Pembelaan Tisna

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Let's Go Joget Komando! Begitu judul lukisan yang memperlihatkan sesosok orang yang terbelenggu pasungan berbentuk seperti pagar berwarna loreng tersebut. Sosok itu terpenjara dan tak bisa bergerak. Bahkan dua ujung benda (mirip bambu) yang memasungnya seperti menancap di kepala sosok itu. Di bagian bawahnya, sosok-sosok lain berjoget. Di bagian atas, kijang-kijang seperti berlari.Lukisan berukuran 180 x 130 sentimeter itu adalah salah satu karya perupa Tisna Sanjaya yang kini dipamerkan di Artsphere, Jakarta. Pameran bertajuk "Incarnation" itu berlangsung hingga 8 Mei mendatang. Tisna membawa berbagai persoalan ke dalam karyanya, mulai antiperang hingga perlawanan terhadap kapitalisme. Tengok saja karyanya yang berjudul Viva Arte Povera (dari bahasa Italia yang kira-kira berarti Jayalah Seni Kaum Miskin). Berbagai persoalan sosial bisa disimak dalam karya berukuran 190 x 140 cm itu. Ia meletakkan lambang Pancasila di tengah atas dan diapit dua arit yang pada bagian gagangnya bertulisan "Viva Kapitalismo" dan "Liberalista". Di bagian tengah, terdapat pelat etsa yang sering digunakan Tisna untuk berkarya. Sementara itu, pada bagian bawah, Tisna kembali menghadirkan barang sesungguhnya, berupa cangkul di kiri kanan dan palu di tengah. Pada salah satu papan cangkul, tampak gambar sosok gondrong yang mematahkan senjata dengan tulisan "No more war". Adapun papan cangkul lain memuat foto kuno petani yang tengah memanen jagung dengan plang yang bertulisan "Tanah ini dijual. Hubungi...". Setetes cairan merah mengalir dari gagang palu dan membuahkan sebuah lukisan panorama pegunungan serta sawah yang indah dan harmonis. Palu dan arit, bagi sebagian kalangan, masih merupakan lambang yang menakutkan. Adapun Tisna, yang meletakkan posisi palu dan arit yang tidak berdampingan, membebaskan orang mengartikannya. Ada semacam kemuakan akan sistem ekonomi yang menindas petani dalam Viva Arte Povera itu. Naluri alamiah Tisna adalah menghadirkan kemuakannya dalam karya seni. Tengoklah karya lainnya yang berjudul Viva Kapital, Aura Marhaen!. Degan media arang dan abu, Tisna menggambarkan sosok kegelapan sebagai latar. Kembali alat-alat sesungguhnya dihadirkan, seperti sekop, arit, dan palu. Bagian kiri bercoretan tinta merah "Aura Kapital" dan di kanan "Viva Marhaen". Tidak sampai di situ, simaklah detail coretan yang ditorehkan Tisna. Menurut kurator Rizki A. Zaelani, Tisna berkarya berdasarkan kondisi riil sosial dan ekonomi yang ditemuinya sehari-hari. Tisna, kata Rizki, memiliki pendirian dan komitmen tegas pada keyakinan yang dibelanya. "Setiap pendirian sikap yang dianut Tisna selalu bersifat ideologis dan politis," tulis Rizki dalam pengantar kuratorialnya. Karya-karya yang dipamerkan itu, Rizki menambahkan, menunjukkan penjelajahan Tisna dalam idiom seni lukis dan patung. Karya patungnya menjadi semacam artikulasi ulang dari kutipan yang berasal dari karya grafis etsanya sebelumnya. Adapun pada lukisan, ia memanfaatkan artikulasi efek warna untuk menjadikan beberapa kutipan imajinya tampak makin dramatis. l TITO SIANIPAR

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah KLB Partai Demokrat, Apa Kata AD/ART?

    Sejumlah kader ngotot melaksanakan KLB Partai Demokrat. Kubu AHY mengatakan bahwa pelaksanaan itu ilegal. Pasal-pasal AD/ART Partai dapat menjelaskan.