Pantomim Jenaka

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, : Empat utas pita putih menjulang membentuk piramida terbalik. Di bagian puncak piramida yang ada di tengah panggung diletakkan sebuah bangku hitam. Musik berupa petikan gitar bernada riang menggema di seluruh ruangan. Tak lama berselang, sesosok pria dengan rambut keriting berwarna putih masuk dan duduk di bangku tersebut. Pertunjukan pantomim itu dikemas dalam tajuk "Les Petites Estapes du Bonheur" (Kebahagiaan Sederhana Penuh Makna). Acara ini digelar di Gedung Kesenian Jakarta, Jumat malam lalu. Pemainnya adalah Philippe Bizot, asal Prancis, tampil sekitar satu jam menghibur penonton yang sebagian besar keluarga bersama anak-anak kecil. Pertunjukan Bizot dibagi menjadi beberapa bagian kecil yang diberi nama, seperti Perpisahan, Gigi Susu, Pantai, Di Kelas, dan Sirkus. Tema yang diambil berdasarkan kehidupan sehari-hari dipresentasikan Bizot dalam bahasa lakon dengan keindahan gerak tubuh, tanpa dialog. Bizot menyampaikan pesan lewat gerak atau komunikasi nonverbal secara jenaka dengan daya imajinasi unik yang mengundang senyum, bahkan tawa.Misalnya, ketika memainkan lakon Gigi Susu, Bizot menyisipkan kisah peri gigi yang datang untuk menggantikan gigi yang ditaruh di balik bantal dengan uang. Bizot memulai dengan gerakan mencopot gigi, lalu meletakkannya di balik bantal. Ketika bangun tidur, Bizot mendapatkan uang dan menyimpannya di kantong. Sisipan jenaka dimasukkan Bizot melalui gerakan mencabut gigi yang lebih banyak lagi guna mendapatkan uang yang juga lebih banyak. Kemampuan improvisasi Bizot juga cemerlang. Pada bagian kedua pertunjukannya, dia mempersilakan penonton memintanya melakukan gerakan apa saja. Berbagai permintaan dipenuhinya, seperti bermain skateboard, berjalan di bulan ala Michael Jackson, bermain sepak bola, dan burung mau bertelur. Ia selalu menyisipkan adegan jenaka pada setiap lakon yang dimainkan, yang dihadiahi derai tawa penonton. Bizot adalah seniman pantomim Prancis yang legendaris dan dikenal di berbagai negara. Kariernya berpantomim selama lebih dari 30 tahun dimulai sejak usia dini. Selain sebagai pemain pantomim, Bizot dikenal sebagai pengajar, sutradara, dan aktor. Ia memainkan peran utama dalam film berlatar revolusi Prancis, Marquis (1989). Selain sebagai pekerja seni, Bizot terkenal dengan kedermawanannya terhadap orang-orang yang kurang beruntung. Bagi Bizot, semua orang memiliki hak yang sama untuk menikmati dan menunjukkan kemampuan seninya. Dalam rangka itu, Bizot sering kali mengadakan pertunjukan bagi para tunarungu, tunagrahita, dan lainnya. Sebelum tampil di GKJ, pada sore harinya Bizot tampil di depan anak-anak cacat. Bizot telah membidani kelahiran beberapa sekolah pantomim di berbagai belahan dunia, seperti Prancis, Bolivia, Afrika, dan Pakistan. Rencananya, bersama Pusat Kebudayaan Prancis, ia juga akan mendirikan sekolah pantomim di Indonesia. "Saya punya cita-cita membentuk grup pantomim terbaik dari berbagai negara, ras, dan agama," ujar peraih hadiah utama Festival Teater Dunia di Chili pada 2003 ini. TITO SIANIPAR

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapolri Keluarkan 11 Langkah dalam Pedoman Penerapan UU ITE

    Kepala Kepolisian RI Jenderal atau Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengeluarkan pertimbangan atas perkembangan situasi nasional terkait penerapan UU ITE.