Komposisi Klasik Quatuor Diotima

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, : Mengenakan pakaian serba hitam, empat pria duduk di bangku merah di atas panggung. Di pinggang mereka melilit kain merah. Masing-masing memegang alat musik bersenar dengan alat geseknya. Tak berapa lama, alunan nada keluar dari tarian tangan mereka. Mereka adalah personel Quatuor Diotima. Sabtu malam pekan lalu, di Erasmus Huis, Jakarta, mereka tampil membawakan komposisi-komposisi klasik karya Henri Dutilleux dan Beethoven. Penampilan grup musik gesek asal Prancis selama dua jam itu sungguh memukau. Grup ini terdiri atas Franck Chevalier (alto), Naaman Sluchin (biola), Zhao Yunpeng (biola), dan Pierre Morlet. Mereka kerap tampil dalam pergelaran musik-musik klasik di Eropa dan belahan dunia lainnya. Sejak terbentuk pada 1999, kuartet ini telah memenangi berbagai penghargaan bergengsi, seperti juara FNAPEC (lomba musik kamar Eropa), dan penghargaan kategori musik kontemporer di London. Kuartet yang berisi jebolan konservatori Paris dan Lyon ini mengambil nama grupnya dari karya Luigi Nuno berjudul Fragmente Stille, an Diotima sebagai penghargaan terhadap si komposer. Mereka menetapkan jalur musik klasik yang dikemas secara kontemporer oleh alat musik gesek. Repertoar klasik dan romantis menjadi andalan mereka. Penampilan mereka malam itu menyuguhkan permainan musik klasik dengan instrumen gesek nomor wahid. Nada melengking tinggi dengan volume rendah menghampiri kuping sekitar 300 penonton yang memadati ruangan konser. Teknik memetik senar juga dipertontonkan, tidak hanya oleh pemain biola tapi juga cello berukuran besar, sehingga menghasilkan nada melompat-lompat. Pada salah satu repertoar, mereka menyuguhkan permainan musik yang seakan memiliki alur cerita. Aliran nada bertempo rendah, sedang, dan tinggi mengalir naik-turun dengan begitu indahnya. Pada repertoar lainnya, suasana klasik sangat kentara oleh permainan musik gesek mereka yang apik.Gerakan luwes tubuh yang tercipta berdasarkan alunan nada menandakan jam terbang mereka yang sudah tinggi. Liukan nada dalam harmoni yang indah mengalun dan mengalir membentuk tatanan keteraturan nada. Sebelum Quatuor Diotima, terlebih dulu tampil pianis cilik Randy Ryan yang memainkan komposisi-komposisi karya Chopin dan Debussy. Sekitar setengah jam, bocah 13 tahun juara pertama lomba internasional piano LK-CCO Mozart 2006 di Kuala Lumpur itu menyulap penonton dan membawanya pada suasana klasik yang kental. Sebagai pianis cilik, penampilan Ryan tidak kalah dengan yang senior. Ia menunjukkan ketenangan yang matang dan tidak terburu-buru dalam memainkan komposisi musik. Ia menunggu ruangan hening ketika ada sekelompok orang yang terlambat masuk ruangan. Ia pun mulai menarikan jarinya di atas tuts piano. l TITO SIANIPAR

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi dan Tantangan Jozeph Paul Zhang, Pria yang Mengaku Nabi Ke-26

    Seorang pria mengaku sebagai nabi ke-26 melalui media sosial. Selain mengaku sebagai nabi, dia juga melontarkan tantangan. Dialah Jozeph Paul Zhang.