Presiden Jokowi: TIdak Boleh Lagi Ada Stunting pada Anak

Reporter:
Editor:

Istiqomatul Hayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana. instagram.com/jokowi

    Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana. instagram.com/jokowi

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Jokowi meminta tidak boleh lagi ada stunting pada anak. Sebab, saat ini Indonesia tidak lagi mengandalkan kejayaan sumber daya alam. “Kejayaan minyak dan kayu sudah selesai. Begitu juga kejayaan sumber daya alam. “ kata Presiden Joko Widodo di akun Instagramnya, Jumat, 9 Agustus 2019.

    Menurut presiden, fokus Indonesia ke depan adalah membangiun pondasi sumber daya manusia yang berkualitas. Potensi SDM ini harus bisa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

     “Kualitas SDM itu harus dibangun sejak di dalam kandungan, karena itu tidak boleh lagi yang namanya stunting pada anak,” ucapnya. Kesehatan ibu dan anak menjadi kunci, terutama pada usia emas tujuh sampai delapan tahun.

    Stunting adalah kondisi anak gagal tumbuh. Pemicunya berbagai factor, antara lain kebutuhan gizi dari usia 0 (saat masih di dalam kandungan) hingga dua tahun tidak tercukupi, ibu hamil yang anemia, pernikahan dini hingga menyebabkan organ reproduksi perempuan belum matang benar, dan lingkungin yang dipenuhi asap rokok. Maka, periode anak agar tidak gagal stunting dimulai dari 0 sampai 1000 hari kehidupannya.

    Menurut kakek Jan Ethes ini, hal kedua untuk meningkatkan potensi sumber daya manusia adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. “Bukan hanya untuk membuat generasi muda menjadi pintar dan mampu berkarya. Dan jangan lupa, mencetak generasi Pancasilais yang toleran, dan kokoh bergotong royong,” ujar Jokowi.

    Unggahan Jokowi ini satu jam lalu ini sudah disukai lebih dari 300 ribu orang dan mendapatkan tanggapan 5.000an komentar netizen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi dan Para Menteri di Pusaran Korupsi

    KPK menetapkan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi sebagai tersangka. Artinya, dua menteri kabinet Presiden Joko Widodo terjerat kasus korupsi.