Kesetiaan Sum 41

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Penonton yang tersiram cahaya ungu seakan diajak berdiri ketika dentuman drum dan simbal dari Steve Jocz menggema. Tak lama berselang, dua temannya yang lain mengisi panggung. Tanpa basa-basi, para personel Sum 41 itu mulai menggoyang seisi Tennis Indoor Senayan, Jakarta, dengan lagu Underclass Hero.Penampilan grup band asal Kanada pada Sabtu malam lalu itu adalah bagian dari tur keliling dunia mempromosikan album terbarunya, Underclass Hero (2007). Sebelum Indonesia, grup yang terdiri atas Deryck Whibley (vokal, gitar), Jason McCaslin (bass), dan Steve (drum) ini terlebih dulu tampil di Korea Selatan dan Jepang. Selama kurang-lebih 90 menit, Sum 41 tampil menghibur fansnya di Indonesia dengan membawakan sekitar 20 lagu. Sebagian besar lagu dalam album terbaru itu dinyanyikan, di antaranya Walking Disaster, Speak of the Devil, dan Dear Father. Lagu-lagu lama yang menjadi hit juga turut menggoyang Tennis Indoor, seperti Motivation, In Too Deep, Fat Lip, Pieces, We're are to Blame, dan Still Waiting. Penampilan Sum 41 malam itu boleh dibilang cukup menghibur dan menghilangkan rasa dahaga penggemarnya. Pasalnya, ini adalah penampilan pertama Sum 41 di Indonesia, juga Asia Tenggara. Deryck Whibley pun seakan mafhum dengan rasa haus penggemar setianya tersebut. Di awal dan tengah pertunjukan, Deryck mengajak beberapa penonton naik dan menemani mereka sepanjang pertunjukan di bagian samping panggung.Boleh dikatakan, sebagian besar dari sekitar 2.500 penonton yang mengisi stadion adalah penggemar setia Sum 41. Mereka, anak-anak muda yang mengenakan kaus oblong dan celana jins melorot serta mengetat di bagian bawah, rela melakukan apa saja yang diminta Deryck, seperti bernyanyi, mengangkat tangan, menggoyangnya, hingga mengucapkan kata-kata tertentu. Walau penonton seperti berada di oasis punk rock, ada beberapa catatan pada penampilan Sum 41 malam itu. Drummer-nya, Steve, seakan tidak berada dalam performa terbaiknya, sedangkan gitaris adisional, Brown Tom, yang minim aksi panggung tidak bisa mengimbangi permainan gitaris terdahulu, Dave Baksh, yang keluar pada 2006. Mengenai kepergian Baksh ini, personel Sum 41 tidak banyak berkomentar. Dalam acara jumpa pers siang harinya, mereka enggan menjawab pertanyaan jurnalis soal Baksh. Namun, Steve memastikan bahwa Sum 41 tidak akan bubar seperti grup punk rock lainnya. Sum 41, kata Steve, juga tidak berniat merekrut gitaris baru pengganti Baksh. "Kami tetap bertiga," ujar Steve. Pakaian yang mereka gunakan malam itu pun seakan menjadi penanda. Tiga personel Sum 41 mengenakan pakaian hitam, sementara Brown Tom sendirian menggunakan kemeja putih.Kesetiaan di antara merekalah yang kini harus dijaga oleh punggawa Sum 41. Penampilan apik Deryck dengan suara prima dan basis Jason yang energetik seakan menegaskan bahwa mereka belum habis dan masih akan terus berkarya. Lagu Pain for Pleasure yang dibawakan terakhir seakan menjadi jawaban bahwa mereka tetap Sum 41 yang dulu, meski Baksh sudah tak lagi bersama mereka.Pasalnya, beberapa pihak meragukan kelangsungan lagu beraliran heavy metal itu pada konser-konser Sum 41 setelah ditinggal Baksh, yang mengalirkan musik milik Judas Priest dan Iron Maiden pada lagu itu, yang boleh dianggap sebagai balasan terhadap kesetiaan dan antusiasme penggemarnya di Indonesia. l TITO SIANIPAR

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.