Mengenang Sharkmove

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, J: Pagi-pagi buta ketika matahari masih "tidur", Soehardjo sudah bangun. Sekitar pukul 05.00, dia sudah berada dalam mobil pribadi yang membawanya dari Banjarnegara, Jawa Tengah, menuju Jakarta. Bersama kerabatnya, perjalanan sekitar 350 kilometer ditempuh Wakil Bupati Banjarnegara ini hanya untuk satu tujuan. "Saya ingin melihat Pak Benny main (lagi)," kata Soehardjo kepada Tempo. Benny yang disebut oleh Soehardjo itu adalah Benny Soebardja, gitaris dan vokalis grup musik Sharkmove. Kamis malam lalu, Sharkmove mengadakan reuni dan tampil di Marios Place, Jakarta. "Saya penggemar berat Sharkmove," kata pria yang mengaku mengoleksi kaset dan poster Sharkmove ini. Bagi sebagian orang, Sharkmove adalah nama yang jarang terdengar. Itu bisa dimaklumi. Pasalnya, kiprah band beraliran progressive rock ini hanya setahun. Terbentuk pada 2 Januari 1970, band yang terdiri atas Benny, Bhagu (vokal), Soman Lubis (keyboard, perkusi), Janto Diablo (bas, flute), dan Sammy Zakaria (drum) ini bubar pada akhir tahun itu setelah kematian Soman akibat kecelakaan. Ghede Chokra's adalah satu-satunya album yang sempat mereka telurkan. Ketika itu, Janto Diablo mengenang, belum ada industri indie label yang kerap menampung band-band baru dan kaset belum populer. Mereka kemudian merekam album itu di Musica Studios. "Kami yang membayar Musica," ujar Janto, 59 tahun. Dicetaklah 1.000 piringan hitam berisi lagu-lagu mereka. Hanya kalangan terbatas yang kini memiliki piringan hitam itu. "Kalau belakangan muncul kaset, kami tidak tahu," ujar Janto, yang kini menetap di Bandung. Setelah bubar, Benny kembali membentuk band baru bernama Giant Step, yang menjadi salah satu grup rock terpenting di Indonesia pada 1970-an dan 1980-an. Sementara itu, personel lainnya menghilang dan larut dalam kesibukan masing-masing sehingga pantaslah jika kemudian Soehardjo dan penggemar Sharkmove lainnya, yang rata-rata berusia di atas 45 tahun dan berkemeja bersih, menyisihkan waktu luang datang ke Marios Place malam itu. Benny tampil memegang gitar dan menyanyikan beberapa lagu andalan mereka. Sedangkab Janto tampil nyanyi bersama Benny dan tidak memainkan bas atau flute. "Sudah capai. Fisik tidak membantu," ujar Janto, yang rambut putihnya menyembul di balik topi. Mereka membawakan enam lagu, yakni Decision, My Life, Evil War, Apatis, Bingung, dan ditutup dengan Madat. Mereka diiringi musik oleh Yahya "Godbless" (drum), Pras (keyboard/), Sangkan (gitar), dan Arci (bas). Permainan gitar Benny patut diapresiasi. "Masih prima dan energetik," kata Soehardjo. Suara Benny juga masih mampu ditarik hingga tinggi, walau memang umur tidak bisa dikompromikan. Secara umum, penonton yang hadir malam itu cukup puas dengan come back-nya Sharkmove, walau cuma oleh dua personel. "Kami kehilangan kontak Sammy di Lampung," ujar Benny. Sedangkan personel lainnya telah lebih dulu dipanggil sang Khalik. Walau telah tiada, grup Sharkmove masih membekas di dada para penggemar progressive rock, terutama era 1970-1980-an. Pasalnya, Sharkmove-lah pengusung genre progressive rock pertama Tanah Air. Seakan menjadi penghargaan untuk itu, tahun lalu, sebuah label rekaman di Jerman, Shadoks Music, membuat master ulang album Ghede Chokra's dan mendistribusikannya dalam bentuk digital dan piringan. l TITO SIANIAR

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.