmadiyah bersama poster kampanye perdamaian yang dibuatnya dipamerkan saat peringatan Hari Perdamaian Dunia di Gedung Societed Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu, 21 September 2019. TEMPO | Pito Agustin Rudiana

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Seorang perempuan tengah duduk dengan mengenakan mukena membelakangi kamera. Di sampingnya tergeletak sejumlah bantal tanpa sarung, juga tas, dan kardus berukuran besar. Seorang bocah duduk di dekatnya. Turut merenung dalam ruangan luas beralas karpet hijau.

    Tampilan yang sama juga tergambar di sisi lain. Sejumlah orang berbaring, beraktivitas, di antara tumpukan tas dan kardus besar. "Inilah gambaran ratusan jemaat muslim Ahmadiyah Lombok yang diusir dari rumah. Selama 12 tahunn mereka tinggal di kamp pengungsian karena imannya dianggap berbeda," begitu tertulis sebagai keterangan foto.

    Sebuah tulisan berhuruf kapital dengan ukuran lebih besar terlihat lebih mencolok: Sudahkah hak kebebasan berkeyakinan dipenuhi?

    Pembuat poster foto, Rahma, 47 tahun, mengisahkan, orang-orang dalam foto di poster itu adalah penduduk Sasak asli yang terusir dari kampung halamannya karena menganut Ahmadiyah. Mereka mengungsi di Gedung Transito, Lombok, Nusa Tenggara Timur sejak Februari 2007.

    "Sampai gedung itu dibuat sekat-sekat dari kain. Seperti bilik-bilik. Melahirkan juga di situ," kata Rahma yang juga seorang jamaat Ahmadiyah Qadiyani kepada Tempo di Gedung Societed, Kompleks Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu malam, 21 September 2019.

    Pada bagian bawah foto tersemat slogan Ahmadiyah dalam bahasa Inggris: Love for All, Hatred for None. "Itu kata lain dari Islam yang Rahmatan lil alamin. Teroris, ekstrimis bukanlah ajaran Islam karena Islam itu mendamaikan," kata Rahma yang membuat dua poster. Selain poster yang memotret kehidupan para pengungsi Ahmadiyah di Gedung Transito tadi, Rahma juga membuat sebuah poster tanpa gambar dan berisi tulisan Stop The Hate.

    Poster kampanye perdamaian yang dibuat Rahma, penganut Ahmadiyah, dipamerkan dalam peringatan Hari Perdamaian Dunia di Gedung Societed Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu, 21 September 2019. TEMPO | Pito Agustin Rudiana

    Poster berbingkai kayu itu dipajang selama sehari bersama poster-poster lain dalam peringatan Hari Perdamaian Dunia 21 September. Ada poster yang menyuarakan pelecehan seksual yang rentan menimpa perempuan tanpa pandang bulu, termasuk di kampus. Poster yang mengkritisi pemakaian cadar di kampus dengan tulisan yang cukup menggelitik: Diskriminasi atau Antisipasi?

    Poster-poster tersebut adalah hasil workshop cipta karya bertajuk Youth Stage for Jogja Full of Tolerance yang digelar lembaga swadaya masyarakat Solidaritas Perempuan atau SP Kinasih pada Juli - Agustus 2019. Selain kelas pembuatan media berupa poster dan video, juga ada kelas musik dan teater. Rahma memilih mengikuti kelas membuat poster sebagai media kampanye perdamaian. Pesertanya anak-anak muda maksimal 25 tahun.

    Rahma mengaku sempat ragu untuk turut serta karena dia Ahmadiyah dan sebagian besar pesertanya adalah anak muda. "Ternyata panitia antusias menerima," kata Rahma dengan wajah ceria. Selama proses kelas yang berlangsung empat hari tiga malam itu, Rahma bergaul dengan anak-anak muda milineal.

    Kekhawatiran akan muncul perbedaan sikap dan perlakuan karena dia menganut Ahmadiyah, tidak terbukti. Justru banyak anak muda yang bertanya kepada Rahma segala sesuatu tentang Ahmadiyah. Kepada mereka, Rahma menjelaskan, Ahmadiyah adalah salah satu aliran penganut Islam sebagaimana Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama.

    "Anak-anak muda ini baik-baik semua. Jauh dari yang saya pikirkan," kata Rahma. Dia pun bersyukur karena generasi muda ini mendapatkan informasi tentang Ahmadiyah langsung dari penganutnya, bukan dari media sosial atau sumber informasi tak langsung lainnya.

    Kondisi yang sama juga dirasakan Rahma sejak pindah ke Yogyakarta dua tahun lalu. Bersama keluarganya, mereka hidup rukun dengan tetangga sekitarnya. "Kami terbuka sebagai Ahmadiyah. Bahkan ibu saya ikut pengajian di mana-mana dan kami diterima masyarakat dengan baik," kata Rahma.

    Koordinator Program SP Kinasih, Sana Ullaili mengatakan gelaran workshop cipta karya itu menjadi ajang anak-anak muda berekspresi, menyampaikan pengalaman tentang perlakuan diskriminatif, ketidakadilan dan beragam kegelisahan tentang keberagaman yang pernah dialami. "Biarkan anak muda dan perempuan mengungkapkan cara pandang mereka tentang agama, keyakinan, budaya, identitas gender, dan ekspresi berperspektif perempuan dan kemanusiaan," kata Sana.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.