Jiwa yang Bebas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, :Ketika kebebasan manusia terbelenggu. Ketika tubuh tak lagi bebas bergerak dan langkah terpenjara oleh norma. Ketika manusia merayakan impian kebebasan itu pada sebatas kanvas. Gejolak itulah yang mengilhami perupa Ida Bagus Putu Purwa membuat lukisan manusia berseri, yang dipamerkan di Galeri Elcanna, Jakarta, bertajuk "Breakout", 15-28 Mei 2008 lalu. Aksi-aksi tubuh yang dilukisnya merupakan ekspresi yang terlibat dalam pencarian kebebasan. Dalam lukisan Bebas, Let Me Fly, dan Seperti Burung, contohnya, Purwa terinspirasi oleh satu model berupa seorang pria berwajah badut yang bertelanjang dada, bercelana hitam, dengan tubuh berotot dan ideal. Dalam lukisan bertajuk Bebas, seorang pria melompat dengan ekspresi berteriak. Dalam Let Me Fly, pria bertampang misterius merentangkan kedua tangan dan kakinya. Sedangkan dalam Seperti Burung, seorang pria berlagak seperti burung, punya paruh buatan dan sayap kecil yang nemplok di punggung. Tak hanya kebebasan yang diusung untuk diperdebatkan perupa kelahiran Sanur, Bali, 31 tahun silam ini. Ia juga hendak menyampaikan sebuah kekuatan dalam hati tentang dunia, seperti dalam lukisan berjudul Menembus Batas, yang menggambarkan seorang pria berlari seakan ingin menembus batas kasat mata. Tak tahu batas apakah itu, karena latarnya hanya sebuah cipratan cat minyak hitam keabu-abuan. Lukisan berseri yang hanya berwarna hitam-putih tak hanya bercerita tentang keinginan jiwa, tapi juga kegigihan meraih sesuatu. Upaya itu terangkum dalam lukisan bertajuk Menerjang Badai. Jika dicermati, gerakan dan ekspresi si pria ini serupa dengan lagak penari di atas panggung. Sejuta arti.Tak hanya lukisan dengan sejuta gerak tubuh, Purwa juga membuat lima rangkai lukisan dengan judul yang sama: Ringkih, meski lima lukisan itu hanya bergambar seorang pria dengan gerak tubuh abstrak. Lukisan itu seakan bercerita tentang kesengsaraan hidup. Dalam Ringkih 3 dan Ringkih 4, seorang pria membungkukkan tubuhnya dengan kepala yang oleng. Sedangkan dalam Ringkih 4, wajahnya menengadah. Tampak guratan perih dari mata terpejam dan kepala yang ditahan dengan tangan. Kurator pameran, Arif Bagus Prasetyo, menilai gerak-gerak tubuh dalam lukisan Purwa merupakan perpaduan harmonis dengan alam. Memang, tubuh yang diguratnya kerap bersenyawa dengan awan, bulan purnama, angin, hujan, daun, bunga, batu, ataupun burung. "Citra tubuh dan citra alam berinteraksi secara organis," dia menuliskan dalam katalog pameran. Pameran ini bukan yang pertama bagi lulusan Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Denpasar, pada 1998 itu. Ia memulai pamerannya pada 2002 di Krobokan, Bali, dalam pameran bertajuk "Trouble". Pameran luar negeri pun disambanginya, seperti di Melbourne, Australia, pada 2005. l AGUSLIA HIDAYAH

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.