Nasionalisme Leo Kristi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, :Taicing:Ada 20 lagu yang dinyanyikan Leo dalam konser Kebangkitan Bangsa. ... Tanah pusaka tanah yang kaya Tumpah darahku di sana kuberdiri Di sana kumengabdi dan mati dalam cinta yang suci ... Lagu berjudul Salam dari Desa itu dibawakan Leo Kristi di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Selasa malam lalu. Selama lebih dari dua jam, ia menyapa penggemarnya yang ramai hadir dalam konser "Seabad Kebangkitan Indonesia" itu. Bahkan, sebagian penonton terpaksa berdiri dan duduk di tangga.Panggung kecil teater itu pun terasa sempit dengan sekitar 20 mikrofon yang ditaruh secara acak, delapan gitar akustik dan alat musik lainnya, serta tiga tong perak. Suasana kekeluargaan menyeruak dalam bentuk sentilan dan celetukan penonton yang selalu disahuti Leo. Penampilan diawali Komunitas Saskri pimpinan Aryo. Mereka terdiri atas tiga vokalis perempuan, tiga gitaris akustik, satu pemain bass, dua pemain kendang, seorang pemain suling, dan seorang penabuh simbal. Setelah itu, Leo, yang mengenakan jaket hitam mengkilap, celana putih berkilauan, dan topi hitam, tampil berduet memainkan gitar akustik dengan seorang perempuan muda bernama Rian. Bersama big band-nya, musisi asal Surabaya bernama asli Leo Imam Sukarno ini kemudian membawakan lebih dari 20 lagu hasil karyanya sendiri, seperti Kereta Laju, Lewat Kiara Condong, Lengganglenggong Badai Lautku, Memorial Sudirman, Gulagalugu Suara Nelayan, dan Salam dari Desa.Pada kesempatan itu, Leo, yang bersalin mengenakan helm hijau dan jaket pink dengan bulu putih pada bagian ujung kupluknya, memperkenalkan konsep kebangkitan versinya sendiri. "Malam ini bukan malam kebangkitan nasional saja, tapi juga harus memiliki sikap progresif patriotisme," ujar mantan personel Lemon Trees (bersama Gombloh dan Franky Sahilatua) ini. Lirik-lirik puitis lagu Leo menyuarakan ketidakadilan sosial, cinta Tanah Air, dan semangat untuk merawat alam. Setiyadi, Ketua Komunitas Penggemar Musik Leo Kristi (LKers), yang mengadakan konser itu, menyebut Leo sebagai seorang yang konsisten menyuarakan keadilan, patriotisme, dan potret orang kecil. Konsistensi sikap, kemandirian, dan semangat cinta Tanah Air Leo ikut menjalar di antara penggemarnya. Pertunjukan tanpa biaya masuk itu diselenggarakan atas sumbangan anggota LKers. "Total dana Rp 61 juta," kata Setiyadi.Leo pun membayar kesetiaan penggemarnya itu dengan penampilan yang prima dan memukau sehingga tak sia-sia salah seorang anggota Lkers, Suliati Boentaran, 47 tahun, terbang jauh dari San Fransisco, Amerika Serikat, hanya untuk menyaksikan Leo tampil. l TITO SIANIPAR

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapolri Keluarkan 11 Langkah dalam Pedoman Penerapan UU ITE

    Kepala Kepolisian RI Jenderal atau Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengeluarkan pertimbangan atas perkembangan situasi nasional terkait penerapan UU ITE.