Pertentangan Yin dengan Yang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, : Tubuh pria botak itu terbaring di atas sebuah cermin dengan kedua tangan telentang di utara dan selatan. Di sudut lain panggung, seorang perempuan dengan pakaian abad pertengahan berdiri sunyi. Dari gerakan lambat, ia menuju koreografi yang bergerak cepat. Gelang logam di tangannya memantulkan cahaya ke semua penjuru, seakan menyapa penonton untuk memberi perhatian. Itu awal penampilan dua penari kontemporer asal Polandia, Joanna Czajkowska dan Jacek Krawczyk, di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu malam lalu. Mereka mempersembahkan tarian berjudul Alchemist of Hallucination. Tarian ini merupakan interpretasi mereka terhadap puisi karya sastrawan Polandia, Zbigniew Herbert (1924-1998), berjudul Mr Cogito. Menurut Atase Kebudayaan Polandia, Maria Lukaszuk, pementasan itu digelar berkaitan dengan ditetapkannya tahun 2008 sebagai tahun Herbert oleh Parlemen Polandia. "Karena tahun ini tepat sepuluh tahun Herbert meninggal," ujar Maria kepada Tempo. Penampilan ini, Maria menambahkan, merupakan penampilan pertama mereka di Asia. Herbert adalah sastrawan yang cukup berpengaruh di Polandia. Ia dikenal sebagai penulis puisi, drama, esai, dan seorang moralis. Pemikiran utamanya adalah tentang Cogito, yang membenturkan dunia nyata dengan dunia maya dalam pribadi seseorang. Obyek yang tampak, menurut Herbert, tidak sama dengan esensi yang terkandung. Ia bahkan mengobservasi diri sendiri melalui sebuah cermin, untuk mengetahui kenyataannya. Karya itulah yang diterjemahkan Joanna dan Jacek dalam sebuah koreografi tari yang apik. Menurut Joanna, Alchemist of Hallucination adalah bagaimana pertentangan dua hal selalu hadir dalam diri manusia, seperti baik dan buruk serta Yin dan Yang. "Ini merupakan jawaban atas pertanyaan bagaimana hidup di dunia modern tanpa kehilangan sisi spiritual," ujarnya. Herbert, kata Joanna, mengajak untuk tetap mengingat masa lalu, terutama tentang bagaimana peradaban manusia. Dari situ bergerak menuju masa depan yang lebih baik. Menghadirkan pertentangan atau konflik dalam diri sendiri untuk memilih yang baik dan buruk, tutur Joanna, diperlukan untuk menjadi manusia yang lebih baik. Konsep itulah yang dihadirkan sepasang penari dari Occasion Dance Theatre tersebut. Pada satu bagian tarian, tubuh mereka menyatu dalam irama yang indah bak kisah cinta sepasang manusia. Ketika cahaya terang terpendar, keduanya menjaga jarak dan menjauh hingga si cewek hilang dalam kegelapan. Si cowok tinggal sendirian dan bergerak cepat penuh emosi sesuai dengan iringan musik tekno yang juga cepat. Pada bagian berikutnya, tiga garis cahaya vertikal seakan memisahkan keduanya dalam ruang berbeda. Keduanya bergerak perlahan, dipertemukan, kemudian bergerak seperti merefleksikan konflik. Kata-kata robotik keluar di antara alunan musik psychedelic, seperti chemistry, pollution, art, help, two worlds, dan who has better art has better government. Gerak itu berakhir setelah keduanya jatuh tengkurap di lantai. Lampu padam. Penampilan perdana duo penari itu membuat penonton mengernyitkan dahi. Filosofi yang dikandung memang dalam. Belum lagi gerakan mereka yang bertenaga selama sekitar 43 menit bukanlah hal yang gampang. Setidaknya, itulah interpretasi mereka (dan Herbert) atas ucapan filsuf kenamaan, Rene Descartes (1596-1650), "Cogito ergo sum." Aku berpikir maka aku ada. l TITO SIANIPAR

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.