Kejutan Tohpati

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Ruangan gelap. Cahaya biru dan ungu kemudian berpendar dari panggung yang tirainya perlahan terbuka. Belasan orang sudah siap pada posisi memegang alat musik masing-masing. Tak lama kemudian, Tohpati muncul dan langsung mengundang tepuk tangan membahana. Bersama timnya, Tohpati, yang mengenakan kemeja cerah dan celana putih, langsung memainkan komposisi Country. Itulah secuil pemandangan awal konser "Tohpati & String Ensemble Concert" di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Kamis malam lalu. Selama lebih dari satu setengah jam Tohpati tampil menghibur penggemarnya membawakan 15 lagu yang diambil dari album Tohpati hingga It’s Time. Bahkan satu nomor yang tak ada di ketiga albumnya juga dimainkan, yakni Change. Semuanya kental dengan karakter jazz. Malam itu Tohpati didukung Aminoto Kosin (piano), Edwin Saladin (keyboard), Indro (bas), Yesaya Sumantri (drum), Sonyol (marimba, vibrafon), Iwan Wiradz (perkusi), Eugene Bounty (clarinet, sax), dan Sutha (vokal). Lebih dari 20 pemain biola dari Gee String ikut meramaikan konser yang sebagian besar dihadiri penonton yang masih mengenakan pakaian kerja tersebut. Tapi tak sulit menemukan liukan nada petikan gitar Tohpati di antara ramainya suara alat musik lainnya. Sebagai salah satu gitaris terbaik Indonesia, teknik Tohpati tidak perlu diragukan lagi. Pria bernama lengkap Tohpati Ario Utomo itu menunjukkan kualitas nomor wahidnya. Misalnya ketika membawakan lagu Dewata, gitar Tohpati bisa cocok dengan seruan kecak-kecak yang datar dan bertempo tinggi. Pria kelahiran 21 Juli 1971 itu sudah memulai karier gitarnya sejak berusia 14 tahun, ketika ia menggondol predikat Gitaris Terbaik pada Festival Band se-Jakarta. Pada 1989, ayah dua putri itu kembali meraih predikat Gitaris Terbaik Festival Band se-Jawa dan Gitaris Terbaik pada ajang Yamaha Band Explosion se-Indonesia. Karier profesionalnya dimulai dengan membentuk grup jazz Simak Dialog bersama Riza Arshad, Arie Ayunir, dan Indro Hardjodikoro pada 1993. Grup ini telah melahirkan tiga album, yakni Lukisan, Bauk, dan Trance/Mission. Selain itu, Tohpati tergabung dalam grup Trisum bersama Balawan dan Dewa Budjana. Pada akhir 1990-an, Tohpati memulai karier solonya dan menelurkan album perdana, Tohpati, yang berkolaborasi dengan penyanyi Shakila dan Glenn Fredly. Album kedua bertajuk Serampang Samba lebih menonjolkan musik instrumental yang dinilai lebih idealistik dan progresif dibanding album perdananya. Adapun album terbarunya, It’s Time, baru dirilis pada April lalu. Tohpati menuturkan bahwa dirinya sudah lama ingin mengadakan konser solo perdananya. "Jadi sekaligus mempromosikan album terbaru juga," ujarnya kepada Tempo. Dalam kesempatan itu, ia juga mengutarakan kegelisahannya terhadap industri musik Tanah Air yang kurang memberikan apresiasi terhadap musik instrumentalis. Minimnya peran industri musik terhadap instrumentalis juga dinilai sebagai salah satu penyebab kurangnya minat masyarakat. Meski demikian, Tohpati tetap melangkah sebagai salah satu musisi instrumentalis. Konsistensinya di jalur instrumentalis ditunjukkan dengan penampilan gemilang malam itu. Tapi salah satu yang menjadi catatan dalam penampilan itu adalah kurang maksimalnya tata cahaya. Beberapa kali cahaya salah menyorot Tohpati yang sedang berbicara di panggung. Di akhir acara, Tohpati memberi kejutan: ia memainkan komposisi medley Gembala dan No 1, yang tidak ada di daftar acara, sebagai penutup konsernya. | TITO SIANIPAR

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?