Tarian Rutinitas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, : Iringan musik pop menyemangati Chie Ito, Masako Ide, Satomi Yamada, Masayo Sato, dan Memi Shinozaki. Lima penari kontemporer asal Jepang ini menari dengan koreografi masing-masing. Dengan gaya yang campur aduk, ada suara "uhu" sahut-menyahut antarpenari yang membahana.Aksi ini merupakan pentas tari kontemporer Strange Kinoko Dance yang diadakan Japan Foundation di Taman Ismail Marzuki pada Selasa dan Rabu malam lalu. Pertunjukan ini mengangkat tema Touching Your Face While You Sleep. Sebuah alur yang menceritakan kebiasaan rutin.Dengan latar penuh potongan kain berwarna kuning dan oranye, mereka muncul dari berbagai arah. Kadang melongokkan kepala di antara kain yang disusun sebagai latar. Tarian para penari pun patuh pada iringan musik yang cenderung berganti-ganti. Mulai dari musik tenang mendayu-dayu, pop, lalu meloncat ke irama cepat rock and roll. Ketika nada mengalun cepat, mereka menari lebih atraktif dengan koreografi yang cepat.Tak hanya menari, mereka pun bercakap dan menyanyi. Nah, ini uniknya. Perbincangan para penari pun dengan menggunakan bahasa Indonesia. "Mako Chan, boleh ke situ," tanya seorang penari kepada seorang lagi."Hari ini panas ya?" tanyanya lagi. Selagi percakapan terjadi, mereka tetap menari.Masih dalam keunikan pertunjukan mereka, seorang penari muncul dari balik latar dengan menggenggam mikrofon. Ia mulai menyanyi. My new day begins, oh just line any other day/The early bird catches the worm so get up early to you/a wonderful morning for the oversleeping-looping people.Bukan sekadar menyanyi, sebuah aksi pun berlangsung kala itu juga. Mereka tetap menari bahkan dengan gerakan yang lebih rumit. Alhasil, mikrofon pun harus dipegangi oleh penari lain. Secara estafet, mereka berganti menyanyi dan memegang pengeras suara itu.Lagu blues dan jazz juga mengalun dalam pertunjukan ini. Ketika lagu ini diputar, sepasang penari berlakon selayaknya pasangan kekasih. Seolah belahan jiwa, mereka berdansa lekat satu sama lain. Seakan berkata, "Jangan pergi, aku membutuhkanmu." Selagi penonton dibuat melankolis, musik pun loncat dengan mengejutkan.Mendadak lagu bergaya Hollywood zaman Marlin Monroe diputar. Cha-cha-cha. Mereka menari dengan gaya lincah dan serempak. Lalu tidur bertumpuk jadi satu. Untuk bagian penutup, ternyata mereka mengulang koreografi pembukaan. Dengan tarian gaya sendiri, kemudian bermuara pada pembentukan sebuah komposisi mirip piramida sekelompok pemandu sorak. Dan tiba-tiba seorang penari kaget dan jatuh pingsan melihat fondasi orang tersebut. Lampu pun padam. Strange Kinoko Dance didirikan Chie Ito ketika menekuni seni tari di Universitas Nihon. Bersama dengan teman sekelasnya, ia mendirikan kelompok tari ini pada 1990. Ito sendiri sudah lekat dengan dunia tari sejak usia 4 tahun. Di usia 18 tahun, ia telah menciptakan koreografi berdurasi 10 menit.Kariernya semakin menanjak. Pada 2000, Ito meraih penghargaan Yokohama Culture Foundation. Ia juga pernah tampil solo dengan karya I Will Dive In din Tokyo pada 2006.Prestasi Strange Kinoko Dance pun mengagumkan. Karya berjudul Frill yang dipentaskan di Tokyo, Paris, New York, Bangkok, dan New Delhi pun menjadi karya terpuji. Sedangkan Flower Picking yang ditampilkan hanya dua hari di Stockholm, Swedia, mampu menjaring 7.000 penonton. Aguslia Hidayah

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?